Liputan6.com, Jakarta - Kulit terasa sangat gatal setelah digigit serangga biasanya langsung dikaitkan dengan nyamuk. Padahal, jika Anda baru beraktivitas di pantai, kawasan pesisir, atau hutan bakau, penyebabnya bisa jadi adalah gigitan lalat pasir (sandfly).
Meski ukurannya hanya sekitar 2–3 milimeter, gigitan lalat pasir sering kali menimbulkan rasa gatal yang lebih hebat dibandingkan gigitan nyamuk. Penyebabnya terletak pada cara serangga ini mengisap darah yang memicu reaksi peradangan lebih kuat pada kulit.
Advertisement
Dokter sekaligus Clinical Lead Dermatology Workgroup SingHealth Polyclinics, Dr Jane Tan, mengatakan gigitan lalat pasir dapat menimbulkan respons imun yang lebih besar dibandingkan gigitan nyamuk.
"Karena cara lalat pasir mengisap darah menyebabkan iritasi kulit yang lebih besar dan memicu respons sistem imun yang lebih kuat, rasa gatal akibat gigitannya bisa jauh lebih parah," ujar Tan dikutip dari Channel News Asia pada Kamis (6/8/2026)
Cara Lalat Pasir Mengisap Darah Berbeda dengan Nyamuk
Perbedaan rasa gatal berasal dari cara kedua serangga tersebut mendapatkan darah.
Nyamuk merupakan vessel feeder, yaitu mengisap darah langsung dari pembuluh darah menggunakan belalai yang tipis seperti jarum.
Sementara itu, lalat pasir termasuk pool feeder. Serangga ini menggunakan bagian mulut yang bergerigi untuk merobek permukaan kulit hingga terbentuk genangan darah kecil, kemudian mengisap darah dari genangan tersebut.
Cara makan tersebut menyebabkan kerusakan jaringan kulit yang lebih luas sehingga memicu reaksi peradangan yang lebih kuat. Akibatnya, rasa gatal yang muncul pun terasa lebih intens.
"Tidak seperti gigitan nyamuk, gigitan lalat pasir terkadang berkembang menjadi lepuh berisi cairan karena reaksi peradangan yang lebih kuat. Jika terus digaruk, dapat terjadi infeksi bakteri sekunder yang membuat proses penyembuhan semakin lama," kata Tan.
Ciri Gigitan Lalat Pasir
Gigitan lalat pasir umumnya berupa bentol kecil berwarna merah yang sangat gatal dan sering muncul secara berkelompok. Namun, tampilannya dapat menyerupai gigitan nyamuk, kutu, maupun kutu kasur sehingga tidak mudah dibedakan.
Dokter umum Healthway Medical, Dr Scott Joel Heng, mengatakan riwayat aktivitas seseorang justru lebih membantu untuk mengetahui penyebab gigitan.
"Sering kali mustahil mengetahui jenis serangga hanya dari bekas gigitannya. Waktu dan lokasi paparan jauh lebih membantu, misalnya apakah seseorang baru mengunjungi pantai atau kawasan pesisir," ujar Heng.
Menurutnya, dugaan kasus gigitan lalat pasir biasanya meningkat setelah akhir pekan atau musim liburan, terutama pada anak-anak dan remaja yang baru mengikuti kegiatan luar ruangan.
Apakah Gigitan Lalat Pasir Berbahaya?
Selain menyebabkan gatal hebat, beberapa spesies lalat pasir diketahui dapat membawa parasit penyebab leishmaniasis, yaitu penyakit yang dapat menimbulkan luka pada kulit hingga menyerang organ dalam.
Meski begitu, Dr Jane Tan menjelaskan bahwa penyakit tersebut bukan penyakit endemik di Singapura. Risiko leishmaniasis lebih besar dialami wisatawan yang baru kembali dari negara-negara dengan kasus penyakit tersebut, seperti China, India, Sri Lanka, dan Thailand.
Sementara itu, kasus yang lebih sering ditemukan adalah reaksi alergi akibat gigitan lalat pasir.
Cara Mengatasi Gigitan Lalat Pasir
Apabila mengalami gigitan lalat pasir, segera cuci area yang terkena dengan sabun dan air, lalu kompres menggunakan air dingin untuk mengurangi bengkak dan rasa gatal.
Antihistamin maupun krim hidrokortison 1 persen juga dapat digunakan untuk membantu meredakan gejala. Sebaliknya, hindari menggaruk area gigitan karena dapat memperparah peradangan, memperlambat penyembuhan, serta meningkatkan risiko infeksi.
Jika bentol semakin membengkak, terasa nyeri, muncul lepuh, keluar cairan, atau tidak kunjung membaik dalam beberapa hari, segera periksakan diri ke dokter agar mendapatkan penanganan yang tepat.