Liputan6.com, Jakarta - Gangguan kesehatan akibat paparan abu vulkanik tidak selalu muncul saat seseorang terpapar. Masalah pada saluran pernapasan dapat muncul beberapa hari hingga satu-dua minggu kemudian.
Guru Besar Departemen Ilmu Penyakit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Ari Fahrial Syam mengungkapkan partikel abu vulkanik yang terhirup dapat bertahan di dalam sistem pernapasan dan menimbulkan proses iritasi serta peradangan.
Advertisement
"Masyarakat yang merasa sehat beberapa hari setelah terpapar abu vulkanik tidak boleh langsung menganggap bahwa risiko sudah berlalu," tutur Ari dalam pesan tertulis yang diterima Kesehatan Liputan6.com ditulis Senin (7/9/2026).
Kondisi tersebut bisa memunculkan gangguan saluran pernapasan bawah pada beberapa hari bahkan satu hingga dua minggu setelah paparan.
Ia pun mengingatkan, apabila masyarakat terpapar abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau kemudian merasakan keluhan yang semakin berat sebaiknya untuk segera melakukan pemeriksaan medis.
"Bila mengalami batuk yang semakin berat, demam, sesak napas, nyeri dada, atau kondisi fisiknya memburuk, pemeriksaan medis harus segera dilakukan. Karena bisa saja sudah terjadi infeksi paru," pesan Ari.
Seperti diketahui abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau bukan sekadar debu biasa. Abu vulkanik adalah partikel sangat halus dari batuan, mineral, dan kaca vulkanik yang terlontar saat erupsi. Ukurannya sangat kecil, bisa PM10 dan PM2,5 sehingga dapat terhirup hingga saluran napas dalam. Jika terhirup dapat memicu batuk, rasa tidak nyaman di tenggorokan hingga sesak napas.
Salah satu yang perlu diperiksa adalah keberadaan silika dalam abu vulkanik. Abu vulkanik Anak Krakatau sebelumnya diketahui mengandung senyawa silika (SiO₂). Penelitian terhadap material erupsi sebelumnya juga menunjukkan kandungan SiO₂ yang cukup signifikan.
Namun, menurut Ari, kandungan silika pada erupsi kali ini perlu dipastikan melalui pemeriksaan laboratorium terhadap sampel abu yang sedang turun.
Hal tersebut penting untuk mengetahui kadar silika, khususnya silika kristalin yang dapat terhirup, serta menilai potensi risikonya terhadap kesehatan paru. Paparan silika respirabel dalam jumlah signifikan dan berlangsung lama dapat menyebabkan silikosis, yaitu penyakit paru akibat penumpukan partikel silika yang memicu peradangan dan pembentukan jaringan parut pada paru. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat menyebabkan penurunan fungsi paru.
Lindungi Mata dan Kulit dari Paparan Abu Vulkanik
Abu vulkanik beserta partikel-partikel yang beterbangan selain bisa berdampak pada saluran pernapasan juga mata dan kulit.
"Paparan pada mata dapat menyebabkan mata perih, merah, dan berair. Pada kulit dapat timbul rasa gatal dan iritasi," kata Ari.
Guna meminimalisasi paparan abu vulkanik Anak Krakatau, maka disarankan saat keluar rumah atau berada di luar ruangan untuk memakai kaca mata atau goggle serta memakai baju lengan panjang dan celana panjang.