Payudara Bengkak saat Menyusui, Dokter: Hindari Paksa ASI Keluar

Memaksa ASI agar keluar dengan pijatan yang keras malah membuat jaringan pada payudara makin rusak.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 06 Agustus 2026, 12:23 WIB
Ilustrasi menyusui. (dok. Hanna Balan/Unsplash)

Liputan6.com, Jakarta - Payudara bengkak saat menyusui kerap dialami ibu. Beragam cara diupayakan agar kondisi kembali normal termasuk memaksakan agar ASI keluar. 

Namun, menurut dokter konselor laktasi dokter Anastasia Lilian S., CBS, IBCLC dalam sebuah diskusi daring di Jakarta, Selasa, ibu justru diminta agar tidak memaksa ASI keluar seperti saat keadaan normal.

"Jangan dipaksa keluar ya, justru pijatan yang terlalu keras saat memompa ASI akan merusak jaringan dalam payudara. Malah makin menambah kerusakan," kata Anastasia.

Ketika payudara bengkak, hal yang seharusnya dilakukan oleh ibu adalah memijatnya dengan lebih lembut dan mengompres payudara menggunakan air dingin atau bisa juga menggunakan lembaran kol dingin.

 

"Mandi air hangat boleh, bisa membantu aliran ASI, melebarkan pembuluh-pembuluh di saluran asi supaya lebih release. Boleh dilakukan saat payudara tidak ada nyeri,” jelas Anastasia dalam sesi interview dengan RS Pondok Indah - Puri Indah Jakarta secara daring dalam Pekan Menyusui Sedunia. 

Kesalahan berikutnya adalah sering memompa dengan anggapan akan menambah volume ASI yang dihasilkan. "Ibu akan mencoba menaikkan suplai, padahal sedang radang. Ini malah semakin gampang untuk terkena mastitis," katanya.

Anastasia juga menyoroti para ibu yang terkena mastitis tidak segera mencari bantuan pada tenaga ahli dan lebih memilih untuk melakukan penanganan secara mandiri di rumah dalam jangka waktu yang lama. Kondisi ini menyebabkan peradangan makin lama disembuhkan. Di sisi lain, terdapat kemungkinan ibu sebenarnya membutuhkan antibiotik untuk mengatasi peradangan yang disebabkan oleh infeksi ini.

"Jangan berusaha semuanya sendirian, sehingga menumpuk dan menjadi stres atau kelelahan. Segera cari bantuan dan dukungan emosional dari orang sekitar ya," ucap dia.

Apa Itu Mastitis?

Mastitis adalah peradangan pada jaringan payudara umumnya terjadi di minggu ke enam hingga delapan usai melahirkan.

Anastasia juga mengatakan bahwa mastitis dapat terjadi di antaranya karena kesalahan posisi pelekatan ketika menyusui dan jadwal memompa ASI yang berubah-ubah.

"Kondisi ini umumnya diawali oleh bendungan ASI akibat aliran ASI yang tidak optimal sehingga menimbulkan peradangan pada jaringan payudara. Pada sebagian kasus, mastitis juga dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, yang paling sering adalah bakteri Staphylococcus aureus," katanya.

Bakteri tersebut masuk melalui luka atau retakan pada puting yang bisa mengenai salah satu atau kedua payudara saat menyusui. 

Beberapa gejala mastitis antara lain:

- Terdapat area payudara yang merah, bengkak, hangat, dan nyeri.

- Demam, menggigil, dan badan terasa lemas

- Jika tidak ditangani, mastitis dapat berkembang menjadi abses payudara.

Jika hal di atas terjadi Anastasia mengatakan perlu segera melakukan penanganan. Salah satunya dengan tetap menyusui buah hati. "ASI dari payudara yang terkena mastitis tetap aman untuk bayi," tutur Anastasia. 

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya