Liputan6.com, Jakarta - Respons setiap tubuh terhadap kontrasepsi berbeda-beda. Maka dari itu pemilihan metode kontrasepsi perlu disesuaikan dengan kondisi kesehatan dan kebutuhan.
"Ketika istri mengatakan misalnya kepada suami, 'Pak, saya merasa tidak nyaman dengan KB itu'. Jangan jawab 'Itu cuma perasaan Ibu', justru itu keluhan. Itu adalah saat yang tepat untuk berdiskusi dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan," kata dokter spesialis obstetri dan ginekologi, Indra Tarigan.
Advertisement
Indra menjelaskan penggunaan kontrasepsi hormonal pada perempuan dapat menimbulkan respons yang berbeda. Mulai dari perubahan pola haid, flek, perubahan suasana hati, perubahan berat badan, hingga penurunan libido.
"Jadi jangan membandingkan. Artinya gini, teman saya pakai IUD itu enggak apa-apa, tapi saya kok sakit? Karena memang bisa berbeda-beda. Setiap perempuan itu mempunyai kondisi medis dan respon tubuh yang berbeda-beda," ujar Indra dalam Webinar Nasional KB Pria Seri Ketiga Dalam Rangka Hari Kontrasepsi Sedunia 2026.
Keluhan yang muncul setelah menggunakan kontrasepsi sudah seharusnya menjadi kesempatan bagi pasangan untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
"Karena itu, pilihan kontrasepsi yang ideal itu bukan hanya berdasarkan cerita tetangga atau cuplikan-cuplikan di media sosial, melainkan lebih berdasarkan kondisi kesehatan dan kebutuhan pasangan," kata Indra mengutip Antara.
Indra menjelaskan bahwa selain kontrasepsi hormonal, terdapat metode non-hormonal seperti IUD. Pada sebagian perempuan, terutama pada masa awal penggunaan, IUD dapat menimbulkan keluhan seperti kram atau perubahan jumlah perdarahan. Namun, sekali lagi respons tubuh setiap perempuan dapat berbeda.
KB Pria Juga Ada
Selain KB untuk perempuan, Indra mengatakan pilihan kontrasepsi juga tersedia bagi pria.
"Jadi ada tiga yang bisa dipilih, yang pertama ada kondom, ada MOP (Metode Operasi Pria), dan ada senggama terputus," ujarnya.
Ia mengatakan kontrasepsi hormonal untuk pria masih dalam tahap penelitian dan belum direkomendasikan, sementara kondom, Metode Operasi Pria (MOP) atau vasektomi, serta senggama terputus, menjadi pilihan yang dapat dipertimbangkan.
Indra menekankan pemilihan kontrasepsi perlu menjadi pembicaraan bersama pasangan, termasuk dengan mempertimbangkan kondisi kesehatan ibu, kondisi ekonomi keluarga, serta metode KB yang paling sesuai.
"Idealnya, pasangan itu duduk bersama membicarakan kapan ingin punya anak, berapa jumlah anak yang direncanakan. Bagaimana kondisi kesehatan ibu, bagaimana kondisi ekonomi keluarga, misalnya metode KB apa yang paling sesuai," ujarnya.