Mata Juling Anak Terlambat Ditangani, Risiko Ini Bisa Muncul

Mata juling anak bukan sekadar masalah penampilan. Kenali risikonya jika terlambat ditangani.

oleh Aditya Eka PrawiraDiterbitkan 10 Agustus 2026, 16:36 WIB
Ketua PERDAMI Jaya dr. Julie Dewi Barliana mengingatkan mata juling pada anak perlu dideteksi dan ditangani sejak dini. Kondisi ini bukan sekadar persoalan penampilan, tetapi juga fungsi penglihatan. (Foto: Aditya Eka Prawira/Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta - Ketua PERDAMI Cabang DKI Jakarta (PERDAMI Jaya), dr. Julie Dewi Barliana, Sp.M(K), M.Biomed, mengatakan, mata juling atau strabismus pada anak tidak hanya berkaitan dengan penampilan. Kondisi tersebut perlu dideteksi dan ditangani sejak dini untuk mencegah ambliopia atau mata malas, terutama pada masa perkembangan penglihatan anak.

Julie mengatakan bahwa di lapangan masih ada anak dengan mata juling yang terlambat mendapatkan pemeriksaan karena kondisi tersebut kerap dianggap hanya sebagai persoalan penampilan atau dapat ditunda penanganannya.

"Jadi, lebih jarang dipakai atau mungkin sama sekali tidak dipakai mata tersebut dan dia akan menggunakan satu matanya yang dominan untuk melihat," ujar Julie di peluncuran Pusat Operasi Mata Juling RS Mata JEC @ Menteng pada Senin (10/8/2026)

Menurutnya, ketika salah satu mata lebih jarang digunakan, anak akan cenderung mengandalkan mata yang lebih dominan untuk melihat. Kondisi ini dapat menyebabkan mata malas atau ambliopia.

"Akibatnya apa? Mungkin bapak-bapak, ibu-ibu di sini pernah mendengar namanya lazy eye atau mata malas atau amblyopia," katanya.

Oleh sebab itu, Julie mengingatkan orangtua agar segera memeriksakan anak jika melihat adanya kondisi mata yang tidak lurus.

Pemeriksaan dan penanganan sejak dini penting untuk mencegah dampak lebih lanjut terhadap perkembangan fungsi penglihatan.

"Karena yang kita khawatirkan adalah mata malas tersebut yang kemudian akan berdampak pada perkembangan fungsi stereoskopi atau fungsi penglihatan tiga dimensinya," tambah Julie.

Lebih lanjut, Julie menjelaskan bahwa penanganan mata juling bukan sekadar untuk meluruskan posisi mata atau memperbaiki penampilan.

Strabismus juga dapat memengaruhi kualitas penglihatan sehingga penanganannya perlu dilakukan sejak awal. "Nah, jadi artinya tidak hanya masalah kosmetik, meluruskan mata, nampak cantik, tapi juga terkait dengan persembahan penglihatan pada seorang anak yang juga kita harus kerja sejak awal," ujar Julie.

Julie menjelaskan, strabismus dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain riwayat keluarga, kelahiran prematur, berat lahir rendah, kelainan refraksi yang tidak terkoreksi, perbedaan ketajaman penglihatan antara kedua mata, serta gangguan pada otot atau saraf penggerak mata.

"Kondisi neurologis, trauma, diabetes, hipertensi, dan penyakit sistemik tertentu juga dapat menyebabkan strabismus, khususnya yang muncul pada usia dewasa," katanya.

Oleh sebab itu, penanganan yang tepat diharapkan tidak hanya membantu mengoptimalkan fungsi penglihatan, tapi juga mendukung kualitas hidup anak. Penampilan mata yang lebih baik juga dapat membantu anak tumbuh dan beraktivitas dengan lebih percaya diri.

Julie juga menilai keberadaan Strabismus Surgery Center tidak hanya berperan dalam pelayanan kesehatan, tapi juga dapat menjadi sarana edukasi masyarakat, penelitian, serta kolaborasi dengan berbagai instansi dan institusi pendidikan.

"Jadi, dengan adanya Strabismus Surgery Center ini, tentunya tidak hanya jalan di pelayanan, tapi juga di edukasi masyarakat, kemudian di penelitian mungkin, atau di adanya kolaborasi atau kerja sama untuk penelitian, dan juga kerja sama dengan instansi-instansi atau institusi pendidikan lain," ujarnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya