Menguap Menular karena Apa? Ada Dua Hipotesis yang Banyak Dibahas

Menguap menular saat melihat orang lain ternyata bukan sekadar kebetulan. Apa penyebabnya?

oleh Kanaya Nanda PutriDiterbitkan 25 Agustus 2026, 18:00 WIB
Menguap tidak selalu hanya menandakan rasa lelah atau bosan. Saat melihat orang lain menguap, kita juga bisa ikut menguap. Fenomena ini dikenal sebagai contagious yawning. | unsplash.com

Liputan6.com, Jakarta - Menguap merupakan hal yang umum terjadi ketika seseorang merasa lelah atau bosan. Namun, ada fenomena menarik ketika seseorang ikut menguap setelah melihat, mendengar, bahkan hanya membayangkan orang lain sedang menguap.

Fenomena tersebut dikenal sebagai contagious yawning atau menguap menular, seperti dikutip dari laman Psychology Today, Senin (24/8/2026).

Contagious yawning dialami sekitar 40 s.d 60 persen orang ketika terpapar pemicunya. Fenomena serupa juga ditemukan pada sejumlah hewan, termasuk anjing, monyet, babun, hingga burung beo.

Penyebab pasti menguap dapat menular masih belum diketahui. Namun, ada dua hipotesis utama yang banyak dibahas, yaitu peniruan bawah sadar dan kaitannya dengan empati.

Meniru Tanpa Disadari

Salah satu hipotesis menyebut contagious yawning sebagai bentuk imitasi otomatis. Fenomena ini juga dikenal sebagai chameleon effect atau efek bunglon, yaitu ketika seseorang secara alami meniru tindakan orang lain tanpa menyadarinya.

Perilaku tersebut diduga dapat membantu memperkuat hubungan sosial. Penelitian pada burung beo, misalnya, menemukan bahwa perilaku menguap dan meregangkan tubuh dapat terjadi secara bersamaan.

Peniruan tanpa sadar juga dikaitkan dengan meningkatnya rasa suka serta hubungan sosial yang lebih baik.

Berkaitan dengan Empati

Hipotesis lainnya mengaitkan menguap menular dengan empati, yaitu kemampuan memahami dan berbagi perasaan orang lain.

Salah satu penelitian menunjukkan bahwa anjing peliharaan lebih sering menguap ketika melihat pemiliknya menguap dibandingkan saat melihat orang asing menguap.

Pada manusia dan primata, contagious yawning disebut mulai muncul sekitar usia 4 tahun. Usia tersebut bertepatan dengan berkembangnya theory of mind, yaitu kemampuan memahami bahwa orang lain memiliki pikiran dan perasaan yang berbeda dari diri sendiri.

Ada Peran Neuron Cermin

Penjelasan lain mengenai menguap menular berkaitan dengan sistem mirror neuron atau neuron cermin. Sel-sel ini aktif ketika seseorang melakukan suatu tindakan atau mengamati orang lain melakukan tindakan yang sama.

Ketika melihat orang lain menguap, sejumlah bagian otak yang berkaitan dengan pemrosesan emosi dan kesadaran sosial juga dapat ikut aktif.

Sistem tersebut diduga membantu seseorang memahami pengalaman orang lain sehingga respons menguap lebih mudah "menular".

Meski demikian, hubungan antara contagious yawning dan empati belum sepenuhnya terbukti. Beberapa penelitian tidak menemukan kaitan yang kuat antara keduanya.

Oleh sebab itu, penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memahami mekanisme serta fungsi sosial di balik fenomena menguap menular.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya