Liputan6.com, Jakarta - Punya pasangan bukan berarti harus selalu bersama, mengetahui semua aktivitasnya, atau merasa cemas ketika dia tidak segera membalas pesan. Dalam hubungan yang sehat, rasa cinta justru dapat berjalan beriringan dengan kepercayaan dan ruang untuk tetap menjadi diri sendiri.
Hal ini berkaitan dengan secure attachment atau gaya keterikatan yang aman. Kondisi tersebut dapat membantu seseorang membangun hubungan asmara yang lebih sehat, harmonis, dan bertahan lama.
Advertisement
Psikolog klinis dari Clarity Clinic Chicago, Aimee Daramus, PsyD, menjelaskan, secure attachment ditandai dengan rasa cinta, kepercayaan, kasih sayang yang tulus, serta penghormatan terhadap batasan diri pasangan.
Keterikatan yang aman membuat seseorang dapat merasa dekat dengan pasangan tanpa harus selalu diliputi kecemburuan, bersikap posesif, terlalu protektif, atau bergantung secara berlebihan.
Apa Itu Secure Attachment?
Mengutip Verywell Mind pada Jumat (18/9/2026), konsep keterikatan pertama kali dikembangkan oleh psikiater asal Inggris, John Bowlby, pada 1940-an dan kemudian diperluas oleh Mary Ainsworth.
Teori tersebut menjelaskan bahwa setiap manusia terlahir dengan kebutuhan alami untuk membangun koneksi dan mendapatkan rasa aman.
Ketika kebutuhan emosional anak dipenuhi secara konsisten oleh orangtuanya, anak cenderung mengembangkan gaya keterikatan yang aman. Sebaliknya, pola pengasuhan yang tidak konsisten dapat membentuk gaya keterikatan lainnya.
Dalam hubungan, secure attachment terlihat ketika seseorang merasa nyaman dengan kedekatan emosional, mampu menyampaikan perasaan dan kebutuhan secara terbuka, serta tidak ragu meminta bantuan ketika membutuhkannya.
Ciri Secure Attachment dalam Hubungan Dewasa
Seseorang dengan gaya keterikatan aman umumnya memiliki rasa percaya diri, empati, ketangguhan dalam menghadapi stres, harga diri yang baik, serta batasan yang jelas dalam menjalin hubungan.
Ketika memasuki hubungan asmara di usia dewasa, beberapa cirinya dapat terlihat dari cara seseorang berkomunikasi, mempercayai pasangan, hingga menghadapi konflik.
1. Terbuka saat berkomunikasi
Seseorang merasa bebas menyampaikan pikiran, ketakutan, dan harapannya kepada pasangan tanpa harus berpura-pura atau menggunakan pesan tersirat.
2. Mampu mempercayai pasangan
Rasa aman dalam hubungan membuat seseorang tidak mudah diliputi kecemburuan sepele atau terdorong untuk bersikap posesif.
3. Nyaman menunjukkan sisi rentan
Seseorang tidak merasa harus selalu terlihat kuat di depan pasangan. Ia dapat menunjukkan sisi rentan dan terbuka mengenai perasaan yang sedang dialaminya.
4. Tidak menghindari konflik
Perbedaan pendapat atau pertengkaran dipandang sebagai masalah yang perlu diselesaikan bersama, bukan alasan untuk saling menyalahkan.
5. Tetap menjadi diri sendiri
Menjalin hubungan tidak berarti kehilangan identitas pribadi. Seseorang tetap dapat menikmati hobi, pekerjaan, dan pertemanan tanpa harus meninggalkan kehidupannya sendiri.
Secure Attachment Bisa Dibangun Bersama
Gaya keterikatan seseorang tidak bersifat mutlak. Seiring waktu, gaya ini dapat berubah melalui pengalaman dan interaksi dalam hubungan.
Artinya, seseorang yang sebelumnya belum memiliki secure attachment tetap dapat membangun pola hubungan yang lebih aman bersama pasangan.
Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain:
- Menghabiskan waktu bersama dan membangun rutinitas yang menyenangkan.
- Sering mengobrol untuk mengungkapkan perasaan sekaligus mendengarkan kebutuhan satu sama lain.
- Membangun kepercayaan dengan menepati janji, bersikap transparan, dan menjadi pasangan yang dapat diandalkan.
- Hadir secara emosional dan menciptakan ruang aman bagi satu sama lain tanpa menyudutkan.
- Berfokus mencari solusi bersama ketika menghadapi masalah, bukan mengkritik, menyalahkan, atau menghindar.
Pada akhirnya, hubungan yang sehat bukan tentang seberapa erat seseorang menggenggam pasangannya, melainkan seberapa aman keduanya merasa untuk saling mencintai, percaya, dan tetap menjadi diri sendiri.