Rujuk Bayi Kritis Tak Sekadar Pindahkan ke Rumah Sakit Besar

Rujuk bayi kritis perlu stabilisasi lebih dulu agar aman selama perjalanan dan cepat ditangani.

Diterbitkan 17 September 2026, 13:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ketika bayi berada dalam kondisi kritis, orang tua tentu ingin segera membawanya ke rumah sakit yang lebih besar. Namun, Direktur Medik dan Perawatan RSAB Harapan Kita, dr. Endah Citra Resmi, Sp.A(K) mengingatkan bahwa bayi tidak bisa begitu saja langsung dipindahkan.

Sebelum menjalani perjalanan rujukan, lanjut Endah, kondisi pasien perlu distabilkan terlebih dahulu untuk mengurangi risiko selama perjalanan dan memastikan penanganan lanjutan bisa dilakukan lebih cepat.

"Jadi, rujukan itu nggak asal rujuk. Ketika sampai sini, ternyata ini masih harus nunggu. Beratnya harus naik dulu. Harus ada pemeriksaan ini itu. Jadi, kalau kita bisa lengkapi, begitu sampai sini, langsung dikerjakan. Pasien bisa tertanganinya lebih cepat," kata Endah.

Menurut Endah, stabilisasi bertujuan memastikan kondisi vital pasien berada dalam batas aman selama perjalanan hingga tiba di rumah sakit rujukan. Proses ini juga membantu rumah sakit tujuan mempersiapkan penanganan yang dibutuhkan sebelum pasien tiba.

Endah mencontohkan bayi dengan berat lahir rendah yang membutuhkan tindakan khusus. Jika rumah sakit rujukan memiliki dokter anak yang dapat membantu menaikkan berat badan bayi, pasien dapat distabilkan terlebih dahulu sebelum dikirim untuk menjalani tindakan.

"Jadi kan kalau rumah sakit yang dirujuk itu punya dokter anak yang bisa menaikkan berat badan bayi ini, kita stabilkan dulu nanti pada saat beratnya sudah naik, kirimlah untuk tindakan. Misalnya begitu. Itu kalau untuk yang ada tindakan," katanya.

Hal serupa dapat dilakukan pada pasien yang membutuhkan dokter subspesialis. Ketika rumah sakit daerah belum memiliki dokter spesialis tertentu, tim di rumah sakit rujukan dapat memberikan konsultasi kepada dokter setempat agar penanganan awal tetap berjalan.

"Demikian juga kadang ada yang dia (rs daerah) nggak punya spesialis saraf, pasiennya kejang-kejang, kita bantu. 'Ini obat kejangnya kurang', 'tambahkan dosisnya', 'tambahkan obat kejang yang lain', atau 'cari penyebab kejangnya'. Itu kita bisa bantu," ujar Endah.

Menurutnya, langkah tersebut bukan semata-mata untuk menekan angka rujukan yang terus bertambah. Tujuannya adalah memastikan pasien yang dirujuk memang membutuhkan penanganan yang tidak dapat diberikan di fasilitas kesehatan asal.

Cegah Pasien Tertahan dan Percepat Tindakan Medis

Stabilisasi juga penting untuk memastikan rumah sakit rujukan benar-benar siap menerima pasien sesuai kebutuhan klinisnya.

Rujukan tanpa persiapan dapat membuat pasien harus menunggu lebih lama setelah tiba di rumah sakit tujuan. Sebab, masih ada pemeriksaan dasar yang perlu dilengkapi atau kondisi bayi yang belum memenuhi syarat untuk menjalani operasi.

Endah menekankan bahwa rujukan ideal merupakan rujukan yang sudah direncanakan dan dikoordinasikan dengan baik.

Dengan persiapan tersebut, ketika pasien tiba di rumah sakit rujukan, berbagai kebutuhan medis sudah dapat disiapkan sehingga penanganan tidak perlu dimulai dari awal.

Tim Dokter Bisa Bersiap Sebelum Pasien Tiba

Komunikasi awal antarfasilitas kesehatan memungkinkan rumah sakit penerima rujukan menyiapkan tim dokter sebelum pasien tiba.

"Jadi datang kita tidak dari nol lagi. Karena sudah siap semua dokternya. Oke hari ini akan diperiksa apa, besok akan operasi. Jadi kita lebih cepat menangani pasiennya," tambah Endah.

Berangkat dari kondisi tersebut, telekonsultasi maupun tele-mentoring antarfasilitas kesehatan, seperti yang mulai digerakkan RSAB Harapan Kita, menjadi salah satu jembatan untuk memperkuat penanganan pasien sebelum rujukan dilakukan.