Liputan6.com, Jakarta - Dokter spesialis anak subspesialis respirologi, Wahyuni Indawati meminta masyarakat mengetahui kualitas udara sebagai upaya untuk menjaga kesehatan pernapasan. Masyarakat dapat mengakses atau memantau informasi mengenai fluktuasi kualitas udara yang kini tersedia melalui berbagai aplikasi.
“Informasi terkait fluktuasi (kualitas udara) kapan buruk, kapan sedikit lebih baik. Jadi, paling enggak kita lebih aware terhadap kualitas udara tersebut,” ujar Wahyuni ditemui di Jakarta, pada Kamis (2/7/2026).
Advertisement
Ketika mengetahui kualitas udara buruk atau kurang baik, sebaiknya mengurangi aktivitas di luar ruangan. Lalu, bila kualitas udara sedang tidak baik dan terpaksa beraktivitas di luar ruangan maka sebaiknya menggunakan masker.
Namun, tak cuma kualitas udara di luar ruangan, dalam ruangan pun perlu diperhatikan. “Jadi ya dari dua aspek itu, baik outdoor maupun indoor pollution tadi, supaya masalah pernapasannya bisa dikurangi,” katanya mengutip Antara.
Bila kualitas udara buruk maka bisa menyebabkan gangguan pernapasan recurrent infection atau sering infeksi. Lalu, pasien yang punya alergi atau asma bisa memicu eksaserbasi atau serangan asma.
Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) ini pun mengatakan kualitas udara yang buruk juga berisiko pada anak dengan gangguan dari bersihan jalan napas karena produksi lendir akan tambah banyak ketika polutan-polutan itu terhirup.
“Contohnya saja ketika asap rokok itu terhirup, maka gerakan yang kita sebut sebagai silia di saluran napas kita itu enggak bergerak, berhenti. Makanya akhirnya jadi grok-grok, lendirnya banyak karena tertumpuk di situ,” tutur dia.
Kualitas Udara Jakarta Tidak Sehat per 2 Juli 2026
Kualitas udara di Jakarta pada Kamis (2/7/2026) pagi tercatat berada dalam kondisi tidak sehat dan menempati peringkat pertama sebagai kota dengan udara terburuk di dunia. Kondisi ini terpantau berdasarkan data situs pemantau kualitas udara IQAir pada pukul 05.50 WIB.
Indeks kualitas udara (Air Quality Index/AQI) di Jakarta berada di angka 174 dengan konsentrasi polutan PM2.5 mencapai 73 mikrogram per meter kubik. Angka tersebut menunjukkan kualitas udara yang tidak sehat, terutama bagi kelompok sensitif seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan.
Dalam kategori tersebut, udara dinilai dapat merugikan kesehatan kelompok rentan serta berpotensi mengganggu hewan sensitif, merusak tanaman, hingga menurunkan nilai estetika lingkungan. IQAir juga merekomendasikan agar masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan, menggunakan masker saat berada di luar, serta menutup jendela rumah untuk mencegah udara kotor masuk.