Liputan6.com, Jakarta - Masyarakat diminta tidak perlu berlebihan terkait peningkatan kasus influenza A di Indonesia. Virus influenza A(H1N1) yang saat ini beredar merupakan turunan dari virus pandemi H1N1 2009 yang telah mengalami perubahan genetik.
Hal itu seperti disampaikan Guru Besar Departemen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) UGM, Profesor dr Tri Wibawa, PhD., SpMK(K).
Advertisement
“Temuan influenza A pada bulan Agustus 2026 yang meningkat, tidak perlu ditanggapi berlebihan, meskipun tetap saja perlu disiapkan mitigasi risikonya,” jelas Tri mengutip laman UGM.
Tri menerangkan bahwa influenza umumnya disebabkan oleh virus influenza tipe A dan B.
Gejala yang muncul biasanya antara lain adalah demam atau disertai rasa menggigil, batuk, sakit tenggorokan, hidung berair atau tersumbat, nyeri otot atau seluruh tubuh, sakit kepala, serta rasa lelah.
Pada kelompk dengan faktor risiko maka lebih tinggi mengalami komplikasi akibat influenza. Kelompok yang dimaksud adalah lansia berusia di atas 65 tahun, anak-anak di bawah lima tahun, orang dengan penyakit kronis, serta mereka yang mengalami penurunan sistem kekebalan tubuh.
Untuk mencegah atau mengurangi risiko penularan, Tri mendorong masyarakat untuk menerapkan sejumlah langkah pencegahan sederhana yakni:
- Menjaga pola hidup sehat perlu dibarengi dengan penerapan etika batuk dan bersin
- Mencuci tangan secara rutin
- Penerapan etika batuk dan bersih.
- Menghindari kontak erat dengan orang yang sedang mengalami influenza
- Penggunaan masker juga disarankan khususnya ketika seseorang sedang sakit, agar risiko penularan kepada orang lain dapat dikurangi.
- Vaksinasi influenza dapat diberikan, terutama kepada kelompok masyarakat yang rentan mengalami komplikasi.