Liputan6.com, Jakarta - Berbicara saraf tepi mungkin masih asing di telinga orang awam. Namun, Anda pasti setiap hari merasakan manfaat dari saraf tepi.
Saraf tepi atau perifer adalah saraf yang menghubungkan otak dan sumsum tulang belakang dengan berbagai bagian tubuh. Jaringan ini membawa rasa sentuhan, panas, dingin, dan nyeri, sekaligus meneruskan perintah untuk bergerak.
Advertisement
Bila saraf mengalami tekanan atau cedera, penghantaran sinyal tersebut dapat terganggu seperti disampaikan Kepala Staf Medik Fungsional Neuroscience Siloam Hospitals TB Simatupang, Dr. dr. Ferry Senjaya, Sp.BS, IFAANS.
Ferry mengungkapkan ada berbagai penyebab saraf tepi bisa mengalami cedera sehingga fungsinya terganggu. Mulai dari kecelakaan, luka sayat, patah tulang, terjepit, tumor, atau komplikasi operasi.
Kondisi cedera pada saraf tepi bisa menyebabkan orang tersebut mengalami:
• tangan/kaki menjadi lemah atau tidak bisa digerakkan,
• mati rasa atau kesemutan,
• nyeri seperti terbakar atau tersengat listrik,
• kehilangan fungsi tertentu, misalnya drop hand atau kesulitan menggenggam.
"Misalnya seseorang usai kecelakaan lalu merasa kok tangan saya lemas, atau tangan saya kebas, atau kaki misalnya gitu. Kondisi-kondisi ini mesti dievaluasi. Akan lebih baik kalau kita bisa kenali dari awal," tutur Ferry dalam temu media pada Rabu (18/8/2026).
Pemeriksaan klinis dilakukan untuk mengetahui bagian saraf yang mengalami gangguan sekaligus menilai apakah saraf masih memiliki kemungkinan untuk pulih dengan sendirinya atau membutuhkan penanganan tertentu.
Cedera Saraf Tepi, Tak Selalu Harus Operasi
Ferry mengungkapkan pasien yang mengalami cedera saraf tepi tidak selalu harus operasi. Dari pemeriksaan klinis dokter akan menilai Tindakan yang perlu dilakukan.
"Harus nilai juga. Apakah si saraf ini dia bisa recovery dengan sendirinya atau tidak. Kalau dia bisa recover dengan sendirinya enggak harus operasi," tutur Ferry.
Bila berdasarkan penilaian awal saraf tidak bisa pulih sendiri maka diperlukan tindakan operasi atau bedah sarafi perifer.
“Peripheral Nerve Surgery atau bedah saraf perifer/tepi yaitu prosedur operasi untuk memperbaiki, melepaskan, menyambungkan, atau mengalihkan saraf yang mengalami kerusakan di luar otak dan sumsum tulang belakang," tuturnya.
Pada kondisi tertentu, saraf dapat diperbaiki melalui operasi mikro dengan menyambungkan kembali ujung saraf, menggunakan nerve graft/conduit, melakukan neurolysis untuk membebaskan saraf yang terjepit atau terbungkus jaringan parut, atau melakukan nerve transfer, yaitu mengalihkan saraf yang masih berfungsi untuk membantu menghidupkan kembali otot yang kehilangan persarafan.
Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan mengingatkan diagnosis awal sangat penting. Literatur menunjukkan bahwa keterlambatan diagnosis dan referral masih menjadi salah satu hambatan dalam penanganan cedera saraf perifer, sementara cedera saraf bersifat kompleks dan time-sensitive.
"Karena sifatnya yang cukup kompleks, untuk memaksimalkan clinical outcome, kami bekerja sama dengan dokter anestesiologi dan terapi intensif serta dokter kedokteran fisik & rehabilitasi,” tutur Ferry.
Rehabilitasi Medik Pasca Bedah Saraf Tepi
Setelah tindakan, proses pemulihan juga tidak berhenti pada operasi. Rehabilitasi medik menjadi bagian penting untuk membantu pasien mengembalikan fungsi yang menurun secara bertahap.
Kepala Departemen Rehabilitasi Medik Siloam Hospitals TB Simatupang, dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi, Theresia D. Arini,menjelaskan rehabilitasi bertujuan mempertahankan kemampuan yang masih baik sekaligus melatih kembali fungsi yang mengalami penurunan.
“Rehabilitasi medik bertujuan mempertahankan kemampuan yang masih baik dan melatih kembali fungsi yang menurun,” jelas Theresia.
Program rehabilitasi dapat meliputi latihan gerak, penguatan otot, pengelolaan nyeri, hingga latihan aktivitas sehari-hari. Waktu dimulainya latihan dan durasinya disesuaikan dengan jenis gangguan, tindakan yang dijalani, serta perkembangan masing-masing pasien.
“Pemulihan saraf tidak selalu berlangsung cepat. Karena itu, sasaran rehabilitasi disesuaikan dengan kondisi pasien dan dievaluasi secara berkala,” katanya.
Fokus rehabilitasi pun dapat berubah seiring perkembangan pasien, mulai dari mengatasi nyeri, mempertahankan kekuatan otot dan fleksibilitas sendi, memperbaiki postur, hingga membantu pasien kembali mandiri dalam menjalani aktivitas sehari-hari.