Anak Butuh Lebih dari Sekadar Orangtua yang Ada

Anak tak hanya butuh orangtua yang ada di rumah, tetapi juga perhatian dan koneksi emosional.

Diterbitkan 20 September 2026, 18:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pulang kerja, berada di rumah, lalu menemani anak. Bagi sebagian orang tua, rutinitas tersebut mungkin sudah terasa cukup sebagai bentuk kehadiran. Namun, ada satu hal yang kerap luput. Anak bukan hanya membutuhkan orang tua yang ada secara fisik, tapi juga sosok yang benar-benar hadir secara emosional.

Orang tua bisa saja duduk di ruangan yang sama dengan anak, tapi pikirannya masih tertinggal di pekerjaan atau perhatiannya sibuk dengan ponsel. Inilah kondisi ketika orang tua 'hadir secara fisik tapi absen secara emosional'.

Bagi anak, situasi tersebut bukan sekadar persoalan kurangnya waktu bersama. Jika terjadi berulang, anak dapat merasa tidak cukup penting untuk mendapatkan perhatian dari orang tuanya.

Psikolog sekaligus Co-founder Rumah Dandelion, Orissa Anggita Rinjani menjelaskan bahwa ketidakhadiran emosional dari sosok pendamping dapat memberikan dampak negatif terhadap perkembangan anak. Dampaknya bahkan tidak hanya berkaitan dengan kekerasan verbal maupun fisik.

"Sebenarnya 'hadir' memang lebih penting gitu ya, bukan sekadar fisiknya tapi emosionalnya. Ketidakhadiran itu juga bisa punya dampak yang sama negatifnya gitu," kata Orissa dalam acara World of MINIPON di Jakarta pada Sabtu, 19 September 2026.

Tidak Pernah Memarahi Anak Bukan Berarti Sudah Cukup

Menjadi orang tua yang tidak pernah memarahi, membentak, atau melakukan kekerasan kepada anak tentu bukan berarti persoalan selesai.

Menurut Orissa, anak tetap membutuhkan koneksi emosional. Berada dalam satu ruangan tanpa benar-benar berkomunikasi atau memberi ruang bagi anak untuk bercerita juga dapat berdampak pada tumbuh kembangnya.

"Jadi bukan hanya cuma 'aku nggak pernah marahin anak kok, aku nggak pernah ngomong kata-kata kasar, aku nggak pernah mukul' gitu ya, tapi itu tadi ketika ternyata bersama atau dalam satu ruang sama akhirnya tapi tidak pernah benar-benar mencoba untuk membangun koneksi emosional. Itu juga sebenarnya bisa berdampak buruk buat tumbuh kembang," ujarnya.

Ketika anak sedang mencoba bercerita, tapi orang tua justru sibuk melihat layar ponsel atau memikirkan pekerjaan, anak dapat mulai mempertanyakan satu hal,"Apakah aku cukup penting untuk diperhatikan?"

Jika pengalaman tersebut terus berulang, hal itu dapat memengaruhi cara anak membangun hubungan dengan orang lain. Pola attachment atau gaya keterikatan yang kurang aman juga dapat terbentuk dan terbawa hingga anak beranjak dewasa.

Orang Tua Masa Kini Tak Hanya Dituntut Punya Waktu

Persoalan ini menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua masa kini yang harus membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga.

Kreator konten sekaligus seorang ayah, Reza Andhika, mengatakan,  menyediakan waktu untuk anak memang penting. Namun, yang tidak kalah penting adalah bagaimana waktu tersebut benar-benar digunakan.

"Cuma aku pertanyaannya apakah yang dilakukan di waktu-waktu tersebut gitu, apakah memang benar-benar waktunya untuk anak atau nggak. Karena ya itu seberpengaruh itu gitu ya. Mungkin nggak cuma terinternalisasi dari anaknya, tapi juga mungkin saat anaknya sudah semakin dewasa ya perilaku-perilakunya pun akan muncul kali ya mbak ya, akan tereksternalisasi juga gitu ke perilaku anak," kata Reza.

Dengan kata lain, pulang ke rumah bukan otomatis berarti sudah memberikan waktu berkualitas untuk anak.

Tubuh mungkin sudah berada di rumah, tapi perhatian masih terbagi antara pekerjaan, ponsel, dan berbagai urusan lainnya.

Padahal, momen-momen sederhana bersama anak justru dapat menjadi kesempatan untuk membangun rasa aman dan kedekatan emosional.

Tak Perlu Mahal yang Penting Benar-Benar Hadir

Keterikatan emosional dengan anak tidak harus dibangun melalui aktivitas mahal atau membutuhkan waktu berjam-jam.

Orang tua dapat memulainya dari hal sederhana, seperti membaca buku bersama, mengobrol, mendengarkan cerita anak, atau menyediakan waktu khusus tanpa gangguan.

Orissa menjelaskan bahwa aktivitas tersebut dapat menjadi medium untuk membangun secure attachment atau gaya keterikatan yang aman hingga anak beranjak dewasa.

"Jadi maksudnya, ketika anak nanti mungkin menghadapi sesuatu di luar, oh dia tahu bahwa ada orang tua nih yang akan tetap menerimanya, dia tahu harus ke mana," ujar Orissa.

Â