Liputan6.com, Jakarta - Penggantian gigi yang hilang bukan sekadar memperbaiki estetika. Penggantian gigi perlu dipertimbangkan sebagai bagian dari upaya mempertahankan fungsi rongga mulut dalam jangka panjang.
Drg Christine Hendriono, SpKG, FICD, MSc Implant (Rome), GCOI mengatakan gigi memiliki peran penting dalam proses mengunyah makanan. Ketika satu atau beberapa gigi hilang, fungsi tersebut dapat terganggu, terutama jika gigi yang hilang memiliki peran besar dalam proses mengunyah.
Advertisement
Kehilangan gigi juga dapat berkaitan dengan perubahan posisi gigi di sekitarnya. Maka dari itu, lanjut Christine, penggantian gigi yang hilang entah dengan implan atau gigi palsu yang bisa dilepas perlu dipertimbangkan tidak hanya dari sisi estetika, tetapi juga fungsi rongga mulut.
Christine juga mengungkapkan bahwa kehadiran gigi yang baru ditujukan mengenai kemampuan seseorang untuk tetap makan dengan nyaman, berbicara dengan baik, dan menjalani kehidupan sosial tanpa terganggu oleh kondisi gigi.
“Tujuan akhirnya bukan hanya pasien memiliki gigi yang terlihat lengkap. Kita ingin gigi pengganti tersebut dapat berfungsi dengan baik, jaringan di sekitarnya sehat, dan perawatannya dapat dipertahankan dalam jangka panjang,” kata dokter gigi dari J Smile Dental Clinic ini lewat pesan tertulis.
Implan dan Opsi Lain Ganti Gigi Hilang
Implan merupakan salah satu pilihan untuk menggantikan gigi yang hilang. Berbeda dengan gigi palsu lepasan, implan menggunakan komponen yang ditempatkan pada tulang rahang untuk berfungsi sebagai pengganti akar gigi kemudian dilengkapi dengan mahkota gigi.
Namun, tidak semua gigi hilang bisa digantikan dengan implan. Ada beberapa opsi lain seperti gigi palus lepasan maupun dental bridge. Masing-masing memiliki indikasi, kelebihan, keterbatasan, serta pertimbangan klinis yang berbeda.
“Perawatan yang baik bukan berarti selalu memilih teknologi yang paling canggih. Yang kita cari adalah solusi yang paling sesuai dengan kondisi pasien, kebutuhan fungsional, kondisi jaringan, dan tujuan perawatannya,” kata Christine.
Wanita lulusan spesialis konservasi gigi Universitas Trisakti, Jakarta itu mengatakan perlu pemeriksaan secara menyeluruh untuk menentukan apa yang perlu dilakukan pada gigi hilang. Dokter membutuhkan pemeriksaan radiografi untuk melihat kondisi tulang dan struktur anatomi di sekitar area yang akan dirawat.
“Implan membutuhkan perencanaan. Kita tidak hanya melihat apakah ada ruang untuk gigi, tetapi juga melihat kondisi tulang, jaringan gusi, posisi struktur anatomi di sekitarnya, serta bagaimana implan nantinya akan berfungsi dalam sistem gigitan pasien,” ungkap Christine.
Pada kondisi tertentu, pasien mungkin membutuhkan tindakan tambahan sebelum pemasangan implan, misalnya prosedur untuk memperbaiki atau menambah volume tulang.
Proses Implan Gigi
Implan gigi tidak selalu selesai dalam satu kali kunjungan. Setelah implan ditempatkan, tubuh membutuhkan waktu untuk menyatukannya dengan tulang rahang melalui proses osseointegrasi.
Lama perawatan berbeda pada setiap pasien, tergantung kondisi tulang, kesehatan, lokasi gigi, dan kebutuhan tindakan tambahan.
“Implan adalah perawatan yang membutuhkan perencanaan dan tahapan. Kita tidak bisa menjanjikan bahwa semua pasien akan selesai dalam waktu yang sama karena kondisi biologis setiap orang berbeda,” jelas Christine.
Implan gigi tetap perlu dirawat setelah pemasangan. Area di sekitarnya harus dijaga kebersihannya karena plak dan bakteri dapat memicu peradangan pada jaringan sekitar implan.
“Implan memang tidak mengalami karies seperti gigi asli, tetapi jaringan di sekitarnya tetap bisa mengalami masalah. Jadi, implan bukan berarti pasang lalu selesai dan tidak perlu dirawat,” jelasnya.
Waspadai Hasil Instan
Masyarakat juga perlu berhati-hati terhadap promosi implan yang menjanjikan hasil instan atau menyederhanakan prosedur menjadi sekadar “tanam gigi”.
Kasus pasien yang kehilangan banyak gigi setelah mendapat janji berlebihan mengenai implan pernah menjadi perhatian. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa keputusan perawatan sebaiknya didasarkan pada diagnosis dan kebutuhan pasien, bukan semata-mata promosi.
“Pasien berhak mengetahui diagnosisnya, pilihan perawatannya, manfaat dan risikonya, serta tahapan yang akan dijalani. Jangan hanya melihat hasil akhirnya saja,” ujar Christine.
Bagi Anda yang tengah alami gigi hilang, berikut pertanyaan yang perlu ditanyakan sebelum berpikir melakukan implan:
Pertama, apakah gigi tersebut memang sudah tidak dapat dipertahankan?
Kedua, bagaimana kondisi tulang dan gusi di area yang akan dipasang implan?
Ketiga, apakah diperlukan prosedur tambahan sebelum pemasangan implan?
Keempat, berapa tahapan perawatan yang dibutuhkan dan bagaimana proses kontrolnya?
Kelima, bagaimana perawatan implan setelah selesai?
Pertanyaan tersebut membantu pasien memahami bahwa implan bukan sekadar mengganti gigi yang hilang, tetapi membutuhkan perencanaan dan perawatan jangka panjang.