Gerak Melambat dan Tremor pada Lansia Jangan Dianggap Wajar, Bisa Jadi Parkinson

Tubuh kaku dan gerakan melambat pada lansia sebagai hal wajar pada orang tua. Padahal kondisi tersebut bisa menjadi tanda Parkinson.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 22 Agustus 2026, 16:15 WIB
Ilustrasi lansia mengalami tremor saat istirahat. Awas, bisa jadi itu gejala Parkinson (Foto: Unsplash/Anna Keibalo)

Liputan6.com, Jakarta - Gerakan tubuh yang semakin lambat atau munculnya tremor pada usia lanjut kerap dianggap hal normal pada orang lanjut usia (lansia). Padahal, kondisi tersebut bisa jadi gejala awal Parkinson.

"Kita (awam) seringkali memahami lansia itu wajar kalau kaku, wajar kalau gerakannya lambat. Tapi sebetulnya itu bukan hal yang wajar," tutur dokter spesialis neurologi, Gloria Tandjung.

Parkinson adalah gangguan saraf yang berkembang secara perlahan dan dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam menggerakkan tubuh.

Gejala Parkinson bisa berbeda pada setiap orang. Pada tahap awal, lanjut Gloria, gejalanya sering kali ringan sehingga banyak orang menganggapnya sebagai hal biasa.

Secara umum gejala Parkinson diantaranya:

1. Gerakan Menjadi Lebih Lambat

"Gerakan lambat itu seperti apa? Yang pertama ketika berjalan langkah menjadi lebih kecil-kecil dan juga ayunan tangan akan berkurang," tutur dokter yang praktik di RS EMC Sentul dan RS EMC Alam Sutera itu. 

2. Kekakuan

Otot pada tangan, kaki, atau leher dapat terasa kaku sehingga gerakan tubuh menjadi tidak senyaman sebelumnya.

3. Tremor

"Gejala yang lain adalah tremor atau gemetaran. Gemetaran itu maksudnya ketika pasien sedang resting, sedang istirahat, ada tangan gemetar di satu sisi," tuturnya. 

Gloria mengatakan kurangnya pemahaman mengenai gejala Parkinson membuat sebagian orang menganggap perubahan gerakan sebagai sesuatu yang wajar karena bertambahnya usia. Padahal, pemeriksaan diperlukan untuk memastikan apakah perubahan tersebut merupakan bagian dari proses penuaan atau justru tanda penyakit.

"Apabila mengalami gejala, kok jalan jadi lebih kaku, lebih lambat, ataupun ada gemetar atau tremor sebaiknya langsung diskusikan kepada dokter untuk mengetahui apakah ini sesuatu yang normal atau sebenarnya gejala dari Parkinson," saran dokter yang pernah mengikuti Fellowship at Parkinson's and Movement disorders Centre of Excellence, King's College Hospital London, Dubai, UAE pada 2025 ini.

Parkinson Terdeteksi Lebih Awal agar Bisa Ditangani Lebih Baik

Dokter spesialis neurologi, Gloria Tandjung dari RS EMC Sentul dan RS EMC Alam Sutera bicara tentang gejala Parkinson.

Diagnosis sejak awal penting agar pasien dapat memperoleh penanganan yang sesuai dan mempertahankan kualitas hidup lebih baik.

“Yang penting kita harus mendiagnosis secara cepat dari awal supaya tata laksananya lebih bagus dan kualitas hidup lebih bagus,” kata Gloria.

Menurutnya, Parkinson yang terlambat ditangani dapat berdampak besar terhadap kualitas hidup pasien. Kondisi tersebut juga dapat disertai berbagai komplikasi, termasuk gangguan menelan.

Pada kondisi yang lebih lanjut, kekakuan di area leher dapat membuat pasien mengalami kesulitan menelan. Kondisi tersebut kemudian dapat menyebabkan penurunan berat badan dan malnutrisi. Gangguan menelan juga meningkatkan risiko makanan atau minuman masuk ke saluran pernapasan dan menimbulkan komplikasi lainnya.

Penyebab Parkinson

Gloria menambahkan, semakin bertambah usia risiko terkena Parkinson makin tinggi. Biasanya ketika berusia dia atas 60 tahun.

Mengenai penyebab, Gloria mengatakan penyakit ini merupakan penyakit multifaktor. Faktor genetik menjadi salah satu faktor risiko, terutama pada kasus yang muncul di usia lebih muda. Namun, faktor genetik hanya berperan pada sebagian kasus.

“Sebagian besar kalau untuk pemicu sampai saat ini kita tidak tahu persisnya, tapi kalau untuk usia muda banyak juga yang faktor dari segi genetik,” ujarnya.

Selain faktor genetik, penelitian juga menemukan paparan pestisida dan logam berat sebagai salah satu faktor risiko Parkinson. Namun, Gloria menegaskan masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memahami seberapa besar pengaruh faktor tersebut terhadap munculnya penyakit.

Indonesia Diprediksi Masuk 10 Besar Kasus Parkinson Terbanyak pada 2050

Indonesia diprediksi menjadi salah satu negara dengan jumlah penderita Parkinson yang tinggi di dunia pada 2050. Bahkan diperkirakan berada di posisi keenam dunia dalam jumlah penderita Parkinson pada 2050.

“Indonesia ini di 2050 itu akan menjadi salah satu dari 10 negara dengan penderita Parkinson terbanyak. Jadi kita akan juara 6 penderita Parkinson di seluruh dunia,” ujar Gloria yang juga menjadi speaker dalam The 1st International King's - EMC Neuroscience Masterclass and Symposium, Sabtu (22/8/2026), di Jakarta.

Menurut Gloria, meningkatnya usia harapan hidup membuat penyakit neurodegeneratif seperti Parkinson berpotensi semakin banyak ditemukan.

“Karena usia harapan kehidupan meningkat, diabetes sudah terkendali, hipertensi sudah terkendali, usia harapan kehidupan lebih tinggi, otomatis banyaknya penyakit yang bersifat neurodegeneratif ini pun makin banyak,” katanya.

Gloria menilai Indonesia perlu mempersiapkan diri melalui edukasi, pencegahan, diagnosis, peningkatan kemampuan dokter, dan penelitian. “Yang pasti harus ada edukasi,” ujarnya.

Edukasi diperlukan agar masyarakat mengenali gejala awal Parkinson dan tidak menganggapnya sebagai kondisi normal akibat penuaan. Selain itu, Indonesia juga membutuhkan lebih banyak data mengenai Parkinson melalui register dan kolaborasi penelitian.

“Lalu, penting juga research. Jadi kita perlu data sebanyak-banyaknya tentang kondisi Parkinson Indonesia seperti apa,” tandas Gloria.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya