Kasus ISPA pada Balita Imbas Karhutla Tembus 91 Ribu

Balita usia 0–5 tahun menjadi kelompok dengan jumlah kasus ISPA terbanyak, yakni 91.913 kasus.

Diterbitkan 05 November 2026, 18:30 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mencapai 401.586 kasus. Balita usia 0–5 tahun menjadi kelompok dengan jumlah kasus terbanyak, yakni 91.913 kasus.

Juru Bicara Kementerian Kesehatan (Kemenkes), drg Widyawati, menyampaikan bahwa angka tersebut merupakan data kumulatif dari tujuh provinsi yang mencakup 63 kabupaten/kota hingga 2 November 2026 pukul 16.00 WIB.

"Pada 2 November terdapat penambahan 3.906 kasus," kata Widyawati dalam pembaruan Info Bencana Terkini BNPB pada 4 November 2026 dipantau daring. 

Selain balita, ISPA juga banyak ditemukan pada kelompok anak usia 6–9 tahun dengan 87.704 kasus. Sementara itu, kelompok lansia berusia di atas 60 tahun tercatat sebanyak 56.092 kasus.

Kemenkes juga mencatat 590 kasus ISPA pada ibu hamil, 1.530 kasus pada penderita asma atau penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), serta 8.086 kasus pada pekerja yang beraktivitas di luar ruangan.

Kasus ISPA Sampai Masuk RS Naik di Dua Provinsi

Berdasarkan pemantauan di lima provinsi, perkembangan kasus ISPA sampai menjalani perawatan di rumah sakit menunjukkan tren yang berbeda. Tiga provinsi mengalami penurunan kasus, yakni Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, dan Riau.

Sementara itu, peningkatan kasus masih terlihat di Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat.

Selain ISPA, masyarakat juga perlu mewaspadai pneumonia. "Penyakit ini merupakan gangguan kesehatan serius yang membutuhkan penanganan medis, terutama pada kelompok rentan seperti balita, lansia, serta masyarakat dengan penyakit penyerta atau komorbid," tutur Widyawati.

IDAI Serukan Perlindungan untuk Paru Anak-Anak Indonesia

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan bahwa perlu kerja bersama untuk melindung kesehatan pernapasan anak dari asap karhutla. 

"Ingatlah bahwa anak-anak kita berhak menghirup udara bersih dan tumbuh sehat, bukan beradaptasi dengan lingkungan yang tidak sehat. Mari bersama—dokter, media, dan masyarakat—menjadi garda terdepan dalam melindungi paru-paru anak Indonesia," tutur Ketua Pengurus Pusat IDAI, DR. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp. Kardio(K).

Karhutla bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga ancaman serius bagi kesehatan anak. Paparan kabut asap dapat menurunkan kualitas udara. Salah satu zat berbahaya yang perlu diwaspadai adalah partikel halus PM2,5 yang dapat masuk hingga bagian terdalam paru-paru, memicu peradangan, dan melemahkan mekanisme pertahanan saluran pernapasan.

"Karhutla bukan sekadar bencana lingkungan—ini adalah krisis kesehatan anak yang berlangsung perlahan dan sering luput dari perhatian. Kabut asap menurunkan kualitas udara, dan partikel halus PM2,5 dapat masuk hingga ke bagian terdalam paru, memicu peradangan, dan melemahkan mekanisme pertahanan saluran napas," tegas Piprim.

Kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus meliputi bayi, balita, anak dengan gizi kurang, anak yang memiliki riwayat asma atau penyakit jantung bawaan, serta anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap.

Piprim menegaskan, upaya melindungi anak dari dampak karhutla membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Pemerintah, tenaga kesehatan, media, dan masyarakat perlu bekerja sama dalam mencegah dampak kesehatan akibat paparan asap.

"Karhutla adalah masalah bersama—pencegahannya membutuhkan kolaborasi pemerintah, tenaga kesehatan, media, dan masyarakat. Media adalah jembatan antara informasi berbasis bukti dan masyarakat luas, mulai dari deteksi dini tanda bahaya," ujarnya.