Liputan6.com, Jakarta - Disfungsi ereksi (DE) menjadi masalah yang cukup sering dialami pria, terutama pada umur 40 hingga 70 tahun. Kondisi ini dapat memengaruhi kualitas hidup dan hubungan dengan pasangan sehingga banyak pria mencari obat untuk disfungsi ereksi sebagai solusi.
Meski demikian, tidak ada satu obat yang paling ampuh untuk semua orang. Setiap obat untuk disfungsi ereksi memiliki keunggulan, durasi kerja, serta efek samping yang berbeda sehingga penggunaannya perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.
Advertisement
Kepala Urologi Cambridge Health Alliance yang berafiliasi dengan Harvard di Boston, Dr. Louis Liou, mengatakan pasien sering kali perlu mencoba beberapa pilihan obat sebelum menemukan yang paling sesuai.
"Untuk pasien baru, saya meminta mereka mencoba berbagai obat untuk melihat mana yang paling efektif," kata Dr. Louis Liou, dikutip dari Health Harvard, Kamis (23/7/2026).
Mayo Clinic juga menyebut obat oral menjadi terapi lini pertama untuk disfungsi ereksi karena terbukti efektif pada sebagian besar pria dan umumnya hanya menimbulkan efek samping ringan.
1. Sildenafil (Viagra)
Sildenafil atau Viagra merupakan obat disfungsi ereksi yang paling populer. Obat ini bekerja dengan meningkatkan aliran darah ke penis sehingga membantu pria mendapatkan ereksi saat mendapat rangsangan seksual.
Sildenafil sebaiknya diminum sekitar satu jam sebelum berhubungan seksual dalam keadaan perut kosong. Menurut Healthline, obat ini mulai bekerja dalam waktu 30–60 menit dengan efek yang bertahan sekitar empat hingga enam jam.
Namun, makanan tinggi lemak dan alkohol dapat memperlambat penyerapan obat sehingga efeknya tidak muncul secara optimal.
2. Vardenafil (Levitra)
Vardenafil memiliki cara kerja yang hampir sama dengan sildenafil. Obat ini biasanya mulai bekerja sekitar satu jam setelah diminum dan efeknya dapat bertahan hingga tujuh jam.
Pengguna juga disarankan menghindari alkohol maupun jus grapefruit saat mengonsumsi vardenafil karena dapat meningkatkan risiko efek samping, seperti pusing atau kadar obat yang terlalu tinggi dalam darah.
3. Tadalafil (Cialis)
Tadalafil menjadi pilihan bagi banyak pria karena memiliki durasi kerja paling lama, yakni hingga 36 jam. Obat ini mulai bekerja sekitar 30 menit setelah diminum dan dapat dikonsumsi dengan atau tanpa makanan.
Selain mengatasi disfungsi ereksi, tadalafil juga digunakan untuk membantu meredakan gejala pembesaran prostat jinak atau benign prostatic hyperplasia (BPH).
4. Avanafil (Stendra)
Avanafil merupakan obat disfungsi ereksi yang lebih baru dibandingkan obat lainnya. Obat ini dapat diminum sekitar 30 menit sebelum berhubungan seksual dan efeknya bertahan sekitar empat hingga lima jam.
Karena belum tersedia dalam versi generik, harga avanafil umumnya lebih mahal dibandingkan sildenafil, tadalafil, maupun vardenafil.
Tidak Ada Obat yang Paling Ampuh untuk Semua Orang
Dalam artikel yang ditinjau secara medis oleh Alex Nguyen, PharmD, RPh, CPh di Healthline disebutkan bahwa tidak ada satu pil atau obat untuk disfungsi ereksi yang dianggap paling efektif untuk semua orang.
Pemilihan obat harus mempertimbangkan kondisi kesehatan, obat lain yang sedang dikonsumsi, durasi kerja yang diinginkan, hingga biaya pengobatan.
Mayo Clinic juga mengingatkan agar obat untuk disfungsi ereksi tidak dikonsumsi tanpa berkonsultasi dengan dokter, terutama bagi orang yang mengonsumsi obat nitrat untuk nyeri dada, alpha-blocker, atau obat tertentu untuk HIV maupun infeksi jamur.
Selain itu, penderita tekanan darah sangat rendah, penyakit hati berat, penyakit ginjal yang memerlukan dialisis, atau yang baru mengalami serangan jantung maupun stroke juga perlu berhati-hati.
Efek samping yang paling sering muncul meliputi sakit kepala, wajah kemerahan, hidung tersumbat, gangguan pencernaan, pusing, hingga gangguan penglihatan.
Meski jarang, obat ini juga dapat menyebabkan priapisme, yaitu ereksi yang berlangsung lebih dari empat jam dan memerlukan penanganan medis darurat untuk mencegah kerusakan permanen pada jaringan penis.