Double Protein Tak Bikin Anak Lebih Tinggi, Dokter Ungkap Faktanya

Prof Aman Pulungan sebut konsumsi protein berlebihan malah memperberat kerja ginjal.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 23 September 2026, 08:00 WIB
Menu dengan double protein setiap makan (Foto: Unsplash.com/ Tanaphong Toochinda)

Liputan6.com, Jakarta - Banyak orangtua mengira semakin banyak protein atau double protein yang diberikan kepada anak, semakin besar pula peluang tumbuh tinggi. Faktanya, konsumsi protein pada anak itu terpenting cukup.

"Saya tidak tahu dari mana ilmu yang menyebut kalau memberi banyak protein itu buat anak jadi tinggi. Yang benar adalah memberikan anak protein yang cukup, itu yang betul," kata dokter spesialis anak subspesialis endokrinologi Prof. Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan, SpA, Subsp End., FAAP, FRCPI. 

Prof Aman menjelaskan secara genetik manusia tidak terbiasa untuk bekerja keras menyaring lebih banyak sisa makanan yang mengandung protein. Ia pernah menangani anak yang mengonsumsi 400-500 gram protein dalam sehari, malah berujung merusak ginjal. 

Di samping itu, tubuh manusia juga memerlukan asupan nutrisi lain seperti karbohidrat, vitamin, mineral sampai lemak.

"Memang kalau anak kita kekurangan protein, ada yang mengarah pada malnutrisi namanya. Tapi bukan berarti, kalau kita kasih protein berlebihan, anak akan lebih tinggi. Tidak begitu," ujarnya mengutip Antara.

Fokus Penuhi Gizi Seimbang Anak

Prof Aman mengungkapkan lebih baik orangtua fokus memenuhi keseimbangan gizi anak dengan menghadirkan berbagai variasi makanan dalam satu piring untuk dimakan.

Makanan untuk anak pun tak harus mahal. Sumber protein misalnya, tak harus salmon atau daging sapi. Indonesia sebagai negara bahari yang besar memiliki lebih banyak variasi gizi yang bisa diberikan pada anak seperti melalui pengolahan ikan kembung.

Ayam dan telur juga termasuk sumber protein hewani yang baik. Tempe dan tahu juga mengandung protein nabati.

 

Bahas soal Susu dan Minyak Ikan

Prof Aman juga tidak setuju apabila susu dan minyak ikan yang kini banyak dijual di apotek dapat membantu anak tumbuh lebih tinggi jika dikonsumsi setiap hari.

Susu, terutama susu segar baik bagi tubuh karena mengandung kalsium. Tidak jadi masalah apabila tidak bisa disajikan setiap hari. Konsumsi susu yang dianjurkannya pun cukup satu sampai dua gelas sehari.

"Yang jelas 2 tahun pertama itu harus ASI. Kalau anak mau tambahan susu di atas usia 1 tahun boleh, misalnya fresh milk, bukan susu formula. Kenapa tidak apa-apa kalau tidak ada? karena usia 1 tahun anak sudah ikut makanan rumah tangga," katanya.

"Memang vitamin D bagus, kalsium bagus dan kalau kekurangan anak akan pendek. Tetapi kalau normal, dikasih kalsium atau vitamin D berlebihan, itu tidak akan membuat tiba-tiba tinggi. Apa yang membuatnya tinggi? Hidup sesehat dan seideal mungkin, tidur cukup, olahraga cukup, makan cukup dan bahagia," tambahnya.

 

Orangtua Khawatir soal Tinggi Anak

Aman menyampaikan bagi orangtua yang khawatir terkait dengan pertumbuhan anaknya dapat segera berkonsultasi dengan dokter anak untuk mendapatkan penanganan yang tepat sesuai dengan keluhan yang terlihat.

Nantinya para dokter akan menyesuaikan obat atau vitamin yang sesuai dengan kondisi anak, termasuk mendeteksi apabila anak memiliki kelainan tulang.

"Jadi pemeriksaan harus detail, misalnya anak kekurangan kalsium, kita kasih seluruh vitamin itu kan tidak bisa, harus kita kasih vitamin D, apalagi tulang juga bisa keropos, patah-patah misalnya, tidak bisa dikasih hal-hal lain," demikian Prof. Aman.

 

 

 

 

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya