Liputan6.com, Jakarta - Orang yang memiliki penyakit pernapasan seperti asma perlu mengantisipasi dampak dari paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Maka dari itu, Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Prof Tjandra Yoga Aditama mengingatkan pasien asma untuk mengantisipasi bila ada masalah kesehatan.
“Konsultasi ke dokter untuk jenis dan dosis obat. Yang perlu diantisipasi tentu adalah serangan asma akut,” kata Prof Tjandra.
Advertisement
Pasien asma saat menghadapi asap kebakaran hutan perlu menggunakan obat inhaler controller secara rutin sesuai anjuran dokter.
Kemudian, pasien asma juga perlu memperhatikan penggunaan obat reliever apabila diperlukan, khususnya ketika mengalami gejala seperti sesak napas.
Tjandra mengungkapkan partikel terutama yang berukuran 2,5 mikron yang disebut PM2.5 apabila terhirup memicu terjadinya inflamasi atau peradangan. Selain itu, kandungan asap kebakaran hutan juga mencakup gas seperti NO2, ozone, dan hidrokarbon aromatik, serta bahan organik lain akibat pembakaran pohon dan tanaman lainnya.
Menurut Tjandra, dampak paparan asap terhadap kesehatan berpotensi menyebabkan berbagai gangguan pernapasan. Gejala yang perlu diwaspadai paparan asap karhutla sama keluhan pernapasan pada umumnya, seperti batuk, bisa berdahak, sesak napas, hingga sakit dada.
“Dampak (paparan asap karhutla) akut seperti terjadi infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA. Dampak lanjutan seperti perburukan infeksi paru, penyakit asma dan penyakit lain seperti dapat menyebabkan peningkatan risiko gangguan kardio respirasi,” ujar Direktur Pascasarjana Universitas YARSI itu mengutip Antara.
Cegah Masalah Akibat Paparan Asap Kebakaran Hutan
Selain berdampak langsung terhadap kesehatan, kata Tjandra, terjadinya kebakaran hutan juga akan mengganggu akses penduduk ke pelayanan kesehatan di daerah terdampak.
“Kalau kebakaran hutan yang tinggi intensitasnya, di area yang luas dan berlangsung cukup lama akan berdampak pada transportasi di daerah terdampak, juga kesediaan air bersih, gangguan komunikasi dan sumber daya pula,” imbuh dia.
Prof Tjandra menyampaikan upaya mencegah risiko kesehatan akibat paparan asap karhutla sebaiknya menghindari kebakaran yang sedang aktif apabila aman dilakukan.
“Hindari perjalanan yang tidak terlalu perlu dan gunakanlah masker yang baik, bahkan bila perlu dalam bentuk respirator, kalau harus ke daerah dekat kebakaran hutan,” tutur Prof Tjandra.