Liputan6.com, Jakarta - Abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau meluas ke empat provinsi yakni Banten, Lampung, DKI Jakarta dan Banten. Ada wilayah yang tipis tapi sebagian lebih tebal abu vulkaniknya.
Penting untuk diketahui bahwa abu vulkanik bukan debu biasa. Abu vulkanik mengandung pecahan batuan halus, mineral, kaca vulkanik, serta partikel silika tajam yang menyerupai serpihan kaca. Maka dari itu, paparan abu vulkanik bisa menyebabkan masalah kesehatan termasuk paru.
Advertisement
Dokter spesialis paru, Sondang Ruth Angelia Sirait, mengatakan pemeriksaan medis sebaiknya dipertimbangkan bila muncul:
- batuk atau sesak napas yang menetap atau semakin berat,
- mengi,
- rasa berat atau tidak nyaman di dada,
- penurunan toleransi aktivitas, atau
- penyakit paru yang sebelumnya terkontrol menjadi lebih sering kambuh.
“Sebagian keluhan akibat paparan abu dapat bersifat sementara dan membaik setelah paparan dihentikan. Namun, apabila keluhan menetap, semakin berat, atau terjadi pada seseorang yang memiliki penyakit paru sebelumnya, pemeriksaan diperlukan untuk menentukan apakah terdapat gangguan saluran napas atau fungsi paru yang membutuhkan penanganan lebih lanjut,” ujar dokter yang praktik di Klinik Paru Bethsaida Hospital Gading Serpong, Banten ini.
Ia juga menekankan untuk segera mencari pertolongan medis apabila terjadi sesak napas berat, kesulitan berbicara karena sesak, nyeri dada berat, bibir atau ujung jari tampak kebiruan, kebingungan, atau penurunan kesadaran.
Cara Melindungi Paru dari Abu Vulkanik
Sondang mengatakan pada kondisi saat ini, masyarakat yang berada di wilayah dengan paparan abu vulkanik untuk membatasi aktivitas di luar ruangan dan hindari aktivitas fisik berat di luar karena peningkatan frekuensi dan kedalaman nafas dapat meningkatkan jumlah partikel yang terhirup.
Jika harus berada di luar ruangan atau membersihkan abu, gunakan masker respirator partikulat seperti KN95, N95 atau standar setara. Pastikan masker menutup hidung dan mulut dengan baik serta tidak terdapat celah besar di sisi masker.
Ia juga menyarankan saat berada di dalam rumah, tutup pintu dan jendela serta kurangi masuknya udara luar yang membawa abu. Bila menggunakan pendingin udara, hindari mode yang mengambil udara langsung dari luar selama kualitas udara masih buruk.
Abu yang telah mengendap dapat kembali berterbangan akibat angin, kendaraan, atau aktivitas pembersihan. Maka hindari menyapu abu dalam keadaan kering. Basahi atau lembapkan abu secukupnya sebelum dibersihkan dan gunakan masker serta pelindung mata saat melakukan pembersihan.
Setelah beraktivitas di luar, bersihkan diri dan ganti pakaian yang terpapar abu. Hindari pula asap rokok dan sumber polusi lain yang dapat semakin mengiritasi saluran pernapasan.
Pesan Bagi Pasien Asma dan PPOK
Bagi penderita asma, PPOK, atau penyakit paru kronik lainnya, tetap gunakan obat rutin maupun inhaler sesuai anjuran dokter dan pastikan obat pelega tersedia bila memang telah diresepkan.
Paparan abu juga dapat menyebabkan tenggorokan terasa kering atau teriritasi. Minum air putih yang cukup dapat membantu menjaga hidrasi dan mengurangi rasa tidak nyaman pada tenggorokan.