Liputan6.com, Jakarta - Kecanggihan teknologi medis di Indonesia tak kalah dari luar negeri. Pada 6 Agustus 2026, dokter Indonesia sukses melakukan telerobotic surgery histerektomi atau pengangkatan rahim. Tindakan ini merupakan telerobotik di bidang ginekologi pertama di Indonesia.
Prosedur operasi ginekologi tersebut dilakukan Dr. dr. Herbert Situmorang, SpOG, Subsp.F.E.R. di Bali terhadap pasien berusia 47 yang berada di ruang operasi RSCM Kencana, Jakarta. Meski berjarak sekitar 1.000 kilometer, tindakan operasi pengangkatan rahim berjalan dengan baik.
Advertisement
Tindakan operasi pengangkatan rahim dilakukan pada wanita yang memiliki keluhan perdarahan dari vagina di luar masa menstruasi. Selain sudah memiliki tiga anak, pasien ini pun ingin permasalahan kesehatannya tuntas. Setelah melakukan beberapa pertimbangan, dokter menilai pasien tersebut bisa menjalani tindakan robotic surgery.
"Pembedahan robotik ini merupakan operasi ginekologi jarak jauh pertama yang dikerjakan di Indonesia. Teknologi sistem robotik dan konektivitas internet yang digunakan telah memenuhi persyaratan untuk mendukung pelaksanaan pembedahan jarak jauh secara aman," tutur Herbert kepada awak media ditemui di lobi RSCM Kencana Jakarta pada Kamis (10/9/2026).
Dalam kesempatan itu, Herbert menceritakan bahwa tindakan operasi tersebut dilakukan di atas stage APAGE (Asia Pacific Association for Gynecologic Surgery) 26th Annual Meeting yang diselenggarakan bersamaan dengan IGES (Indonesian Gynecological Endoscopy Society) 13th Annual Meeting di Jimbaran Convention Center (JCC), Bali.
"Ini pertama kalinya juga saya melakukan operasi dengan menggunakan jas di hadapan 800 para ahli bedah robotik dari Asia Pasifik dan Amerika Serikat," tutur Herbert.
Dalam prosedur tersebut, Herbert berada di Bali dan mengendalikan sistem robotik yang berada di Jakarta. Gerakan tangan dokter diterjemahkan oleh sistem robot untuk melakukan tindakan pembedahan pada pasien.
Herbert tidak bekerja sendiri. Di ruang operasi di RSCM Kencana, tim dokter siaga memantau kondisi pasien diantaranya dokter Riyan Hari Kurniawan, SpOG, Subsp.FER, dokter Ferdhy Suryadi Suwandinata SpOG, Subsp.FER, Prof. Dr. dr. Hariyono Winarto, SpOG, Subsp.Onk(K), Dr. dr. M. Suskhan Djusad, Sp.OG, Subsp.Urogin, Re(K); serta dr. Luther Holan Parasian N, Sp.An-TI.
"Tangan-tangannya (tangan robot) itu bergerak, bukan dokter Ian yang menggerakan, tapi dari Bali yang menggerakkan," tutur Herbert.
Herbert mengatakan teknologi robotik memiliki kelebihan dalam superior view, sehingga memungkinkan dokter untuk melihat kondisi di dalam tubuh dengan jelas. Selain itu, teknologi robotik memungkinkan tindakan dilakukan secara minimal invasif dengan gerakan yang lebih presisi.
Bagi tim dokter, keberhasilan prosedur bukan hanya terletak pada teknologi yang digunakan, tetapi juga pada kondisi pasien setelah operasi.
Herbert mengatakan pasien dapat pulang keesokan harinya setelah menjalani tindakan.
"Puji Tuhan, Alhamdulillah semua berjalan dengan lancar. Pasien langsung besoknya dia bisa pulang," kata Herbert.
Simulasi Sebelum Telerobotic Surgery
Sebelum telerobotic surgery, tim RSCM Kencana terlebih dahulu melakukan simulasi dan uji coba berulang untuk memastikan sistem dapat bekerja dengan baik. Berbagai kemungkinan gangguan juga dipetakan melalui skenario what if untuk menyiapkan sistem pengaman atau fail-safe selama operasi.
Herbert mengatakan salah satu skenario yang diuji adalah ketika koneksi internet dari lokasi dokter di Bali tiba-tiba terputus di tengah. Dalam kondisi tersebut, keselamatan pasien tetap menjadi prioritas karena terdapat dokter yang berada langsung di sisi pasien di Jakarta.
"Misalnya, bagaimana apabila sambungan internet tiba-tiba mati? Maka kita punya jawabannya, safety-nya akan tetap terjaga dengan adanya dokter yang langsung di depan pasien (dalam hal ini dokter Ian)," jelas Herbert.
Skenario lain yang disiapkan adalah jika terjadi gangguan pada koneksi di rumah sakit atau listrik padam. Menurut Herbert, sistem kelistrikan rumah sakit telah memiliki standar dan mekanisme cadangan untuk memastikan layanan tetap berjalan ketika terjadi gangguan.
Karena itu, sebelum prosedur dilakukan, tim tidak hanya menguji apakah robot dapat dikendalikan dari jarak jauh, tetapi juga memastikan berbagai kemungkinan kegagalan sudah memiliki langkah penanganan.
"Fail-safe-nya sudah kita coba petakan, karena yang paling utama adalah patient safety" ujarnya.