Lari dan HYROX Ngetren, Dokter: Jangan Abaikan Kondisi Jantung

Memaksakan diri berolahraga berat seperti lari jarak jauh (maraton) tanpa mengetahui riwayat kesehatan itu berisiko.

oleh Benedikta DesideriaDiterbitkan 24 September 2026, 07:30 WIB
Ilustrasi lari jarak jauh, dokter ingatkan jangan abai kondisi jantung. (Photo by sporlab on Unsplash)

Liputan6.com, Jakarta - Tren olahraga intensitas tinggi seperti lari jarak jauh dan HYROX tengah digandrungi masyarakat. Namun, antusiasme berolahraga sebaiknya tetap diimbangi dengan mengenali kondisi tubuh, termasuk memastikan tekanan darah dan kesehatan jantung sebelum meningkatkan intensitas latihan.

Dokter spesialis jantung subspesialis aritmia mengingatkan masyarakat terkait fenomena 'mendadak jadi atlet' di tengah tren olahraga intensitas tinggi. Ia melihat warga yang antusias berolahraga sebagai hal yang positif tapi ia sayangkan hal itu kerap tidak dibarengi dengan pemahaman atas batas kemampuan tubuh.

"Banyak yang begitu memakai jersey, langsung merasa menjadi atlet mendadak dan tidak bisa mengukur kemampuan diri sendiri. Olahraga itu yang penting niatnya untuk bergerak, bukan harus selalu berkompetisi," kata Rizky dalam konferensi pers Hari Jantung Sedunia 2026 di Jakarta, Rabu (23/9/2026).

Rizky memaksakan diri berolahraga berat tanpa mengetahui riwayat kesehatan dapat memicu henti jantung mendadak di luar rumah sakit (out-of-hospital cardiac arrest atau OHCA). Terutama jika seseorang memiliki faktor risiko tersembunyi seperti hipertensi atau gangguan irama jantung (atrial fibrilasi).

Senada dengan hal itu, Ketua Bidang Komunikasi Yayasan Jantung Indonesia (YJI) Iwet Ramadhan menyoroti banyaknya pegiat olahraga high-impact yang abai terhadap pemeriksaan tensi dan skrining awal kardiovaskular.

"Banyak yang berolahraga high-impact, semua lari, semua ikut HYROX, tapi tidak memperhatikan tensinya dan tidak memperhatikan kesehatan jantungnya, sehingga akhirnya terjadi cardiac arrest," ujar Iwet di kesempatan yang sama.

Ajang Lari

Guna mengikis stigma bahwa olahraga harus selalu ekstrem dan kompetitif, PERKI (Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia) bersama YJI akan menggelar ajang World Heart Day Run 2026 dengan rute 5 kilometer di kawasan Gelora Bung Karno (GBK) dan Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, pada 27 September mendatang.

Ajang lari tersebut dirancang dengan konsep non-kompetitif (non-competitive run) untuk mengedukasi publik bahwa aktivitas fisik bertujuan menyehatkan tubuh secara bertahap, bukan ajang adu cepat yang membahayakan keselamatan.

Selain lari santai, rangkaian peringatan Hari Jantung Sedunia 2026 juga akan diisi dengan pelatihan massal Bantuan Hidup Dasar (BHD) atau resusitasi jantung paru bagi masyarakat awam.

"Selama ini kalau ada orang pingsan atau henti jantung di lapangan, masyarakat kerap bingung dan hanya menepuk-nepuk atau mengangkat korban secara keliru. Padahal, penanganan BHD yang tepat dan cepat pada menit-menit awal sangat menentukan peluang keselamatan korban," tutur Rizky.

Berdasarkan data medis, penyakit kardiovaskular menyerang kelompok lanjut usia, bahkan kian mengintai kelompok usia 20 hingga 45 tahun, dengan proporsi kasus tertinggi mencapai 80 persen pada laki-laki akibat kombinasi hipertensi tak terkontrol, kolesterol tinggi, serta kebiasaan merokok.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya