Liputan6.com, Jakarta - Kehamilan bukan hanya membawa perubahan pada tubuh tapi juga memengaruhi kondisi emosional dan psikologis ibu. Oleh sebab itu, banyak ibu hamil bertanya, apa yang boleh dilakukan ibu hamil untuk menjaga kesehatan fisik dan mentalnya?
Dokter Psikiater, dr. Andri, Sp.KJ, FAPM, mengatakan, kesehatan ibu hamil perlu dipandang secara menyeluruh. Menurutnya, kehamilan melibatkan perubahan biologis, psikologis, hingga sosial yang saling berkaitan.
Advertisement
Perubahan hormon, bentuk tubuh, kualitas tidur, serta kekhawatiran mengenai kondisi janin, proses persalinan, pekerjaan, hingga perubahan peran dalam keluarga dapat memengaruhi kesehatan fisik maupun mental ibu hamil.
Untuk itu, menjaga kesehatan selama kehamilan tidak cukup hanya dengan memenuhi kebutuhan nutrisi, tetapi juga memperhatikan kondisi psikologis.
Menjaga Pola Makan hingga Tetap Aktif
Menjawab pertanyaan mengenai apa yang boleh dilakukan ibu hamil untuk menjaga kesehatan fisik dan mentalnya, Andri menekankan pentingnya menjaga pola makan dan asupan nutrisi sesuai anjuran dokter kandungan.
Selain itu, ibu hamil juga dianjurkan tetap melakukan aktivitas fisik yang aman selama tidak ada kontraindikasi dari dokter. Aktivitas fisik dapat membantu menjaga kebugaran tubuh sekaligus mendukung kesehatan mental selama masa kehamilan.
"Saya biasanya melihat kesehatan ibu hamil secara holistik, di mana tubuh dan pikiran tidak bisa kita pisahkan," kata Andri saat dihubungi Kesehatan Liputan6.com melalui aplikasi pesan singkat pada Senin (3/8/2026).
Tak kalah penting, ibu hamil juga perlu menjaga kualitas tidur, memiliki aktivitas yang menyenangkan, serta mempertahankan hubungan sosial yang baik dengan keluarga maupun orang terdekat.
Beri Ruang untuk Emosi
Menurut Andri, ibu hamil tidak harus selalu merasa bahagia hanya karena sedang mengandung. Berbagai emosi seperti khawatir, lelah, mudah tersentuh, atau sesekali merasa sedih merupakan pengalaman yang dapat terjadi selama kehamilan.
"Dari sisi kesehatan jiwa, ibu hamil juga perlu memberikan ruang untuk emosinya. Tidak harus selalu bahagia hanya karena sedang hamil. Merasa khawatir, lelah, mudah tersentuh, atau sesekali sedih adalah pengalaman yang dapat terjadi," ujarnya.
Namun, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian apabila keluhan emosional mulai menetap, semakin berat, atau mengganggu aktivitas sehari-hari.
"Saatnya memikirkan untuk berkonsultasi ke profesional di bidang kesehatan jiwa seperti psikolog dan atau psikiater," kata Andri.
Andri juga menjelaskan bahwa stres psikologis memang dapat muncul dalam bentuk keluhan fisik, seperti jantung berdebar, sesak napas, mual, pusing, sakit kepala, gangguan pencernaan, sulit tidur, atau badan terasa tidak nyaman.
Meski demikian, ibu hamil tidak boleh langsung menganggap gejala tersebut sebagai gangguan psikosomatik.
"Namun pada kehamilan, jangan langsung menyimpulkan suatu gejala sebagai psikosomatik," ujar Andri.
Dia menekankan bahwa setiap keluhan fisik selama kehamilan tetap perlu dievaluasi terlebih dahulu karena bisa berkaitan dengan kondisi medis yang memerlukan penanganan.
"Keluhan fisik tetap perlu dievaluasi terlebih dahulu karena bisa berhubungan dengan kondisi kehamilan," pungkasnya.