Liputan6.com, Jakarta - Saat seseorang, terutama anak-anak, mengalami gangguan pernapasan, salah satu terapi yang digunakan adalah inhalasi. Ini adalah terapi yang menyalurkan obat langsung ke target organ, yakni sistem pernapasan.
Terapi inhalasi umumnya didukung dengan alat bantu yang dikenal sebagai nebulizer, yakni sebuah device untuk memproses obat, mengubah wujud cair menjadi partikel bernama aerosol. Partikel (uap) yang dihasilkan harus kecil dan halus, supaya mudah masuk melalui rongga-rongga hingga mencapai organ dalam yang dituju.
Advertisement
Tujuan utama penggunaan nebulizer adalah untuk meredakan gejala pernapasan secara lebih cepat dibandingkan obat minum, terutama pada kasus asma, croup (laringitis), atau kondisi di mana pasien kesulitan mengeluarkan lendir.
"Justru terapi inhalasi ini lebih aman daripada minum obat yang terus menerus. Dosis obat terapi inhalasi jauh lebih kecil daripada obat yang diminum," tutur dokter spesialis anak subspesialis respirologi, Wahyuni Indawati.
Saat ini terdapat tiga jenis nebulizer yang masing-masing memiliki komponen dan cara kerja berbeda.
- Nebulizer Jet: Cara kerja alat ini menggunakan kompresor udara bertekanan tinggi, kelemahannya ada pada suara berisik yang dihasilkan. Ini adalah nebulizer yang paling umum karena harganya relatif terjangkau.
- Nebulizer Ultrasonic: Nebulizer ini menggunakan lempengan getar atau bervibrasi untuk memecah obat cair menjadi partikel uap. Keunggulannya adalah suara yang tenang. Sebaliknya, kelemahannya adalah tidak cocok memproses cairan obat yang mengandung steroid, karena keterbatasan teknologi untuk memecah partikelnya yang besar. Biasanya nebulizer tipe ini banyak digunakan di rumah sakit maupun klinik.
- Nebulizer Mesh: Ini adalah teknologi terbaru di dunia nebulizer. Cairan obat dilewatkan melalui jaring-jaring (mesh) dengan ribuan lubang mikroskopis sehingga menghasilkan aerosol yang “seragam”.
Siapa yang Perlu Pakai Nebulizer?
Tidak semua anak yang memiliki masalah pernapasan diberikan terapi inhalasi. Biasanya terapi inhalasi dengan nebulizer digunakan untuk pengobatan pada anak dengan asma. Misalnya saat muncul gejala seperti mengi atau sesak napas.
"Lalu, pada anak dengan asma berat, biasanya dilakukan terapi inhalasi untuk mengontrol asmanya," kata Wahyuni.
Selain itu, terapi inhalasi dengan nebulizer juga bisa digunakan pada kondisi:
- Anak dengan croup (laringitis): Ditandai suara serak, batuk menggonggong, dan pembengkakan di daerah tenggorokan. Pada kondisi tertentu dapat memerlukan terapi nebulisasi sesuai penilaian dokter.
- Anak dengan bronkiolitis: Infeksi saluran napas bawah yang sering terjadi pada bayi dan balita. Pada kasus tertentu, dokter dapat memberikan terapi inhalasi sesuai indikasi.
- Anak dengan penyakit paru kronis, misalnya penyakit paru kronis yang menyebabkan infeksi berulang sehingga saluran napas rusak dan anak sering mengalami mengi atau sesak.
- Anak yang sulit mengeluarkan lendir, terutama pada anak dengan kelainan bawaan atau gangguan tertentu yang membuat mekanisme pembersihan saluran napas tidak bekerja optimal. Nebulisasi dapat membantu mengencerkan atau mempermudah pengeluaran lendir sesuai jenis obat yang diberikan.
Wahyuni menekankan bahwa terapi inhalasi dengan nebulizer harus sesuai dengan petunjuk dokter.