Benjolan di Payudara Belum Tentu Kanker, Jangan Panik tapi Segera Periksa

Daripada overthinking soal benjolan di payudara sebaiknya segera diperiksakan untuk mengetahui apa sebenarnya. Tak selalu kanker.

Diterbitkan 26 September 2026, 17:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Mendapati benjolan yang ada di payudara bukan berarti pasti kanker. Meski begitu, ketika merasakan ada benjolan tetap perlu segera diperiksa agar penyebabnya dapat diketahui.

“Kalau ada benjolan, jangan panik. Tidak semua benjolan itu kanker. Tapi jangan juga ditunda, harus segera diperiksa supaya mendapatkan terapi yang tepat,” kata dokter spesialis bedah konsultan onkologi, Amir Juliansyah dalam program Healthy Hour Liputan6 bersama EMC yang tayang pada Sabtu (26/9/2026).

Benjolan, kata Amir, memang dapat menjadi salah satu gejala kanker payudara. Pada sebagian kasus, benjolan tidak menimbulkan rasa sakit sehingga seseorang mungkin menganggapnya tidak berbahaya. Tidak adanya nyeri bukan berarti benjolan dapat diabaikan. Pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui apakah benjolan tersebut merupakan kondisi jinak atau membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Setelah dokter memeriksa bakal diikuti dengan pemeriksaan lain. Pada perempuan di bawah 40 tahun dilakukan pemeriksaan USG mammae. Sementara, pada perempuan di atas 40 dilakukan pemeriksaan mammografi untuk mendeteksi kelainan pada jaringan payudara.

Bila dokter melihat ada kecurigaan keganasan, maka langkah selanjutnya adalah biopsi. Lalu, pemeriksaan imunohistokimia untuk mengetahui karakteristik biologis kanker, yang menjadi salah satu dasar dalam menentukan pengobatan.

“Dari biopsi kita bisa tahu ini kanker atau bukan, kemudian jenisnya apa, grading atau stadium apa. Setelah itu dilakukan pemeriksaan imunohistokimia untuk melihat biologinya,” jelas dokter yang praktik di RS EMC Pekayon Bekasi ini.

Pada kondisi tertentu, pemeriksaan tambahan seperti PET/CT Scan dapat direkomendasikan untuk membantu mengetahui penyebaran kanker ke bagian tubuh lain.

"Jika ada indikasi medis yang direkomendasikan itu pada kanker stadium 2B. Lalu, pada 2A juga bisa tapi selektif, misalnya ada kecurigaan penyebaran, seperti pasien mengeluhkan sering sakit kepala, sakit tulang. Jadi, walaupun stadium awal tapi kalau ada kecurigaan kita anjurkan PET/CT Scan," tutur Amir.

 

 

PET/CT Scan yang Nyaman untuk Pasien Kanker

Pemeriksaan PET/CT Scan dengan teknologi terbaru yakni Biograph Vision Quadra memungkinkan proses pemindaian dengan dosis radiasi lebih rendah dibandingkan PET/CT Scan konvensional.

Menurut dokter Junan Imaniar Pribadi, Sp.KN-TM(K)., FANMB, dosis radiasi yang digunakan pada alat PET/CT Scan Quadra lebih rendah sehingga menjadi pertimbangan penting, terutama bagi pasien kanker yang membutuhkan pemeriksaan secara berkala.

“Dosis juga rendah, ini perbedaan signifikan. Radiasi ke pasien juga rendah,” ujar Junan.

Selain dosis radiasi, durasi pemeriksaan yang lebih singkat juga dinilai memberikan kenyamanan bagi pasien. Hal ini terutama relevan bagi pasien kanker yang mengalami nyeri atau kesulitan mempertahankan posisi dalam waktu lama.

Pemeriksaan menggunakan PET/CT Scan Quadra yang sudah ada di RS EMC Grha Kedoya whole body cuma butuh waktu 4 menit untuk bisa mengetahui ada tidaknya penyebaran kanker di tubuh. Jauh berbeda dibandingkan PET/CT Scan konvensional yang butuh waktu kisaran 30 menit.

“Kalau scan-nya cepat jadi lebih nyaman. Kalau pasien kanker itu duduk saja nyeri, pasien kanker itu enggak bisa tiduran lama. Jadi alat ini jauh lebih nyaman,” jelas Junan.

Selama pasien menjalani pemeriksaan dengan alat tersebut, bakal diperdengarkan musik yang menenangkan sehingga bisa relaks. 

"Namun, pada pasien yang memiliki claustrophobia itu bisa didiskusikan, sehingga bisa ada opsi sedasi," tutur dokter yang mendapatkan spesialis Kedokteran Nuklir dari Universitas Padjadjaran ini. 

Lewat pemindaian menggunakan PET/CT Scan, kata Junan, maka hasilnya dapat membantu tim medis untuk:

  • Menentukan Lokasi Utama: Menemukan sumber primer di mana sel kanker pertama kali muncul.
  • Memetakan Penyebaran: Mendeteksi apakah sel tersebut sudah mulai bergerak menuju kelenjar getah bening atau organ jauh lainnya.
  • Akurasi Tindakan: Memberikan panduan bagi dokter bedah atau dokter onkologi radiasi agar tindakan yang diambil tepat mengenai sasaran, tanpa merusak jaringan sehat di sekitarnya secara berlebihan.