Deddy Corbuzier Ungkap Cara Bikin Orang Betah Dengar Podcast di Era Brain Rot

Deddy Corbuzier ungkap cara bikin pendengar betah menikmati podcast di tengah maraknya konten brain rot.

oleh Aditya Eka PrawiraDiterbitkan 21 Agustus 2026, 18:46 WIB
Di tengah maraknya konten brain rot, Deddy Corbuzier mengatakan setiap orang memiliki karakter berbeda dalam menikmati konten, termasuk podcast berdurasi panjang. (Foto: Aditya Eka Prawira/Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta - Mendengarkan podcast kini menjadi hobi baru bagi banyak orang. Saking menariknya, tidak sedikit yang mencoba peruntungan dengan menjadi podcaster. Namun, sebagian akhirnya berhenti di tengah jalan karena merasa usaha yang dilakukan tidak sebanding dengan jumlah view yang diperoleh.

Menanggapi fenomena tersebut, Founder Close The Door, Deddy Corbuzier, mengatakan, podcaster tidak perlu terlalu membandingkan jumlah penonton kontennya dengan konten milik orang lain.

Menurut Deddy, jumlah penonton yang tidak terlalu besar bukan berarti sebuah konten tidak memiliki nilai. Dia mencontohkan konten milik Founder Top Coach Indonesia, Coach Tom MC Ifle.

"Saya yakin Coach Tom nggak akan ngalahin video saya. Tapi saya juga yakin penontonnya Coach Tom adalah orang-orang yang benar-benar ingin belajar dari dia. Atau orang-orang yang nggak sengaja mampir, ingin tahu masalah ekonomi, masalah bisnis dan sebagainya," kata Deddy dalam konferensi pers Indonesian Podcast Festival pada Kamis, 20 Agustus 2026.

"Jadi penontonnya mungkin nggak besar, mungkin kecil. Mungkin 50 ribu, mungkin 100 ribu, mungkin 10 ribu. Tapi penontonnya Coach Tom adalah penonton-penonton yang setia banget sama dia, percaya dia ngomong," lanjutnya.

Deddy kemudian memberikan gambaran mengenai kreator yang baru memiliki sekitar 1.000 penonton. Menurutnya, angka tersebut sebenarnya tetap memiliki nilai jika audiens yang datang merupakan orang-orang yang benar-benar tertarik dengan konten tersebut.

Deddy juga mengajak para kreator melihat jumlah penonton dari perspektif berbeda. Dia menggambarkan bagaimana 800 atau 1.000 orang sebenarnya merupakan jumlah yang sangat besar jika dikumpulkan secara langsung di satu tempat.

"Anda belum pernah kan digigit nyamuk 800? 800 orang dikumpulin, satu Senayan lho itu. Ya, karena mereka cuma lihat angkanya," ujarnya.

Menurut Deddy, perspektif tersebut penting agar kreator tidak hanya menjadikan angka view sebagai ukuran keberhasilan.

Cara Bikin Penonton Betah Dengar Podcast

Di tengah maraknya konten brain rot di media sosial, Deddy juga berbicara mengenai tantangan membuat orang bertahan mendengarkan podcast berdurasi panjang.

Menurutnya, konten brain rot tidak selalu harus dipandang sebagai sesuatu yang buruk. Dalam kondisi tertentu, konten singkat tersebut juga bisa menjadi hiburan bagi seseorang.

"Karena konten brain rot tersebut memang kadang-kadang berguna untuk manusia. Kadang-kadang, ketika sedang stres dan sebagainya, saya juga mulai membuka TikTok lagi," kata Deddy.

Dia menyadari setiap orang memiliki karakter dan preferensi berbeda dalam mengonsumsi konten. Sebagian orang mungkin memilih konten singkat, sedangkan sebagian lainnya tetap bersedia menyediakan waktu untuk menikmati podcast atau video berdurasi panjang.

"Kayaknya menurut saya, some people memang akhirnya mau memberikan waktu untuk menonton podcast atau long video call. Tapi, pertanyaan menariknya adalah bagaimana cara membuat mereka senang menontonnya dan mendengarkannya? Setiap orang juga punya karakter yang berbeda-beda," ujarnya.

Bagi Deddy, salah satu hal yang paling penting untuk membuat audiens bertahan adalah cara berbicara dan kualitas suara.

"Tapi kalau nanyanya ke saya, menurut saya, yang paling penting adalah cara Anda berbicara dan kualitas suara," ujarnya.

Dia bahkan memiliki kebiasaan khusus untuk memastikan kualitas audio podcast tetap nyaman didengar. Deddy mengaku selalu mengecek suara menggunakan headphone.

"Ini mungkin salah satu rahasia banyak orang nggak tahu juga, saya selalu ngecek suara itu pakai headphone," katanya.

Deddy mengatakan penggunaan headphone membantunya mengontrol suara ketika berbicara, termasuk saat tertawa atau mengubah posisi tubuh.

"Makanya saya mungkin salah satu podcaster yang masih pakai headphone sampai sekarang. Karena saya bisa kontrol ketika saya ketawa, saya dengar suara saya, saya bisa mundur sedikit, saya bisa nengok ke tangan, suara saya hilang, saya bisa kontrol itu," ujarnya.

Deddy Dorong Jurnalis Buat Konten Sendiri

Tak hanya membahas cara mempertahankan audiens, Deddy juga mendorong para jurnalis untuk memanfaatkan kemampuan dan pengetahuan yang mereka miliki dengan membuat konten sendiri, termasuk podcast. Menurutnya, pengalaman sebagai jurnalis merupakan modal yang tidak dimiliki semua orang.

"Kalau saya menyarankan, siapa pun itu, make your own content. Make your own podcast one day. Karena kamu punya knowledge yang orang lain belum tentu punya," ujar Deddy.

"You are a journalist yang orang lain nggak punya. You have knowledge yang orang lain tidak mampu untuk seperti itu. Dari situ akan membuka peluang-peluang, pintu-pintu yang luar biasa, yang mungkin sekarang tidak pernah berpikir bahwa itu bisa terjadi," tambahnya.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya