Liputan6.com, Jakarta - Menurunkan berat badan tidak selalu cukup dengan mengurangi porsi makan dan memperbanyak aktivitas fisik. Bagi sebagian orang dengan obesitas, tantangan diet juga bisa datang dari pikiran yang terus tertuju pada makanan, bahkan ketika tubuh sebenarnya sudah kenyang. Kondisi ini dikenal sebagai food noise.
Sederhananya, food noise adalah kondisi ketika pikiran terus dipenuhi keinginan atau dorongan untuk makan. Seseorang bisa terus memikirkan makanan, membayangkan makanan tertentu, atau merasa ingin makan meski secara fisik tidak sedang lapar.
Kondisi tersebut kerap disalahartikan sebagai kurangnya kemauan atau disiplin dalam menjalani diet. Padahal, ada berbagai faktor yang dapat memengaruhi hubungan seseorang dengan makanan.
Advertisement
Food Noise Bukan Sekadar Kurang Disiplin
Psikolog LIGHThouse, Tara de Thouars, menjelaskan, food noise memiliki kaitan yang kompleks dengan faktor biologis, emosional, kebiasaan, hingga lingkungan sehari-hari. "Pola pikir membentuk bagaimana seseorang bersikap dan membuat pilihan. Pola pikir dan hubungan dengan makanan yang tidak tepat dapat memengaruhi pola makan yang juga tidak tepat," katanya.
Menurut Tara, pendekatan psikologis dibutuhkan untuk mengatasi pikiran, dorongan makan, serta akar masalah makan yang tidak tepat. Artinya, kesulitan mengendalikan keinginan makan tidak selalu berarti seseorang tidak memiliki komitmen untuk menjalani diet.
"Faktor psikologis dan pola hubungan dengan makanan juga perlu diperhatikan dalam proses pengelolaan berat badan," tambahnya.
Ada Peran Hormon Incretin
Selain faktor psikologis, kata Tara, rasa lapar dan kenyang juga dipengaruhi oleh mekanisme biologis tubuh. Salah satunya melalui hormon incretin, termasuk GLP-1 (Glucagon-Like Peptide-1) dan GIP (Glucose-Dependent Insulinotropic Peptide).
Kedua hormon tersebut diproduksi usus setelah makan dan berperan dalam mengatur metabolisme, kadar gula darah, rasa lapar, serta rasa kenyang.
Â
Gagal Diet Tidak Selalu Karena Kurang Disiplin
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,540,20,0)/kly-media-production/medias/4851179/original/012225200_1717394494-Ramen_2.jpg)
Medical Manager LIGHT Group, dr. Guadelupe Maria Melissa, mengatakan, kegagalan menjalani diet tidak selalu disebabkan kurangnya disiplin. "Saat berat badan turun, tubuh dapat merespons dengan meningkatkan rasa lapar dan menurunkan rasa kenyang melalui perubahan sinyal hormon dan mekanisme pengaturan nafsu makan di otak," ujarnya.
Lebih lanjut, Guadelupe, menjelaskan, kondisi tersebut perlu dipertimbangkan dalam pengelolaan berat badan. Terapi berbasis tirzepatide bekerja melalui dua jalur hormon incretin, yakni GLP-1 dan GIP, yang berperan dalam mengatur nafsu makan dan rasa kenyang.
"Pada pasien yang sesuai, terapi ini dapat membantu mengurangi rasa lapar, meningkatkan kontrol terhadap asupan makanan, dan mengurangi dorongan atau pikiran berlebihan terhadap makanan yang sering disebut sebagai food noise tadi," lanjutnya.
Penanganan Obesitas Tak Cukup dari Angka Timbangan
Guadelupe menekankan bahwa terapi injeksi hanyalah salah satu bagian dari perjalanan pengelolaan berat badan. Keberhasilan jangka panjang tetap membutuhkan pola makan yang dipersonalisasi dan perubahan perilaku.
Pendekatan psikologis juga penting untuk membantu seseorang mengenali pemicu emosional, kebiasaan, serta pola pikir yang memengaruhi perilaku makan.
Oleh sebab itu, food noise penting dipahami sebagai salah satu faktor yang dapat membuat orang dengan obesitas lebih sulit menjalani diet.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9332312/original/026531200_1787650496-cek_fakta_Abdul_muti_-_bantuan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5333221/original/001778100_1756612376-petani_milenial_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5564063/original/036332000_1776924981-cek_fakta_-_BSU_2026.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9332053/original/033451400_1787629160-petani_milenial_cek_fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1180,20,0)/kly-media-production/medias/9298678/original/030095500_1784179616-Ilustrasi_Ramen__Makan_Ramen__Ramen_Korea__Mi_Ramen_oleh_Aditya_Eka_Prawira__3_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4212793/original/040051600_1667440842-jonas-leupe-NmVC9Le16eo-unsplash_1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4473827/original/035115500_1687250117-johny-georgiadis-9Wa1HgE1XlA-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4857638/original/070950400_1717898392-diana-polekhina-OpB7gkQY9oc-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4653942/original/060225800_1700313405-henley-design-studio-XbZgARqXROc-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9324212/original/020908100_1786694254-Ketua_Himpunan_Studi_Obesitas_Indonesia__HISOBI___Prof._dr._Dante_Saksono_Harbuwono__Sp.PD-KEMD__Ph.D._.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4478040/original/079817700_1687486022-towfiqu-barbhuiya-J6g_szOtMF4-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9324148/original/027622400_1786691798-20260814_112230.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9324101/original/087626200_1786689545-Ketua_Umum_Pengurus_Besar_Perhimpunan_Endokrinologi_Indonesia__PERKENI___Prof._Dr._dr._Em_Yunir__Sp.PD-KEMD__2_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4752970/original/044544400_1708917243-kenny-eliason-5ddH9Y2accI-unsplash.jpg)