Liputan6.com, Jakarta - Sering kali orang menganggap ngorok atau mendengkur sebagai ciri seseorang tidur sangat nyenyak. Padahal kebiasaan tersebut justru dapat menjadi tanda adanya gangguan tidur serius yang dikenal sebagai sleep apnea seperti disampaikan dokter spesialis kedokteran tidur, Andreas Prasadja.
Andreas menjelaskan, sleep apnea merupakan kondisi ketika seseorang mengalami henti napas berulang saat tidur. Kondisi ini menyebabkan kadar oksigen di dalam tubuh menurun sehingga jantung harus bekerja lebih keras.
Advertisement
"Nama penyakitnya adalah sleep apnea. Sleep apnea artinya henti napas saat tidur," ujar Andreas saat ditemui di Nap Lab, Jakarta (31/7/2026).
Ia menjelaskan bahwa pada penderita sleep apnea, saluran napas menyempit atau tertutup sehingga aliran udara terhambat. Akibatnya, penderita akan terus terbangun secara tidak sadar untuk mengambil napas kembali.
"Tercekik, saluran napasnya ketutup sehingga dia tercekik pada saat tidur. Oksigen drop, jantung kerjanya berat, terus bangun ambil napas, tidur lagi, enggak sadar," jelasnya.
Karena proses tidur terus terganggu, kualitas tidur menjadi buruk meskipun durasi tidur terasa cukup. Hal inilah yang membuat orang dengan sleep apnea mengantuk pada siang hari.
Tak hanya memengaruhi kualitas tidur, sleep apnea juga berkaitan dengan berbagai penyakit kronis. Andreas menyebut gangguan ini dapat menjadi salah satu faktor risiko hipertensi, penyakit jantung, hingga stroke.
"Sejak tahun 2003 sebenarnya dalam tata laksana hipertensi sudah disebutkan penyebab hipertensi salah satunya karena ngorok," katanya.
Sleep Apnea dan Stroke
Ia juga mengatakan belakangan semakin sering menemukan pasien stroke berusia muda yang ternyata mengalami sleep apnea.
Andreas memperhatikan pasien-pasien dengan usia terbilang muda yang mengalami stroke, salah satunya terkait sleep apnea.
"Saya perhatikan sekarang stroke usianya makin muda. Ada usia 32, 36, 38 tahun. Salah satunya karena sleep apnea," ujarnya.
Sleep apnea hanya dialami orang dengan berat badan tidak ideal dan atau obesitas juga tidak sepenuhnya benar. Menurutnya, orang bertubuh kurus pun dapat mengalami kondisi serupa.
"Orang kita enggak. Kurus-kurus ngorok banyak kok. Kurus-kurus sleep apnea banyak," katanya.
Ia mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap sepele kebiasaan mendengkur. Menurut Andreas, yang perlu diatasi bukan sekadar suara ngoroknya, melainkan gangguan napas yang menyebabkannya.
Andreas mengatakan bahwa yang penting adalah gangguan napasnya, bukan suara dengkuran. Tenaga medis akan fokus atasi gangguan napas, sehingga suara dengkuran pun akan ikut menghilang.