Kesaksian Dokter Ungkap Kondisi Mengkhawatirkan Diego Maradona Sebelum Meninggal

Kesaksian dokter ungkap kondisi Diego Maradona sebelum meninggal dan tanda penting yang terlewat.

oleh Septian DenyDiterbitkan 20 Agustus 2026, 10:15 WIB
Legenda sepak bola Argentina Diego Maradona meninggal dunia pada 25 November 2020. Dalam persidangan terbaru, dokter mengungkap kondisi kesehatannya yang memburuk sebelum kematian. (AFP/Sven Nackstrand)

Liputan6.com, Jakarta - Diego Maradona mengalami kondisi kesehatan yang semakin memburuk sebelum meninggal dunia. Kondisi tersebut seharusnya menjadi tanda peringatan bagi tim medis yang merawatnya, menurut seorang dokter spesialis yang memberikan kesaksian dalam persidangan kasus kematian legenda sepak bola Argentina tersebut.

Menurut laporan Al Jazeera yang dikutip pada Rabu (19/8/2026), ahli nefrologi Hernan Trimarchi bersaksi di pengadilan pada Selasa. Dia mengungkapkan bahwa Maradona telah mengalami penyakit ginjal kronis sebelum meninggal dunia.

Persidangan yang berlangsung di dekat Buenos Aires itu menyelidiki dugaan kelalaian kriminal oleh tim medis yang menangani Maradona selama masa pemulihan, seperti dikutip dari Kanal Global pada Kamis, 20 Agustus 2026.

Maradona meninggal dunia di umur 60 tahun pada 25 November 2020. Saat itu, dia tengah menjalani pemulihan setelah menjalani operasi akibat pembekuan darah di otak. Dia ditemukan meninggal di sebuah rumah sewaan di kawasan Tigre, Buenos Aires.

Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa Maradona meninggal akibat gagal jantung yang disertai edema paru akut, yaitu kondisi ketika cairan menumpuk di paru-paru. Tujuh tenaga kesehatan, termasuk dokter pribadi, psikiater, dan staf perawatnya, didakwa atas dugaan pemberian perawatan yang sangat tidak memadai.

Persidangan juga bertujuan menentukan apakah keputusan untuk merawat Maradona di rumah pribadi, bukan di fasilitas medis, telah membahayakan keselamatannya.

Kondisi Ginjal Seharusnya Jadi Peringatan

Dalam kesaksiannya, Trimarchi mengatakan ginjal Maradona memiliki berat yang tidak normal dan menunjukkan lesi yang berkaitan dengan riwayat obesitas, penggunaan kokain, serta hipertensi.

Menurut Trimarchi, kondisi tersebut seharusnya membuat Maradona mendapatkan pemantauan medis yang lebih intensif.

"Setidaknya," pasien seharusnya menjalani "pemeriksaan medis setiap hari, perawatan perawat setiap hari, tes darah, dan pemantauan tanda-tanda vital," kata Trimarchi.

Namun, dia mengatakan tidak menemukan catatan yang menunjukkan Maradona menjalani tes darah selama dua minggu masa pemulihannya.

Selain kondisi ginjal, perubahan fisik Maradona dan tekanan darahnya juga seharusnya menjadi perhatian serius.

Dalam persidangan pada April lalu, pengadilan memperlihatkan sejumlah foto Maradona saat terbaring di tempat tidur menjelang kematiannya. Perutnya terlihat membengkak akibat edema.

Hasil autopsi juga menunjukkan bahwa Maradona kemungkinan mengalami penderitaan selama beberapa jam sebelum meninggal.

Trimarchi menjadi saksi ahli ketiga yang memberikan keterangan dalam persidangan. Dia menilai tim medis telah mengabaikan sejumlah tanda penting terkait kondisi kesehatan Maradona.

"Tim dokter Maradona telah melewatkan tanda-tanda penting," ujarnya.

Jika terbukti bersalah, tujuh tenaga kesehatan yang menjadi terdakwa terancam hukuman penjara hingga 25 tahun. Mereka, bagaimanapun, membantah bertanggung jawab atas kematian Maradona.

Persidangan kasus ini diperkirakan masih akan berlangsung hingga setidaknya September mendatang.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya