Liputan6.com, Jakarta - Obat penurun berat badan semakin banyak digunakan sebagai bagian dari terapi obesitas. Namun, tidak semua obat bekerja dengan cara yang sama atau cocok untuk setiap orang. Oleh sebab itu, penting untuk mengetahui pilihan obat penurun berat badan yang ampuh dan aman sebelum memutuskan menggunakannya.
Pada dasarnya, obat penurun berat badan bekerja dengan mengurangi rasa lapar, meningkatkan rasa kenyang, atau menghambat penyerapan lemak dari makanan. Meski efektif, penggunaannya tetap harus disertai pola makan sehat, olahraga teratur, dan perubahan gaya hidup agar hasilnya optimal.
Advertisement
Menurut Obesity Medicine Association, pengembangan obat obesitas terus dilakukan dengan menargetkan hormon yang mengatur nafsu makan dan metabolisme, seperti GLP-1, GIP, glukagon, amilin, peptide YY (PYY), dan kolesistokinin (CCK).
"Obat obesitas yang disetujui FDA merupakan terapi berbasis bukti yang aman dan bekerja dengan menargetkan fisiologi spesifik penyebab obesitas. Hasil terbaik diperoleh jika penggunaannya menjadi bagian dari rencana perawatan yang komprehensif," tulis Obesity Medicine Association.
Sementara itu, Mayo Clinic mengingatkan bahwa obat penurun berat badan bukan solusi permanen apabila tidak dibarengi perubahan gaya hidup.
"Banyak orang mengalami kenaikan berat badan kembali setelah berhenti mengonsumsi obat penurun berat badan. Namun, menerapkan kebiasaan hidup sehat dapat membantu membatasi kenaikan berat badan tersebut," tulis Mayo Clinic.
Berikut enam pilihan obat penurun berat badan yang ampuh dan aman karena telah disetujui Food and Drug Administration (FDA) untuk terapi obesitas.
1. Semaglutide (Wegovy)
Semaglutide merupakan salah satu obat yang paling populer saat ini. Obat suntik mingguan ini bekerja meniru hormon GLP-1 sehingga membantu mengurangi rasa lapar dan membuat tubuh merasa kenyang lebih lama.
Efek samping yang paling sering muncul meliputi mual, muntah, diare, dan nyeri perut.
2. Tirzepatide (Zepbound)
Tirzepatide juga diberikan melalui suntikan seminggu sekali. Obat ini bekerja pada reseptor GLP-1 dan GIP, sehingga mampu meningkatkan rasa kenyang sekaligus membantu mengontrol nafsu makan.
Efek samping yang umum dilaporkan adalah mual, muntah, diare, nyeri perut, dan sembelit.
3. Liraglutide (Saxenda)
Liraglutide merupakan obat suntik harian yang juga digunakan dalam dosis berbeda untuk pengobatan diabetes.
Efek samping yang paling sering terjadi berupa mual, muntah, dan gangguan pencernaan, terutama pada awal penggunaan.
4. Phentermine-topiramate (Qsymia)
Obat ini merupakan kombinasi phentermine dan topiramate yang diminum sekali sehari. Cara kerjanya adalah menekan nafsu makan sehingga membantu mengurangi asupan kalori.
Meski efektif, obat ini dapat meningkatkan detak jantung dan tekanan darah, menyebabkan sulit tidur, serta rasa gelisah. Kandungan topiramate juga diketahui dapat meningkatkan risiko cacat lahir sehingga penggunaannya harus diawasi dokter.
5. Bupropion-naltrexone (Contrave)
Contrave menggabungkan bupropion dan naltrexone untuk membantu mengendalikan nafsu makan serta mengurangi keinginan makan berlebihan (food cravings).
Efek samping yang umum meliputi sakit kepala, mual, sembelit, serta peningkatan tekanan darah. Karena itu, tekanan darah perlu dipantau secara berkala selama menjalani terapi.
6. Orlistat (Xenical)
Berbeda dari obat lainnya, orlistat bekerja dengan menghambat penyerapan lemak dari makanan. Obat ini diminum tiga kali sehari dan sebaiknya disertai pola makan rendah lemak.
Efek samping yang paling sering terjadi adalah diare, sering buang gas, dan buang air besar berminyak.
Penggunaan Harus Sesuai Anjuran Dokter
Meski telah disetujui FDA, penggunaan obat penurun berat badan tetap harus disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing pasien. Dokter akan mempertimbangkan indeks massa tubuh (IMT), penyakit penyerta, riwayat kesehatan, hingga potensi efek samping sebelum menentukan terapi yang tepat.
Selain itu, harga obat penurun berat badan tergolong mahal dan belum tentu ditanggung oleh asuransi. Oleh karena itu, konsultasi dengan dokter menjadi langkah penting sebelum memilih obat yang sesuai.
Perlu diingat, obat hanyalah salah satu bagian dari terapi obesitas. Menjaga pola makan bergizi seimbang, rutin berolahraga, tidur yang cukup, dan mengelola stres tetap menjadi kunci utama untuk mencapai serta mempertahankan berat badan ideal dalam jangka panjang.