EMC Gandeng King's College London Transfer Pengetahuan Penanganan Penyakit Saraf

EMC Healthcare dan King's College London berbagi pengetahuan untuk meningkatkan pemahaman dokter tentang Parkinson dan penyakit saraf lainnya.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 22 Agustus 2026, 15:31 WIB
Pembukaan The 1st International King's - EMC Neuroscience Masterclass and Symposium pada Sabtu (22/8/2026) di Jakarta. Acara ini turut dihadiri Menkes Budi Gunadi Sadikin (kemeja batik cokelat).

Liputan6.com, Jakarta - EMC Healthcare menggelar forum ilmiah yang membahas perkembangan terbaru di bidang neurosains pada Sabtu, 22 Agustus 2026 di Jakarta. Forum tersebut menghadirkan pakar saraf dari berbagai negara termasuk King's College London juga Indonesia untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman terhadap dokter spesialis serta dokter umum di Indonesia.

Forum tersebut membahas berbagai inovasi dan wawasan terkini di bidang neurosains, termasuk Parkinson, movement disorder, serta penyakit saraf lainnya. Kegiatan ini menjadi bagian dari kolaborasi akademik EMC Healthcare dengan King's College London yang telah berlangsung selama sekitar tiga tahun.

CEO EMC Healthcare, Jusuf Halimi, mengatakan salah satu bahasan dalam simposium ini tentang Parkinson dan movement disorder. Di Indonesia Parkinson dan movement disorder kerap terlambat didiagnosis, sehingga penanganan menjadi lebih kompleks sekaligus meningkatkan biaya perawatan.

"Parkinson, kemudian juga movement disorder yang lain itu kerap sangat terlambat ketika didiagnosa sehingga treatment-nya menjadi lebih kompleks, lebih susah, dan tentunya juga meningkatkan biaya.” ujar Jusuf di sela-sela The 1st International King's - EMC Neuroscience Masterclass and Symposium bertema Neurology Today: Translating Discoveries Into Practice pada Sabtu (22/8/2026) di Jakarta.

Menurut Jusuf, kolaborasi dengan King's College London tidak hanya dilakukan melalui forum ilmiah. EMC Healthcare sebelumnya juga mengirim dokter spesialis saraf, dokter rehabilitasi, serta tenaga kesehatan bidang rehabilitasi untuk mengikuti pelatihan di King’s College London yang ada di Dubai.

 Jusuf berharap forum tersebut dapat memperluas pengetahuan dokter mengenai diagnosis dan penanganan penyakit saraf, sekaligus membantu tenaga medis membedakan kondisi dengan gejala yang dapat menyerupai satu sama lain.

"Jadi ini semua tentunya membantu kita untuk meningkatkan kesadaran mengenai masalah Parkinson yang mungkin awal-awalnya terutama di Indonesia ini hanya dianggap faktor usia. Padahal hal-hal yang seperti ini bisa diatasi sehingga bisa meningkatkan kualitas hidup daripada penderita-penderita ini," tutur Jusuf.

“Perlu pengetahuan yang cukup dari para dokter neurologis mengenai kapan itu stroke, kapan itu Parkinson, kapan itu demensia,” ujarnya.

 

Menkes Dorong Pertukaran Ilmu Penyakit Neuro

Menkes Budi Gunadi Sadikin usai acara The 1st International King's - EMC Neuroscience Masterclass and Symposium bertema Neurology Today: Translating Discoveries Into Practice pada Sabtu (22/8/2026) di Jakarta.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin yang hadir saat pembukaan The 1st International King's - EMC berharap kolaborasi semacam ini dapat mendorong lebih banyak dokter dan peneliti Indonesia untuk terhubung dengan para ahli di luar negeri. Dengan begitu, terjadi pertukaran pengetahuan dan pengalaman yang dapat mempercepat pemahaman mengenai penyakit saraf di Indonesia.

“Saya berharap bisa menstimulasi keinginan dokter-dokter di Indonesia dan peneliti Indonesia terkait penyakit neuro seperti ini untuk bisa berhubungan dengan teman-teman di luar negeri,” ujar Budi.

Budi pun berharap lewat acara simposium yang digelar EMC Healthcare dengan King's College London ini membuat pengetahuan yang dimiliki dokter Indonesia setara dengan lur negeri. 

"Terpenting nantinya bisa mengakselerasi pemahaman teman-teman Indonesia terhadap penyakit ini setara dengan yang di luar negeri,” tandasnya.    

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya