Liputan6.com, Jakarta - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyoroti tingginya angka anemia pada remaja yang salah satunya berkaitan dengan belum optimalnya edukasi mengenai konsumsi tablet tambah darah (TTD) di sekolah.
Hal tersebut disampaikan Budi dalam sesi diskusi evaluasi acara “Diskusi Publik: Setahun Cek Kesehatan Gratis (CKG) untuk Anak, Apa Selanjutnya?” pada Kamis, 13 Agustus 2026.
Dalam diskusi tersebut, perwakilan Forum Anak Nasional, Ruth, mengatakan, masih banyak siswa yang belum memahami pentingnya TTD.
Advertisement
Menurut dia, anak-anak selama ini cenderung hanya menjadi penerima program tanpa dilibatkan untuk memahami manfaatnya. "Saya dari Papua Tengah, kebetulan dari swasta, tapi teman-teman yang di negeri, di wilayah sulit terjangkau, mereka juga masih belum paham apa itu CKG. Belum paham tentang pentingnya awareness tentang TTD dan lain sebagainya," ujar Ruth.
Dampak Stunting Bukan Sekadar Tubuh Pendek
Menanggapi hal tersebut, Budi mengatakan pemahaman masyarakat mengenai stunting masih terbatas. Menurutnya, dampak stunting bukan hanya terlihat dari kondisi fisik anak yang lebih pendek, tetapi juga dapat memengaruhi perkembangan intelektual.
"Kalau nanti punya anak stunting, pernah dijelaskan nggak apa dampaknya anak stunting? Sebetulnya perkembangan intelektual yang dikatakan jauh di bawah normal. Jadi secara kepintaran, tidak setara dengan kondisi normal," ujar Budi.
Menurut Budi, salah satu upaya pencegahan stunting perlu dilakukan sejak sebelum seorang perempuan menikah dan hamil. Kondisi gizi serta kadar Hemoglobin (Hb) calon ibu perlu diperhatikan untuk mencegah anemia.
"Ibunya jangan kurang gizi dan anemia. Sebelum nanti menikah dan punya bayi, nggak boleh anemia. Karena kalau anemia, nanti anaknya kemungkinan bisa stunting," tambah Budi.
Oleh sebab itu, remaja putri sebagai calon ibu perlu memastikan kadar Hb tetap normal. Salah satu upayanya adalah mengonsumsi TTD sesuai anjuran.
Banyak Siswa Hanya Menerima TTD
Persoalan lain muncul dari sisi penerimaan siswa terhadap program TTD di sekolah. Aluna Kekey, siswi sekaligus anggota Palang Merah Remaja (PMR), mengatakan masih banyak teman-temannya yang hanya menerima TTD tanpa mengonsumsinya.
"Mereka kayak cuma nerima doang, nggak mau diminum gitu. Kayak, ‘ah buat apa sih obat tambah darah?’. Jadi mereka cuma ambil doang tapi dibuang," kata Aluna.
Cerita tersebut menunjukkan bahwa pemberian TTD perlu diikuti dengan edukasi yang membuat remaja memahami alasan mereka perlu mengonsumsinya.
Remaja Harus Jadi Subjek, Bukan Sekadar Objek
Budi pun meminta para ahli dan lembaga terkait mengubah pendekatan edukasi kesehatan kepada remaja. Anak-anak, kata dia, tidak seharusnya hanya menjadi objek program, tetapi perlu dilibatkan sebagai subjek yang memahami tujuan intervensi kesehatan.
"Anak-anak (hanya) jadi objek. Harusnya mereka jadi subjek, jadi mereka tahu 'Kalau nanti menikah, saya mau punya anak pintar-pintar. Karena itu saya nggak boleh anemia'. Jadi anak-anak dilibatkan," ujar Budi.
Dengan pendekatan tersebut, remaja diharapkan tidak sekadar menerima TTD, tapi memahami manfaatnya bagi kesehatan mereka saat ini maupun kehidupan reproduksi di masa depan.
Anemia Juga Banyak Dialami Remaja Putra
Masalah anemia ternyata tidak hanya ditemukan pada remaja putri. Data CKG yang dipaparkan Direktur Research for Human Development (RECONSTRA), Iwan Ariawan, menunjukkan anemia juga banyak ditemukan pada remaja putra.
Pemeriksaan terhadap siswa kelas 1 SMP yang mencakup remaja laki-laki dan perempuan menunjukkan angka anemia berada di kisaran 25 hingga 27 persen.
"Di kelas 1 SMP, karena diperiksa keduanya, baik laki dan perempuan, masalah anemia ini bukan hanya perempuan. Ini di laki-laki juga ternyata sama. Padahal program kita selama ini TTD remaja putri, yang laki nggak dapat," ujar Iwan.
Masalah tersebut berlanjut hingga jenjang SMA. Pada siswa perempuan kelas 1 SMA, angka anemia tercatat mencapai 30 persen. Secara keseluruhan, sekitar satu dari tiga anak usia SMA mengalami anemia.
Iwan, mengingatkan, anemia yang tidak ditangani dapat berdampak pada konsentrasi dan kemampuan belajar anak di sekolah.
Sementara pada remaja putri, anemia juga perlu dicegah sejak dini karena dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan pada kehamilan dan berkontribusi terhadap kelahiran anak stunting.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9324489/original/034633400_1786708826-cek_fakta_balik_nama.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9322269/original/035290200_1786523414-cek_fakta_-_ombudsman.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7261845/original/041809000_1780048281-Tugas__22_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5432608/original/039355600_1764817183-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2025-12-04T072013.095.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9323959/original/028300400_1786683916-20260813_153439.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9323040/original/097415800_1786598028-Menteri_Kesehatan_Budi_Gunadi_Sadikin_oleh_Biro_Komunikasi_dan_Informasi_Publik_Kemenkes_RI__Aldo_Putra_Meizahni.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9316546/original/035040700_1785943137-IMG_20260805_194031_8.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7592122/original/028029900_1780374636-budi_gunadi__3_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4550729/original/081808000_1692879444-IMG_0136.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5479339/original/009842300_1768974917-Menteri_Kesehatan_Republik_Indonesia__Budi_Gunadi_Sadikin.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7600637/original/087878800_1780384423-budi__6_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309581/original/028568100_1785231660-Menteri_Kesehatan__Menkes__Budi_Gunadi_Sadikin-28_Juli_2026.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309058/original/045325500_1785217690-Menteri_Kesehatan_Budi_Gunadi_Sadikin_oleh_Aldo_Putra_Meizahni__7_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9308403/original/6414700_1785140114-Menteri_Kesehatan_Republik_Indonesia_Budi_Gunadi_Sadikin_bersama_Gubernur_DKI_Jakarta_Pramono_Anung_oleh_Biro_Komunikasi_dan_Informasi_Publik_Kemenkes_RI_Aldi_Rahmanda_Putra__3_.jpg)