Liputan6.com, Jakarta - Akhir-akhir ini bermunculan video viral dari akun pasangan suami istri yang memperlihatkan salah satu pasangan sedang sakit. Video tersebut biasanya diawali dengan adegan mengompres tubuh, memberikan obat, lalu diakhiri dengan adegan yang mengisyaratkan berhubungan seks saat sakit.
Tak sedikit warganet yang kemudian beranggapan bahwa berhubungan seks saat sakit memberikan sensasi yang berbeda. Bahkan, banyak komentar yang menyebut tubuh terasa lebih segar atau seolah-olah langsung sembuh setelah melakukannya. Lantas, benarkah berhubungan seks saat sakit dapat mempercepat pemulihan?
Advertisement
Tenaga kesehatan yang telah bekerja sejak 2002 dan memiliki keahlian di bidang pediatri serta pencegahan penyakit dan infeksi, Kristina Herndon, BSN, RN, CPN, menjelaskan, berhubungan seks saat sakit tidak dapat menyembuhkan infeksi saluran pernapasan maupun mempercepat proses pemulihan.
Meski demikian, aktivitas seksual dapat memicu pelepasan hormon endorfin yang mampu meningkatkan suasana hati untuk sementara waktu Selain itu, gairah seksual juga dapat membantu meredakan hidung tersumbat dalam waktu singkat.
Hal ini terjadi karena hormon adrenalin membuat pembuluh darah menyempit sehingga aliran darah ke pembuluh di rongga hidung dan sinus berkurang. Akibatnya, saluran napas terasa lebih lega. Namun, efek tersebut hanya bersifat sementara.
Berkeringat maupun berhubungan seks saat sakit sama-sama dapat memicu pelepasan endorfin yang membuat suasana hati terasa lebih baik. Namun, hingga kini belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa berkeringat dapat mempercepat penyembuhan atau secara signifikan meredakan gejala flu.
Sebaliknya, berhubungan seks saat sakit justru berisiko menularkan penyakit kepada pasangan. Oleh sebab itu, kecuali penyakit yang dialami tergolong ringan dan pasangan memahami serta menerima risikonya, sebaiknya tunda aktivitas seksual hingga benar-benar pulih.
Apa Risiko Berhubungan Seks Saat Sakit?
Penyakit saluran pernapasan umumnya menyebar melalui percikan droplet dan air liur. Aktivitas seperti berciuman, bernapas dalam jarak dekat, atau berada di dekat orang yang batuk maupun bersin dapat mempermudah penularan.
Jika mengalami demam, besar kemungkinan Anda masih menularkan penyakit. Selain itu, demam sering kali membuat tubuh pegal dan mudah lelah sehingga kondisi fisik belum ideal untuk berhubungan seks saat sakit.
Penyakit seperti influenza dan COVID-19 juga kerap disertai demam. Para ahli menyarankan untuk menghindari aktivitas fisik, termasuk berhubungan seks saat sakit, hingga demam benar-benar hilang. Pastikan tubuh kembali terhidrasi dengan baik sebelum kembali beraktivitas.
Benarkah Sperma Bisa Membantu Tubuh Terasa Lebih Baik?
Sperma mengandung antioksidan yang membantu melawan radikal bebas dan melatonin, hormon yang berperan mengatur siklus tidur.
Secara teori, kedua zat tersebut mungkin dapat membuat seseorang merasa lebih nyaman atau tidur lebih nyenyak saat sakit.
Namun, hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa sperma dapat membantu mempercepat pemulihan atau membuat seseorang sembuh lebih cepat setelah berhubungan seks saat sakit.
Bagaimana Mengetahui Apakah Masih Menularkan Penyakit?
Lamanya seseorang dapat menularkan penyakit bergantung pada jenis infeksi yang dialami. Sebagian besar virus dan bakteri paling mudah menyebar pada beberapa hari pertama setelah gejala muncul, meski ada juga yang tetap dapat menular selama gejala masih berlangsung.
Sebagai contoh, influenza dapat menular sejak 24 jam sebelum gejala muncul hingga sekitar tujuh hari setelahnya. Sementara itu, COVID-19 dapat menular sekitar dua hingga tiga hari sebelum gejala muncul dan bertahan hingga sekitar 10 hari setelahnya.
Karena itu, jika belum mengetahui secara pasti penyakit yang diderita atau masih mengalami gejala, sebaiknya hindari berhubungan seks saat sakit hingga benar-benar pulih untuk mengurangi risiko penularan kepada pasangan.