Liputan6.com, Kota Bekasi - Wali Kota Bekasi, Dr. Tri Adhianto Tjahyono, mengatakan, pengembangan sektor kesehatan perlu berjalan seiring dengan perkembangan Kota Bekasi yang kini memiliki lebih dari 2,6 juta penduduk.
"Kota Bekasi akan terus berupaya dan berkomitmen untuk pengembangan kesehatan yang menjadi fokus utama dari program kita. Untuk saat ini harapan hidup sudah mencapai 80 tahun, karena itulah kesehatan bersamaan dengan fasilitasnya perlu didukung dan dikembangkan secara konsisten," kata Tri.
Advertisement
Menurut Tri, penguatan layanan kesehatan tidak hanya berkaitan dengan pembangunan gedung dan penggunaan teknologi.
Kenyamanan lingkungan, keamanan pasien, kapasitas sumber daya manusia, serta standar pelayanan juga menjadi bagian penting dalam memberikan layanan kepada masyarakat.
Jumlah penduduk yang besar membuat kebutuhan terhadap kapasitas dan pilihan layanan kesehatan di Kota Bekasi ikut meningkat.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Bekasi, jumlah penduduk di wilayah tersebut telah mencapai lebih dari 2,6 juta jiwa.
Salah satu upaya memperkuat kapasitas layanan kesehatan dilakukan Siloam Hospitals Sentosa melalui pengembangan fasilitas dan layanan medis. Pembangunan Gedung B rumah sakit tersebut telah beroperasi secara bertahap sejak Februari 2025.
Ekspansi tahap pertama yang selesai pada April 2026 mencakup sejumlah fasilitas, mulai dari rawat inap, Instalasi Gawat Darurat (IGD), Unit Perawatan Intensif (ICU), poliklinik, rehabilitasi medis, farmasi hingga lobi utama.
Pengembangan tersebut membuat kapasitas tempat tidur rumah sakit tersebut meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi 120 tempat tidur.
Dengan penambahan ini, rumah sakit dapat melayani lebih banyak pasien rawat inap, termasuk mereka yang membutuhkan perawatan setelah tindakan medis maupun pemantauan intensif.
Pilihan Layanan Medis Semakin Beragam
Selain meningkatkan kapasitas, rumah sakit tersebut juga memperluas pilihan layanan medis, seperti laparoskopi, Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy (ESWL), Electroencephalography (EEG), Interventional Pain Management, Klinik Vaksinasi, serta Layanan Tumbuh Kembang Anak.
Laparoskopi merupakan prosedur minimal invasif dengan sayatan lebih kecil, sedangkan ESWL menjadi pilihan penanganan batu saluran kemih tanpa sayatan. Adapun EEG membantu dokter mengevaluasi kondisi neurologis pasien.
Hospital Director Siloam Hospitals Sentosa dr. Kristianus Cahyono, MM, EMBA mengatakan, pengembangan fasilitas dilakukan berdasarkan aspirasi dan kebutuhan masyarakat yang dihimpun melalui berbagai kanal.
"Termasuk Siloam Online Feedback Aggregator System (SOFAS), Focus Group Discussion (FGD), maupun secara langsung," kata Kristianus.
Menurutnya, pengembangan gedung tidak hanya ditujukan untuk menambah kapasitas, tetapi juga memperluas kontribusi rumah sakit bagi masyarakat.
"Kami ingin hadir sebagai mitra kesehatan masyarakat, tidak hanya melalui pelayanan kuratif, tetapi juga edukasi kesehatan, upaya promotif dan preventif, serta berbagai program sosial yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat di sekitar kami," ujarnya.
Pengembangan fasilitas kesehatan tersebut akan dilanjutkan melalui ekspansi tahap kedua, yang mencakup penambahan ruang operasi, ICU, serta 30 tempat tidur rawat inap.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperluas kapasitas layanan seiring kebutuhan kesehatan masyarakat Kota Bekasi yang terus berkembang.
Untuk memperluas akses layanan, rumah sakit tersebut juga membangun kolaborasi dengan pemerintah daerah, BPJS, perusahaan asuransi, korporasi, fasilitas kesehatan, dan mitra lainnya.