Tips Bersihkan Abu Anak Krakatau yang Masuk Rumah, Jangan Asal Sapu

Jangan asal sapu abu Anak Krakatau. Simak cara membersihkan rumah agar aman bagi pernapasan.

oleh Aditya Eka PrawiraDiterbitkan 06 September 2026, 10:11 WIB
Abu vulkanik Anak Krakatau yang masuk ke rumah sebaiknya tidak langsung disapu dalam kondisi kering. Prof. Agus Dwi Susanto menyarankan abu dibasahi terlebih dahulu sebelum dibersihkan.

Liputan6.com, Jakarta - Abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau yang masuk ke rumah sebaiknya tidak langsung disapu dalam kondisi kering. Profesor sekaligus Guru Besar Pulmonologi dan Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI), Prof. Dr. dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P(K), FISR, FAPSR, mengatakan, abu vulkanik perlu dibasahi terlebih dahulu sebelum dibersihkan.

"Ya, memang harus dibasahi pakai air," ujar Agus saat dihubungi Kesehatan Liputan6.com melalui sambungan telepon pada Minggu, 6 September 2026.

Menurutnya, abu vulkanik memiliki partikel yang sangat halus dan mengandung silika. Partikel tersebut juga bersifat tajam sehingga perlu ditangani dengan hati-hati.

"Karena kan debunya, partikelnya halus-halus itu. Dan juga dia mengandung silika, dia agak tajam debunya itu. Halus-halus ada silikanya," ujarnya.

Sifat tajam abu vulkanik juga perlu diperhatikan ketika menempel pada kendaraan. Jika langsung dibersihkan dalam kondisi kering, partikel abu dapat menggores permukaan kendaraan.

"Terutama soalnya di mobil, ada langsung itu tajam, dia bisa baret-baret. Jadi memang harus dikasih air, baru pakai air sabun supaya larut," katanya.

Masker Abu Vulkanik Tidak Perlu Dibasahi

Selain cara membersihkan abu vulkanik, penggunaan masker juga menjadi perhatian. Di media sosial, sempat ramai rekomendasi agar masker dibasahi sebelum digunakan untuk menyaring abu vulkanik.

Namun, Agus mengatakan masyarakat sebaiknya menggunakan respirator dan tidak membasahinya.

"Kalau dari rekomendasi medis, kita menjalankan pakaiannya respirator. Respirator itu dia dapat menghidrasi partikel," ujarnya.

Menurutnya, respirator tersedia dalam berbagai jenis, termasuk yang memiliki kemampuan filtrasi seperti K95.

Lantas, apakah masker respirator perlu dibasahi agar lebih efektif menyaring debu?

Agus menjelaskan bahwa secara teori, media penyaring yang dibasahi dapat membantu memfiltrasi debu pada benda mati. Namun, hal tersebut tidak bisa diterapkan begitu saja pada masker yang digunakan manusia.

"Tapi kalau buat kita yang makhluk biologis, kalau partikel maskernya dilapisi air, itu akan menimbulkan problem berikutnya," ujarnya.

Masker yang dibasahi akan menjadi lembap dan berpotensi menjadi tempat tumbuhnya kuman. Kondisi tersebut justru dapat meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan.

"Kalau dia lembap, dia punya potensi tumbuh kuman. Kalau tumbuh kuman, akhirnya malah justru meningkatkan risiko infeksi saluran napas," kata Agus.

Respirator Perlu Rutin Diganti

Oleh sebab itu, Agus tidak menyarankan masker respirator dibasahi sebelum digunakan. Sebaliknya, respirator perlu diganti secara rutin, terutama bagi masyarakat yang banyak beraktivitas di luar ruangan.

"Kalau kita sering beraktivitas di luar, misalnya kita pakai masker respirator, apakah H95 atau merek lain yang juga memiliki kemampuan filtrasi sebagai respirator, maka pemakaiannya itu paling lama misalnya enam sampai delapan jam," ujarnya.

Masker juga dapat menjadi lembap karena terus menempel pada hidung dan terkena sekret dari saluran pernapasan.

"Kenapa mesti diganti? Karena kalau tidak diganti, dia menempel terus di hidung kita, ini juga lembap. Karena area saluran napas kita itu juga lembap," ujar Agus.

"Jadi kita tidak menyarankan pakai masker yang dibasahi, punya risiko infeksi berikutnya. Pakai respirator, tetapi rutin diganti," pungkasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya