Liputan6.com, Jakarta - Paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dapat berdampak pada kesehatan, termasuk ibu hamil. Ketua Umum Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI), Prof. Dr. dr. Budi Wiweko Subsp. F.E.R., MPH, FRANZCOG (Hons), FICRM, mengingatkan ibu hamil terutama di awal kehamilan yang berada di lokasi terdampak sebisa mungkin menghindari paparan asap karhutla.
"Kebakaran hutan dan lahan kaitannya dengan polusi atau polutan. Sudah pasti tidak sehat. Untuk perempuan saja tidak sehat apalagi ibu hamil, sudah pasti tidak baik," kata pria yang karib disapa Iko ini ditemui di Jakarta Pusat pada Kamis (27/8/2026).
Advertisement
Salah satu hal yang perlu diwaspadai dari paparan asap kebakaran hutan adalah paparan endocrine disrupting chemicals (EDC), yakni zat yang dapat mengganggu sistem hormon dalam tubuh.
“Yang kita takutkan dari asap itu adalah ada substansi yang bisa mengganggu kerjanya hormon EDC. Seperti dioksin, karbon monoksida, BPA, itu akan sangat berbahaya terutama pada kehamilan di bawah 12 minggu,” ujar Iko.
Paparan EDC cenderung meningkatkan risiko endometriosis dan PMOS bila janin yang dikandung perempuan.
Pesan untuk Ibu Hamil di Wilayah Terdampak Asap Kebakaran Hutan
Mengingat risiko dampak asap hutan bagi ibu hamil, ia mengimbau ke bumil untuk meminimalisasi aktivitas di luar rumah ketika kualitas udara memburuk akibat asap karhutla.
“Sedapat mungkin ibu hamil menghindari dari asap karhutla, seminimal mungkin keluar rumah,” tuturnya.
Selain mengurangi aktivitas di luar ruangan, penggunaan masker atau face mask juga dapat menjadi salah satu upaya untuk mengurangi paparan polutan.
"Masker apa saja boleh, tidak harus N95. Masker biasa boleh, masker kain boleh yang penting untuk meminimalkan eksposur asap," pesannya.
Bagi ibu hamil yang bekerja, jika kondisi asap karhutla tebal maka sebaiknya bekerja dari rumah atau work from home (WFH).
“Kalau perlu WFH, kementerian atau dinas harusnya memahami itu,” ujarnya.