Liputan6.com, Jakarta - Minuman matcha kini tidak hanya tersedia dalam cup juga dalam kemasan besar seperti galon tengah ramai di media sosial. Namun, masyarakat sebaiknya perlu tahu kandungan dalam minuman tersebut seperti disampaikan dokter dan epidemiolog Dicky Budiman.
Dicky mengungkapkan hal yang perlu menjadi perhatian bukanlah matcha itu sendiri, melainkan bahan tambahan yang kerap dicampurkan, seperti gula, sirup, krimer, bahkan whipped cream.
Advertisement
"Yang perlu jadi perhatian bukan masalah matchanya, tetapi apa yang terkandung dalam minuman ini, terutama gula tambahan, sirup, krimer, dan total kalorinya," kata Dicky kepada Liputan6.com lewat rekaman suara, ditulis Selasa (28/7/2026).
Matcha yang murni berasal dari bubuk teh hijau. Kondisi ini membuat minuman ini kaya akan antioksidan dan L-theanine, yaitu asam amino untuk kurangi kecemasan dan tingkatkan fokus.
Beberapa penelitian bahkan menunjukkan konsumsi matcha tanpa tambahan gula berpotensi membantu meningkatkan sensitivitas insulin, menjaga kesehatan metabolik, serta meningkatkan fokus.
Namun, manfaat tersebut bisa berkurang bahkan hilang ketika matcha dikonsumsi dengan tambahan gula dan berbagai pelengkap lainnya. “Kalau dikonsumsi jumlah besar ya akan meningkatkan risiko obesitas ya, resistensi insulin juga,” ujarnya.
Di samping itu, dampak lainnya berasal dari potensi kalori yang tersembunyi. Meski rasanya tidak semanis minuman soda, banyak orang tidak menyadari bahwa satu porsi matcha latte tinggi kalori
"Rasanya tidak semanis minuman bersoda, sehingga masyarakat sering tidak menyadari bahwa satu porsi matcha latte bisa mengandung ratusan kalori," katanya.
Dampak Konsumsi Kafein Tinggi
Tidak hanya itu, kandungan kafein dalam matcha juga perlu diperhatikan. Jika dikonsumsi dalam jumlah besar, dapat menyebabkan jantung berdebar, gangguan tidur, kecemasan, sakit kepala, hingga tekanan darah meningkat pada individu yang sensitif.
Pada sebagian orang, konsumsi yang sangat tinggi juga berpotensi mengganggu penyerapan zat besi. Dicky mengungkapkan, tren matcha galon ini berisiko timbulnya normalisasi konsumsi minuman manis dalam jumlah besar.
Menurutnya, satu gelas secara alami masih ada batasnya. Namun, kemasan berukuran besar membuat seseorang lebih mudah mengonsumsi terus-menerus tanpa memerhatikan total gula dan kalori yang telah masuk ke tubuh.
Dalam kesehatan masyarakat, fenomena ini dikenal sebagai portion size effect, yaitu kecenderungan seseorang mengonsumsi lebih banyak ketika ukuran sajian lebih besar.
"Semakin besar ukuran sajian, semakin besar pula kecenderungan seseorang mengonsumsi lebih banyak tanpa merasa berlebihan," ujar Dicky.
Ia menambahkan, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian, terutama karena Indonesia termasuk salah satu negara dengan jumlah kasus diabetes yang tinggi.
Minum Matcha yang Aman
Minum matcha murni tanpa gula tambahan masih relatif aman untuk dikonsumsi. Sementara, matcha latte atau minuman berbahan matcha yang dicampur sirup, gula, krimer, dan berbagai topping perlu diperhatikan sebagai minuman manis, bukan minuman kesehatan.
"Kalau ingin menikmati matcha, pilih matcha tanpa gula atau dengan gula seminimal mungkin. Hindari konsumsi setiap hari dalam porsi besar," katanya.
Dicky juga mengajak masyarakat menjadi konsumen yang lebih kritis dengan tidak hanya mengikuti tren media sosial, tetapi juga memperhatikan komposisi gizi, terutama kandungan gula, kalori, dan ukuran sajian.
"Yang menentukan dampaknya bukan karena minuman itu sedang viral atau mengandung bahan yang dikenal sehat, tetapi frekuensi, jumlah konsumsi, dan kandungan gizinya secara keseluruhan. Kita perlu mengubah budaya dari minum berdasarkan tren menjadi minum berdasarkan kesadaran kesehatan," tegas Dicky.