Liputan6.com, Jakarta - Abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Karakatau telah menyebar ke berbagai provinsi. Tidak hanya Lampung tapi warga di Jakarta dan Jawa Barat telah melaporkan adanya abu vulkanik di tempat tinggal mereka.
Abu vulkanik adalah campuran dari mineral, bebatuan dan partikel kaca yang keluar saat gunung berapi meletus.
Advertisement
Abu vulkanik ini bisa terhisap masuk ke paru dan saluran napas, maka secara langsung akan dapat menyebabkan keluhan batuk, iritasi tenggorok, gangguan seperti bronkitis (bronchitis-like illnesses). Lalu, bisa juga perburukan pada mereka yang punya penyakit paru kronik seperti asma bronkiale dan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK).
Selain itu, abu vulkanik juga dapat menyebabkan iritasi kulit dan mata. Kalau debu mengotori sumber air dan makanan maka dapat terjadi gangguan saluran cerna.
Pada keadaan ekstrem dimana kadar abu yang terhisap sangat banyak sekali, terutama pada mereka yang berada amat dekat dengan lokasi letusan, maka dapat saja terjadi keadaan asfiksia yang terasa seperti tercekik.
Terkait ini, ada lima hal yang kini dapat dilakukan. Pertama, kita harus ikuti informasi dari BMKG atau institusi resmi lain tentang bagaimana situasi letusan gunung yang sedang terjadi dan juga bagaimana kadar abu vulkanik di area tempat kita.
Kedua, penggunaan masker tentu baik saja dilakukan, apalagi kalau memang kadar abu cukup mengkawatirkan dan atau pada mereka yang punya penyakit paru kronik.
Kalau abu cukup banyak jumlahnya bahkan ada anjuran menggunakan kacamata pelindung dan baju tangan panjang kalau sedang di luar rumah.
Ketiga, kembali kalau memang kadar abu cukup mengkhawatirkan maka batasi aktivitas fisik berlebihan di luar ruangan.
Keempat, kalau memang di luar cukup banyak abu vulkanik maka kalau kembali ke rumah dari aktivitas fisik di luar maka bersihkan diri dengan baik, dan pakaian juga segera dicuci bersih.
Kelima, kalau kadar abu memang mengkawatirkan maka ada anjuran rumah ditutup dengan rapat supaya abu dari luar tidak masuk. Untuk situasi pada hari Minggu pagi 6 September 2026 di Jakarta dan sekitarnya nampaknya belum perlu dilakukan. Mudah-mudahan situasi tidak memburuk di hari-hari mendatang.
Bila muncul keluhan kesehatan maka segeralah konsultasi ke fasilitas kesehatan yang ada. Juga, marilah tetap kita jaga pola hidup sehat agar daya tahan tubuh tetap terjaga dengan baik.
** Penulis adalah Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University, Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI)