Liputan6.com, Jakarta - Tahi lalat merupakan salah satu hal yang umum ditemukan pada kulit. Sebagian orang hanya memiliki beberapa, sementara yang lain dapat mempunyai banyak tahi lalat. Lantas, mengapa tahi lalat bisa muncul dan mengapa jumlahnya berbeda pada setiap orang?
Mengutip Mayo Clinic, Selasa (22/9/2026), tahi lalat atau disebut lain nevi merupakan jenis pertumbuhan kulit yang umum.
Advertisement
Tahi lalat terbentuk ketika sel penghasil pigmen kulit yang disebut melanosit tumbuh secara berkelompok. Normalnya, melanosit tersebar di seluruh kulit dan menghasilkan melanin, pigmen alami yang memberikan warna pada kulit.
Tahi Lalat Bisa Muncul Sejak Kecil
Sebagian besar orang memiliki sekitar 10 hingga 45 tahi lalat yang muncul terutama pada masa kanak-kanak dan remaja. Banyak tahi lalat juga sudah muncul sebelum seseorang berusia 40 tahun.
Tahi lalat umumnya berbentuk bulat atau oval dengan ukuran kurang dari sekitar 6 milimeter. Warnanya tidak selalu coklat tua, tetapi dapat berupa cokelat, coklat muda, hitam, biru, merah, atau merah muda.
Selain itu, teksturnya juga beragam. Ada yang bisa terasa halus, berkerut, datar, atau menonjol, bahkan dapat ditumbuhi rambut.
Tahi lalat dapat muncul di berbagai bagian tubuh, termasuk kulit kepala, ketiak, bawah kuku, serta sela-sela jari tangan dan kaki.
Selain tahi lalat yang muncul selama masa pertumbuhan, ada pula congenital nevi, yakni tahi lalat yang sudah ada sejak lahir. Ukurannya dapat lebih besar dan menutupi sebagian wajah, batang tubuh, atau anggota gerak.
Seiring waktu, penampilan tahi lalat juga dapat berubah atau memudar. Perubahan hormonal selama masa remaja dan kehamilan bahkan dapat membuat sebagian tahi lalat menjadi lebih gelap dan besar.
Mengapa Ada yang Punya Banyak Tahi Lalat?
Jumlah tahi lalat memang dapat berbeda antarindividu dan sebagian besar memang tidak berbahaya. Namun, memiliki banyak tahi lalat menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan peningkatan risiko melanoma atau suatu jenis kanker kulit.
- Seseorang yang mempunyai lebih dari 50 tahi lalat sebagai salah satu faktor risiko tersebut.
- Di samping itu, risiko juga lebih tinggi pada sejumlah kelompok.
- Orang yang memiliki tahi lalat berukuran besar sejak lahir.
- Orang dengan tahi lalat tidak biasa atau atypical nevi.
- Memiliki riwayat pribadi atau keluarga dengan melanoma.
- Menggunakan lampu atau tempat tidur yang memancarkan radiasi ultraviolet.
Meski begitu, memiliki banyak tahi lalat bukan berarti seseorang pasti mengalami kanker kulit. Sebagian besar tahi lalat tidak berbahaya dan hanya sebagian kecil yang dapat berkembang menjadi kanker.
Bentuk Tahi Lalat Harus Diperhatikan
Hal yang penting bukan hanya jumlah, tetapi juga perubahan pada bentuk atau tampilannya, seperti yang tercantum pada laman Mayo Clinic.
A (Asymmetry) berarti bentuknya tidak simetris.
B (Border) mengacu pada tepi yang tidak beraturan, berlekuk, atau bergelombang.
C (Color) berarti terjadi perubahan warna, memiliki banyak warna, atau warna tidak merata.
D (Diameter) mengacu pada pertumbuhan baru yang berukuran lebih dari sekitar 6 milimeter.
Sementara E (Evolving) berarti tahi lalat mengalami perubahan ukuran, bentuk, warna, atau ketinggian. Rasa gatal atau perdarahan juga termasuk perubahan yang perlu diperhatikan.
Periksakan diri ke tenaga kesehatan apabila tahi lalat terlihat tidak biasa, tumbuh, atau mengalami perubahan lainnya.
Pemeriksaan menjadi penting karena perubahan pada tahi lalat dapat membantu mendeteksi kanker kulit, termasuk melanoma, sejak lebih awal.