Liputan6.com, Jakarta - Kanker kolorektal atau usus besar menempati peringkat keempat dalam kasus baru dan kelima dalam kematian terkait kanker dan merenggut lebih dari 19 ribu nyawa setiap tahun di Indonesia. Padahal, kanker ini bisa dicegah dengan menerapkan pola hidup sehat. Termasuk memperbanyak konsumsi sayur dan buah.
"Jadi ini penyakit yang bisa dicegah. Caranya (menerapkan) gaya hidup yang sehat. Ya kan kurangi makan daging-daging, banyak makan sayur, banyak minum, bergerak," kata Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Profesor Ari Fahrial Syam.
Advertisement
Selain itu, Ari juga menyarankan masyarakat untuk mengelola stres, mencegah dan menangani obesitas serta tidak merokok dan tidak mengonsumsi minuman beralkohol.
Namun, menjalankan gaya hidup sehat saja tak cukup. Upaya deteksi dini kanker usus besar perlu dilakukan lewat skrining. Bila kanker usus besar terdeteksi secara dini atau awal maka kasus kanker ini bisa diatasi dengan melakukan pengobatan serta tindakan yang tepat.
Hal tersebut berkaca pada keberhasilan Taiwan yang mampu menekan angka kematian karena kanker sebesar 30 persen serta ditemukan individu dengan stadium lanjut sebesar kurang lebih 30 persen.
"Jadi artinya apa bahwa memang secara kualitas hidup masyarakat Taiwan meningkat dengan jumlah kasus advance yang ditemukan lebih cepat," jelas pria yang juga Ketua Pengurus Besar Perkumpulan Gastroenterologi Indonesia (PB PGI) itu dalam konferensi pers di Jakarta, Sabtu, 30 Mei 2026 mengutip Antara.
Skrining Kanker Kolorektal Lebih Menguntungkan
Di kesempatan yang sama, Kepala Human Cancer Research Centre (HCRC) Indonesian Medical Education and Research Institute (IMERI), Prof. Murdani Abdullah, MD, PhD, FACG,FASGE mengatakan bahwa skrining kanker kolorektal dianggap lebih menguntungkan dibandingkan dengan tidak skrining.
Hal ini tak hanya berkaitan dengan biaya pengobatan akibat kanker kolorektal namun juga mampu menurunkan produktivitas seseorang hingga menekan jumlah kematian akibat kanker tersebut.
Keuntungan lain bila seseorang melakukan skrining kanker kolorektal yakni mempermudah dari sisi pengobatan bila ditemukan dini.
"Kalau sedini mungkin kita tahu pengobatannya tidak berat. Dia cuma mungkin perlu operasi aja. Nggak perlu kemo, tidak perlu radiasi. Kemudian supporting obat-obatnya juga berkurang," kata Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi.
Nadia mengatakan bahwa skrining kanker kolorektal dapat dilakukan masyarakat melalui program pemerintah yakni Cek Kesehatan Gratis (CKG).