Liputan6.com, Jakarta - Melihat orang kejang epilepsi kerap membuat panik dan bingung karena tidak tahu apa yang perlu dilakukan.
Dalam situasi seperti ini, dokter spesialis neurologi RS EMC Alam Sutera, Daniel T. Suryadisastra, menyarankan tujuh langkah penanganan pertama pada pasien epilepsi saat kejangnya kambuh.
Advertisement
“Mengetahui cara penanganan yang tepat sangat penting untuk mencegah cedera saat kejang terjadi,” kata Daniel mengutip laman EMC pada Selasa, 9 Juni 2026.
Berikut langkah-langkah yang dapat dilakukan:
- Pastikan lingkungan sekitar aman dari benda tajam atau keras yang dapat melukai pasien selama kejang berlangsung.
- Posisikan tubuh pasien dalam posisi miring (recovery position) untuk mencegah risiko tersedak air liur atau muntahan.
- Longgarkan pakaian di sekitar leher agar pernapasan tidak terganggu.
- Letakkan sesuatu yang lembut (seperti jaket atau bantal) di bawah kepala untuk mencegah cedera kepala.
- Catat durasi kejang sejak awal hingga berhenti sebagai informasi penting bagi tenaga medis.
- Tetap berada di dekat pasien sampai kejang berhenti dan pasien mulai sadar kembali secara bertahap.
- Setelah kejang berhenti, bantu pasien untuk beristirahat dan pulih dalam posisi yang nyaman.
Hubungi Dokter Jika Terjadi Hal Ini
Epilepsi adalah kondisi saraf atau neurologis kronis yang ditandai dengan kejang berulang akibat gangguan aktivitas listrik di otak.
Epilepsi perlu segera mendapatkan penanganan medis apabila seseorang mengalami kejang berulang tanpa penyebab yang jelas, kehilangan kesadaran secara tiba-tiba, atau menunjukkan gerakan tubuh yang tidak terkendali.
Kondisi ini bisa menjadi tanda adanya gangguan serius pada aktivitas listrik otak yang memerlukan diagnosis lebih lanjut oleh dokter spesialis saraf (neurologi). Pemeriksaan seperti electroencephalogram (EEG) atau magnetic resonance imaging (MRI) biasanya dibutuhkan untuk memastikan penyebab dan jenis epilepsi yang dialami.
Penanganan dini sangat penting untuk mencegah risiko komplikasi, seperti cedera saat kejang atau penurunan kualitas hidup.
“Dengan terapi yang tepat, baik melalui obat antiepilepsi maupun pendekatan medis lainnya, frekuensi kejang dapat dikontrol sehingga penderita tetap dapat menjalani aktivitas sehari-hari secara optimal,” pungkas Daniel.