Protein Hewani Tak Harus Mahal, Ikan Kembung Bisa Jadi Pilihan

Protein hewani bukan cuma ayam dan daging sapi. Kandungan protein ikan kembung juga tak kalah baik.

oleh Kanaya Nanda PutriDiterbitkan 28 Agustus 2026, 08:00 WIB
Kebutuhan protein hewani tidak selalu berkaitan dengan dagung. Ikan kembung bisa jadi pilihan bijak. (Photo by KC Shum on Unsplash)

Liputan6.com, Jakarta - Memenuhi asupan protein hewani tidak harus mahal. Jika ikan salmon identik dengan pangan ideal untuk kebutuhan protein dan perkembangan anak, maka dari sumber daya lokal, ikan kembung bisa menjadi pilihan.

Tidak hanya ekonomis, ikan kembung juga  mengandung banyak gizi dan manfaat. Ikan kembung adalah salah satu jenis bahan pangan lokal yang melimpah dan terjangkau di pasar tradisional. Ahli Gizi Tara Mutiara Ramdani mengungkapkan ikan kembung memiliki kandungan protein lebih tinggi dari salmon. 

"Per 100 gram, proteinnya banyak yang lebih tinggi dibandingkan ikan salmon, contohnya ikan kembung. Ikan kembung ini juga salah satu yang paling tinggi protein. Kalau di ikan lebih tinggi omega-3, DHA, EPA, jadi lebih sehat juga, untuk lemaknya lebih baik," jelas Tara dalam sesi Ngobras bersama Frisian Flag Indonesia bertajuk “Budget Boleh Minimal, Nutrisi Harus Tetap Optimal” pada Rabu (25/8/2026).

Omega-3, DHA, dan EPA merupakan nutrisi penting yang berperan penting dalam perkembangan sel otak, menjaga kesehatan jantung, serta menekan peradangan dalam tubuh.

Selain kaya akan nutrisi dan lemak baik, keunggulan lain dari konsumsi ikan terletak pada tingkat kemudahan tubuh dalam memprosesnya.

Berbeda dengan daging sapi yang membutuhkan waktu pengolahan yang cukup lama di dalam lambung, ikan jauh lebih ramah dalam proses penyerapan di tubuh.

Jika daging sapi memerlukan waktu 3-4 jam untuk diserap tubuh, ikan butuh 1 hingga 2 jam. 

"Selain ekonomis, ikan juga jauh lebih gampang diserap. Kalau misalnya daging sapi itu butuh 3-4 jam untuk dicerna, ikan butuh 1,5 jam sampai 2 jam maksimal untuk dicerna, jadi lebih oke," tambah Tara.

Sifatnya yang cepat dicerna dan memiliki daya bioavailability, menjadikan ikan kembung sebagai sumber protein hewani yang sangat efisien untuk dikonsumsi harian oleh keluarga, mulai dari anak-anak hingga dewasa.

Sumber Protein Hewani Tak Harus Daging Sapi

Pakar ekonomi dan ahli gizi berbicara tentang pemenuhan gizi, salah satunya dengan asupan protein hewani. Alih-alih hanya berputar pada daging sapi yang relatif mahal, opsi lain bisa diberikan pada ikan lokal seperti ikan kembung. (Liputan6.com/Kanaya Nanda Putri)

Dari kacamata ekonomi, penyebab utama masyarakat menganggap protein hewani itu mahal dipicu oleh anggapan keliru atau "bias daging sapi".

Kepala Lembaga Demografi sekaligus dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, I Dewa Gede Karma Wisana, menyoroti bahwa ketergantungan persepsi pada daging sapi, khususnya daging yang masih diimpor dengan harga lebih tinggi, membuat masyarakat merasa tak mampu memenuhi asupan protein keluarga.

Dewa menuturkan bahwa ada alternatif lain berupa telur, ikan, dan susu yang pasti lebih terjangkau, dengan tetap bermutu gizi untuk menambah komponen lain.

"Kalau bayangan dapat protein yang mahal itu lebih karena sebenarnya bias dengan daging sapi. Padahal kalau kita lihat, kita sebenarnya bisa memiliki telur dan susu lebih banyak dibanding daging sapi. Telur dan ikan kembung itu protein yang sebenarnya sangat terjangkau," tutur Dewa.

Ia juga menambahkan, kondisi ekonomi menekan anggaran rumah tangga, di mana pengeluaran untuk kebutuhan non-makanan, seperti energi dan transportasi, terus melonjak.

Sayangnya, hal yang kerap dikorbankan adalah pemenuhan mutu gizi makanan harian. Padahal, jika kesenjangan gizi ini dibiarkan dalam jangka panjang, kemampuan fisik dan produktivitas generasi muda Indonesia 10 hingga 20 tahun ke depan menjadi kekhawatiran serius.

"Jadi kita nggak melulu berkutat dengan daging mahal sehingga kita berhenti mengalokasikan (untuk) protein, padahal pilihannya tadi banyak. Ada ikan, telur, susu,".

Bijak dalam Konsumsi Rumah Tangga

Sebagai langkah menutup celah kekurangan protein tanpa menguras dompet, Dewa menyarankan perubahan perilaku konsumsi sederhana pada rumah tangga.

Mengurangi sekitar 10 persen dari kebiasaan jajan di luar. Cara ini dinilai setara dengan memangkas Rp50.000 per bulan.

Hasilnya, pemangkasan tersebut dapat dialihkan untuk membeli pangan protein, seperti ikan kembung atau telur. Langkah kecil ini mampu menambah asupan protein hewani hingga 6 gram per hari bagi anggota keluarga.

"Contohnya, di sini kalau kita bisa kurangin 10 persen, itu 50 ribu per bulan, kita bisa dapet tambahan sekitar 6 gram protein per hari," ujar Dewa.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya