Jelang Ospek, Maba Perlu Siapkan Mental untuk Hadapi Tantangan Ini

Mahasiswa baru tak cukup hanya siap kuliah. Ada tantangan mental yang perlu dihadapi saat ospek.

oleh Kanaya Nanda PutriDiterbitkan 10 Agustus 2026, 19:00 WIB
Mahasiswa baru mengikuti rangkaian kegiatan pengenalan kehidupan kampus. Selain kesiapan akademik, mahasiswa perlu menyiapkan mental untuk beradaptasi dengan lingkungan, teman, dan suasana baru. (unsplash/storyset)

Liputan6.com, Jakarta - Memasuki dunia perkuliahan, mahasiswa baru tidak hanya dituntut siap secara akademis. Kesiapan mental juga menjadi bekal penting untuk menghadapi lingkungan yang berbeda, membangun relasi, hingga mengelola tekanan selama menjalani kehidupan kampus.

Pakar Psikologi Perkembangan dan Pendidikan Universitas Airlangga (UNAIR), Dr. Dewi Retno Suminar, Dra. MSi, Psikolog, mengatakan tantangan mental menjadi salah satu persoalan yang paling sering dihadapi mahasiswa baru. Hal ini terutama terjadi karena mereka harus beradaptasi dengan lingkungan, teman, dan suasana yang benar-benar baru.

Dilansir dari laman resmi UNAIR, Senin (10/8/2026), Dewi menilai kemampuan beradaptasi menjadi salah satu pilar penting yang dapat mendukung keberhasilan mahasiswa, baik dalam proses belajar maupun menjalani kehidupan di kampus.

"Tantangan terbesar adalah adaptasi dengan lingkungan baru, teman maupun suasana baru. Kegagalan dalam beradaptasi menjadi sumber tantangan mental utama bagi maba (mahasiswa baru)," ujar Dewi.

Mahasiswa Baru Perlu Aktif Membangun Relasi

Dewi menjelaskan bahwa keberhasilan mahasiswa tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan akademis dan kemampuan kognitif. Pendidikan tinggi juga menuntut kemampuan dalam aspek perilaku serta sosial-emosional.

Mahasiswa dituntut lebih mandiri, bertanggung jawab, dan mampu mengelola diri sendiri. Oleh sebab itu, memiliki kemampuan akademis saja belum cukup untuk memastikan mahasiswa dapat menjalani perkuliahan dengan baik.

Salah satu hal yang perlu dilakukan mahasiswa baru adalah mulai membangun relasi sejak berada di lingkungan kampus.

Dewi menyarankan mahasiswa aktif mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Selain menjadi wadah untuk mengembangkan minat, UKM dapat mempertemukan mahasiswa dengan teman-teman yang memiliki ketertarikan serupa.

Interaksi tersebut dapat membantu mahasiswa merasa lebih nyaman sekaligus mempermudah proses adaptasi. Dukungan dari teman juga dapat membantu ketika mahasiswa menghadapi kecemasan maupun stres.

"Wajib bagi mahasiswa baru mencoba mendapatkan teman. Interaksi dengan teman yang memiliki minat yang sama akan membantu proses adaptasi dan menjadi dukungan ketika menghadapi kecemasan maupun stres," ujar dosen Fakultas Psikologi UNAIR itu.

Jangan Terjebak FOMO

Di tengah proses adaptasi, mahasiswa baru juga perlu bijak menggunakan media sosial. Dewi mengingatkan mahasiswa agar tidak merasa harus selalu mengikuti setiap informasi atau aktivitas yang dilakukan orang lain.

Fenomena tersebut dikenal sebagai fear of missing out (FOMO). Untuk menghadapinya, mahasiswa dapat menerapkan joy of missing out (JOMO), yaitu tetap merasa tenang meskipun tidak selalu mengikuti semua informasi yang beredar.

Dewi juga menyarankan mahasiswa mengutamakan informasi dari kanal resmi universitas. Ketika mulai merasa cemas, mahasiswa dapat melakukan self-talk untuk membantu mengelola pikiran dan perasaan.

Manfaatkan Dukungan dari Kampus dan Keluarga

Selain membangun pertemanan, mahasiswa baru perlu memanfaatkan berbagai sumber dukungan yang tersedia. Dewi menekankan pentingnya peran dosen pembimbing akademik, keluarga, teman sebaya, dan lingkungan kampus dalam membantu mahasiswa melewati masa adaptasi.

Mahasiswa baru dapat memulainya dengan:

  • Mengenali dosen pembimbing akademik.
  • Menjalin komunikasi dengan sesama mahasiswa dalam satu kelompok bimbingan.
  • Menyampaikan perkembangan studi kepada orang tua secara jujur dan objektif.

Dukungan sosial tersebut dapat menjadi salah satu modal penting untuk menjaga kondisi mental selama menjalani proses perkuliahan.

Jika kesulitan beradaptasi berlangsung terus-menerus hingga memicu stres, mahasiswa tidak perlu ragu mencari bantuan. Mahasiswa dapat menggali informasi dan menghubungi layanan dukungan yang disediakan masing-masing kampus.

Informasi mengenai layanan tersebut umumnya telah disosialisasikan sejak rangkaian kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB).

Dewi pun mengingatkan mahasiswa baru untuk tidak takut menghadapi lingkungan yang berbeda dan terus membangun jejaring sosial.

"Bersyukurlah karena kalian telah menjadi mahasiswa di salah satu universitas terbaik di Indonesia. Banyaklah mendengar, bertanya, namun sedikit berbicara untuk mengenali lingkungan yang dimasuki. Gunakan jurus tangguh, pantang menyerah, dan perbanyak teman serta jejaring sosial agar dapat berkembang dengan baik," pungkas Dewi.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya