Ketika Gagal Ginjal Butuh Cuci Darah, Jangan Lupakan Akses Vaskular

Pasien gagal ginjal yang cuci darah membutuhkan akses vaskular. Kenali jenis dan waktu persiapannya.

oleh Aditya Eka PrawiraDiterbitkan 17 September 2026, 16:49 WIB
Ketua PERNEFRI Dr. dr. Pringgodigdo menjelaskan pentingnya akses vaskular bagi pasien gagal ginjal yang menjalani cuci darah, termasuk jenis akses dan waktu persiapannya. (Foto: Aditya Eka Prawira/Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta - Pasien dengan gagal ginjal yang membutuhkan cuci darah tidak hanya memerlukan layanan hemodialisis. Ada hal penting lain yang perlu diperhatikan, yaitu akses vaskular sebagai jalur keluar-masuk darah selama proses cuci darah.

Ketua Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI) Dr. dr. Pringgodigdo, Sp.PD-KGH., FINASIM, menjelaskan bahwa pada pasien hemodialisis, darah dialirkan dari tubuh ke luar untuk dibersihkan dari racun dan cairan yang tidak dapat dikeluarkan oleh ginjal.

Setelah itu, darah dikembalikan lagi ke dalam tubuh. "Nah, itu butuh akses yang disebut saluran, akses supaya aliran darah itu cukup," katanya.

Hal tersebut disampaikan Pringgodigdo dalam Focus Group Discussion (FGD) KPCDI memperingati World Patient Safety Day 2026 pada Kamis, 17 September 2026.

Menurutnya, akses vaskular diperlukan agar proses hemodialisis dapat berlangsung secara adekuat dan efektif, termasuk dalam mengeluarkan cairan serta racun dari tubuh.

"Karena kalau alirannya lambat, nggak sesuai juga nggak efektif, nggak adekuat. Jadi salah satu kebutuhan pada pasien cuci darah atau hemodialisis adalah akses vaskular," katanya.

Mengenal Jenis Akses Vaskular untuk Hemodialisis

Pringgodigdo menjelaskan bahwa secara garis besar terdapat beberapa pilihan akses vaskular untuk pasien hemodialisis. Salah satunya adalah kateter double lumen yang kerap disebut CDL.

Selain kateter, terdapat arteriovenous fistula (AV fistula) atau yang lebih dikenal sebagai Cimino. Akses ini dibuat dengan menyambungkan pembuluh darah arteri dengan pembuluh darah vena.

"Ini menyambungkan pembuluh darah arteri, yang tadi yang lebih dalam, lebih cepat alirannya, dengan pembuluh darah vena. Pembuluh darah balik yang lebih di permukaan atau superficial," ujarnya.

Penyambungan tersebut membuat aliran darah pada vena menjadi lebih besar dan lebih cepat sehingga dapat digunakan untuk mendukung proses hemodialisis.

"Jadi, dengan disambungkan ke arteri dia akan menjadi lebih lebar, alirannya lebih cepat. Sehingga nanti aliran darahnya untuk hemodialisis jadi lebih cukup," kata Pringgodigdo.

Berbeda dengan kateter, Cimino tidak menggunakan alat yang dipasang pada tubuh, melainkan dibuat melalui tindakan bedah untuk menyambungkan pembuluh darah arteri dengan pembuluh darah vena.

Selain itu, ada pula graft. Pada akses ini, kata Pringgodigdo, sambungan pembuluh darah menggunakan alat yang ditanam di dalam tubuh.

Pasien Sering Datang Sudah Membutuhkan Cuci Darah Segera

Ketua PERNEFRI Dr. dr. Pringgodigdo menjelaskan pentingnya akses vaskular bagi pasien gagal ginjal yang menjalani cuci darah, termasuk jenis akses dan waktu persiapannya. (Foto: Aditya Eka Prawira/Liputan6.com)

Persoalan yang masih dihadapi adalah banyak pasien datang ketika sudah membutuhkan hemodialisis segera. Kondisi tersebut membuat penggunaan kateter menjadi pilihan karena AV fistula atau Cimino membutuhkan waktu sebelum dapat digunakan.

"Kalau Cimino itu perlu waktu untuk bisa digunakan. Karena dia kan menyambungkan supaya venanya itu bisa aliran cepat itu butuh waktu. Paling cepat itu enam sampai delapan minggu baru bisa dipakai," ujarnya.

Sementara itu, pasien yang datang ke rumah sakit dalam kondisi membutuhkan cuci darah segera, misalnya sudah mengalami sesak, dapat langsung dipasang kateter.

"Pasien yang datang udah butuh awal segera cuci darah di IGD. Udah sesek, udah jadi langsung pasang," katanya.

Menurut Pringgodigdo, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya deteksi dini pada pasien yang berisiko mengalami gagal ginjal sehingga persiapan akses vaskular dapat dilakukan lebih awal.

"Makanya tadi harus kita deteksi dini pada pasien. Harus permasalahan dideteksi dini. Edukasi pasien," ujarnya.

Dengan deteksi dan edukasi lebih awal, pasien tidak selalu harus berada dalam kondisi mendesak ketika membutuhkan hemodialisis.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya