Liputan6.com, Jakarta - Hubungan asmara menjadi bagian dari perkembangan anak saat memasuki masa remaja. Namun, bagi orang tua, ketika anak mulai tertarik berkencan, hal ini juga dapat memunculkan kekhawatiran, termasuk kemungkinan anak terjebak dalam hubungan yang tidak sehat.
Dokter anak Kristen Cook, MD, menyebut orang tua sebaiknya tidak hanya berfokus pada usia ketika anak mulai berkencan. Hal yang lebih penting adalah melihat apakah remaja sudah memiliki kesiapan emosional untuk membangun hubungan yang sehat, dikutip dari Psychology Today (25/8/2026).
Advertisement
Bukan Hanya Soal Usia
Menurut Cook, tidak ada usia tertentu yang secara otomatis membuat seorang remaja siap menjalani hubungan romantis. Keterampilan emosional setiap anak berkembang dengan kecepatan yang berbeda.
Sebelum mulai berpacaran, remaja perlu memiliki beberapa kemampuan, antara lain:
- Berkomunikasi secara jujur dan penuh hormat.
- Menghadapi konflik tanpa terbawa emosi.
- Memahami batasan diri dan menghormati batasan orang lain.
- Menjaga keseimbangan antara hubungan asmara, keluarga, sekolah, hobi, dan pertemanan.
- Merasa nyaman meminta bantuan kepada orang dewasa yang dipercaya ketika menghadapi situasi yang tidak nyaman.
Belajar dari Lingkungan Terdekat
Kemampuan membangun hubungan yang sehat sebenarnya dapat dipelajari jauh sebelum anak memiliki pacar.
Anak mengamati bagaimana orang dewasa di sekitarnya berinteraksi, menyelesaikan perbedaan pendapat, meminta maaf, menunjukkan kasih sayang, dan menghormati batasan.
Karena itu, hubungan yang ditunjukkan orang tua, kerabat, maupun teman turut membentuk pemahaman anak tentang kepercayaan, komunikasi, kebaikan, dan rasa hormat.
Jangan Remehkan Perasaan Remaja
Cook juga mengingatkan orang tua untuk tidak menganggap hubungan remaja sebagai sekadar cinta monyet. Meski hubungan tersebut terlihat singkat atau tidak serius bagi orang dewasa, pengalaman itu bisa terasa sangat berarti bagi remaja.
Hal ini berkaitan dengan perkembangan otak pada masa remaja. Bagian otak yang berkaitan dengan emosi berkembang lebih awal dibandingkan area yang berperan dalam perencanaan, penilaian, dan pengendalian impuls.
Karena itu, ketika anak mengalami patah hati, respons seperti "nanti juga membaik" atau "itu bukan masalah besar" dapat membuat mereka merasa emosinya tidak dipahami.
Orang tua sebaiknya mengakui perasaan anak dan menunjukkan bahwa mereka tetap memiliki ruang yang aman untuk bercerita.
Komunikasikan Tanpa Menghakimi
Ketika orang tua merasa hubungan anaknya bermasalah, hindari kritik secara langsung. Sikap tersebut dapat membuat remaja bersikap defensif dan justru menjauh.
Sebaliknya, rasa ingin tahu dapat menjadi cara untuk membuka ruang percakapan.
Orang tua dapat menanyakan bagaimana perasaan anak ketika bersama pasangannya. Misalnya, apakah anak merasa dihormati, nyaman menyampaikan pendapat, serta dapat menjadi dirinya sendiri dalam hubungan tersebut.
Ajarkan Ciri Hubungan Sehat
Menurut Cook, hubungan yang sehat ditandai dengan rasa saling menghormati, kejujuran, kepercayaan, dukungan saat menghadapi masa sulit, kemampuan menyelesaikan masalah, dan penghargaan terhadap batasan pribadi.
Sebaliknya, orang tua perlu membantu remaja mengenali perilaku yang terkadang disalahartikan sebagai bentuk cinta. Contohnya, kecemburuan berlebihan, memantau lokasi pasangan, menuntut balasan pesan dengan cepat, menjauhkan pasangan dari teman atau keluarga, hingga memaksa melakukan aktivitas dewasa.
Pada akhirnya, tujuan orang tua bukan sekadar menentukan kapan anak boleh berpacaran, melainkan mempersiapkan mereka untuk menjalani hubungan yang sehat.
Karena itu, penting bagi orang tua untuk membangun rasa percaya diri dan harga diri anak. Dengan begitu, remaja dapat memahami bahwa dirinya pantas diperlakukan dengan baik, dihargai, dan dihormati dalam sebuah hubungan.