4 Juta Pasangan Alami Infertilitas, Wamenkes Soroti Penguatan Layanan Fertilitas

Akses terhadap layanan fertilitas menjadi bagian penting dalam perjalanan bagi banyak pasangan infertiltas mendapatkan buah hati.

Diterbitkan 19 September 2026, 10:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono menyebut sekitar 4-6 juta pasangan di Indonesia mengalami masalah infertilitas (gangguan kesuburan). Menurut Dante penting bagi masyarakat untuk memiliki akses terhadap layanan fertilitas yang berkualitas di dalam negeri.

“Masalah infertilitas di Indonesia masih tinggi, kira-kira 4 sampai 6 juta pasangan mengalami masalah infertilitas,” ujar Dante.

Meski jumlah pasangan yang mengalami infertilitas tinggi, layanan fertilitas atau kesuburan di Indonesia baru sekitar 66 titik. Lalu, siklus IVF atau program bayi tabung yang dilakukan di Indonesia sekitar 15 ribu. "Padahal negara tetangga kita Malaysia bisa sampai 30 ribu bahkan lebih siklus IVF yang dilakukan," tambah Dante.

Siklus IVF adalah serangkaian tahapan prosedur medis yang sekitar 4 hingga 6 minggu untuk membantu mewujudkan kehamilan melalui pembuahan sel telur dan sperma di luar tubuh.

Maka dari itu, menurut Dante, penguatan layanan fertilitas di dalam negeri penting agar masyarakat memiliki lebih banyak pilihan perawatan kesuburan tanpa harus mencari layanan ke negara lain. Ia menyebut sebagian pasien Indonesia selama ini memilih menjalani perawatan fertilitas di Malaysia, Singapura, hingga Thailand.

Dante mengapresiasi keterlibatan fasilitas kesehatan swasta dalam memperluas layanan fertilitas. Menurutnya, pemerintah tidak dapat berjalan sendiri dalam menjawab semua kebutuhan kesehatan masyarakat.

“Ini bisa menjadi jawaban masalah kesehatan, bahwa masalah kesehatan tidak inklusif Kemenkes tapi juga teman-teman dari Morula dan lainnya. Kami membuka kesempatan seluas-luasnya,” ujar Dante dalam pembukaan Morula International Fertility Clinic (Morula IFC) di Biomedical Campus, BSD City, pada Jumat (18/9/2026).

Di sisi lain, meski banyak pasangan Indonesia ke luar negeri untuk berobat soal kesuburan, Dante mengatakan layanan fertilitas di Indonesia juga mulai menarik pasien dari luar negeri.

“Bahkan saya dengar bukan cuma pasien dari Indonesia ke Morula, tapi melihat keberhasilan atau success rate dari Morula, ada dari Belanda, Prancis, Timor Leste, Australia. Banyak pasien dari luar negeri,” katanya.

 

Morula Gandeng Monash University Bangun Registri IVF

Dalam kesempatan yang sama, Morula Indonesia mengumumkan kerja sama dengan Education Program in Reproduction and Development (EPRD) dari Monash University untuk membangun registri longitudinal hasil IVF (bayi tabung).

Registri tersebut akan menggunakan data dari jaringan klinik fertilitas Morula di Indonesia. Data akan mengikuti perjalanan embrio yang dihasilkan dari satu kali pengambilan sel telur hingga mencapai kelahiran hidup.

Pendekatan tersebut berbeda dari pengukuran yang hanya melihat hasil kehamilan dari satu kali transfer embrio. Melalui registri ini, hasil IVF akan dikaji berdasarkan satu rangkaian perawatan atau complete ART cycle.

Data yang dikumpulkan secara bertahap akan mencakup angka kelahiran hidup kumulatif, hasil transfer fresh embryo dan frozen embryo, hasil pada berbagai kelompok pasien, serta waktu dan jumlah tahapan perawatan hingga mencapai kelahiran hidup.

CEO PT Morula Indonesia dokter Ivan Sini SpOG mengatakan sebagai salah satu penyedia layanan fertilitas besar di Indonesia, Morula memiliki tanggung jawab untuk menyediakan data mengenai hasil perawatan secara lebih menyeluruh yakni hingga bayi program IVF lahir. 

"Kita mengharapkan ada informasi dari klinik bayi tabung sampai melahirkan bayi, sembilan bulan. Selama ini belum ada di Asia Tenggara tentang jumlah kelahiran dari program bayi tabung,” ujar Ivan.

Menurut Ivan, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya membangun transparansi hasil layanan fertilitas.

“Kami bekerja sama dengan Monash University untuk mengukur berapa bayi sehat dari program bayi tabung kita. Jadi ini transparansi. Singapura dan Malaysia belum punya data solid ini,” katanya.