Liputan6.com, Jakarta - Psikolog Anak, Remaja & Keluarga, Ayoe Sutomo, mengingatkan orang tua agar tidak terburu-buru menentukan bakat anak. Menurutnya, cara menemukan bakat anak bukan dengan memaksanya fokus pada satu bidang sejak dini, melainkan memberi kesempatan untuk bereksplorasi hingga usia sekitar 10 tahun.
"Namanya juga eksplorasi, berarti kenal lebih banyak, tahu lebih banyak, dan mencoba lebih banyak. Karena memang masih tahap eksplorasi, belum waktunya hanya fokus pada satu bakat saja," kata Ayoe dalam acara Bebelac Little Star 2026: Ruang bagi Anak Indonesia Berani Bersinar dengan Caranya Sendiri, belum lama ini.
Advertisement
Menurut Ayoe, cara menemukan bakat anak dimulai dengan memberikan ruang bagi Si Kecil untuk mencoba beragam aktivitas. Orang tua berperan memfasilitasi kebutuhan anak, mengenalkan berbagai hal baru, serta memberikan pengalaman yang beragam agar anak dapat mengeksplorasi minatnya.
"Dari situ kemudian orang tua lakukan yang kedua, yaitu observasi. Dari banyak kegiatan yang dipaparkan kepada si kecil, kita perlu melihat dulu," tambah Ayoe.
Melalui proses observasi tersebut, orang tua dapat melihat aktivitas yang paling disukai anak, mana yang paling membuatnya antusias, serta bidang yang mampu ia lakukan lebih baik dibandingkan teman-teman seusianya.
"Mana yang kira-kira si kecil ketertarikannya paling besar dibandingkan kegiatan-kegiatan yang diikuti. Kemudian mana yang si kecil lebih excellent atau lebih bagus dibandingkan teman-temannya," ujarnya.
Setelah menemukan potensi tersebut, langkah berikutnya adalah memberikan dukungan penuh terhadap pilihan anak. Tak kalah penting, orang tua juga perlu mengapresiasi setiap proses yang dilalui anak, sekecil apa pun perkembangannya.
"Jangan lupa kasih apresiasi atas every little step, every baby step. Semuanya itu harus diberikan apresiasi karena semuanya dimulai dari baby steps tersebut," katanya.
Ayoe merangkum peran orang tua dengan konsep FOSA, yaitu Fasilitasi, Observasi, Support, dan Apresiasi. "Itu yang bisa orang tua lakukan pada tahapan saat mencari bakal potensi keunggulan anak," ujar Ayoe.
Dia, menambahkan, orang tua perlu bersikap suportif terhadap pilihan anak karena dukungan tersebut akan membantu menumbuhkan motivasi intrinsik. Dengan begitu, anak terdorong melakukan sesuatu karena keinginan dari dalam dirinya sendiri, bukan karena paksaan.
"Ketika kita mendukung atau men-support apa yang menjadi pilihan otonomi anak, motivasi internal anak juga akan bertumbuh lebih banyak. Jadi dorongannya hadir memang karena anak benar-benar mau melakukan itu, bukan karena paksaan," pungkasnya.