Merokok di Luar Rumah Tak Cukup Lindungi Anak dari Paparan Rokok

Merokok di luar rumah tak sepenuhnya melindungi anak dari paparan residu asap rokok.

oleh Kanaya Nanda PutriDiterbitkan 27 September 2026, 12:00 WIB
Merokok di luar rumah tak selalu membuat anak terbebas dari paparan rokok. Residu asap dapat menempel di tubuh, rambut, dan pakaian, lalu terbawa pulang dan mengenai anggota keluarga. (bahaya asap rokok/copyrigt: unsplash/phillipe goulet)

Liputan6.com, Jakarta - Orangtua mungkin merasa sudah melindungi anak dengan merokok di luar rumah. Namun, residu asap rokok yang menempel di tubuh, rambut, dan pakaian dapat ikut terbawa pulang dan menjadi sumber paparan bagi anak, terutama bayi yang masih rentan.

Dokter keluarga Prodia, Kristin Tjandra, menjelaskan, paparan rokok terhadap orang di sekitar perokok dapat terjadi melalui secondhand smoke, yaitu asap rokok yang terhirup oleh orang lain di sekitar perokok.

Dalam kondisi tertentu, orang yang menjadi perokok pasif juga dapat mengalami gangguan kesehatan akibat paparan tersebut.

"Kadang-kadang sebenarnya rokok pasif lebih rentan. Tapi bukan berarti yang pertama aja tidak ya. Tetap ya," ujar Kristin di Jakarta pada Kamis (24/9/2026).

Dia, mencontohkan, paparan asap rokok dari lingkungan dapat berkaitan dengan gangguan pada saluran pernapasan. Salah satunya pneumonia pada anak ketika terdapat anggota keluarga yang merokok di lingkungan rumah.

"Banyak yang akhirnya menjadi pneumonia pada anak-anak dengan pencetusnya adalah orang tua atau ada seseorang di rumahnya itu merokok," katanya.

Asap Rokok Bisa Terbawa Pulang

Paparan rokok tidak selalu terjadi ketika seseorang berada di dekat perokok yang sedang mengisap rokok. Kristin juga menyoroti residu asap rokok yang dapat tertinggal setelah rokok dimatikan.

Kondisi ini menjadi perhatian ketika seseorang merokok di luar rumah, kemudian kembali dan berinteraksi dengan anggota keluarga, terutama anak-anak.

Residu rokok dapat menempel pada tubuh, rambut, maupun pakaian. Artinya, seseorang yang merokok di luar rumah tetap dapat membawa residu tersebut ke dalam rumah.

"Pernah nggak membayangkan si asapnya itu masih ada di badan? Masih ada di rambut? Terus apa di rumah? Menggendong anak ya? Bayi kan ya? Rentan sekali si bayi ini," ujarnya.

Oleh sebab itu, kebiasaan merokok di luar rumah tidak serta-merta menghilangkan kemungkinan anggota keluarga terkena paparan residu rokok.

Hal ini terutama perlu diperhatikan ketika perokok tinggal bersama anak atau bayi yang masih rentan terhadap gangguan pernapasan.

Bersihkan Diri Sebelum Berinteraksi dengan Anak

Bagi orang yang masih merokok, Kristin menekankan pentingnya melakukan langkah untuk mengurangi paparan residu rokok terhadap anggota keluarga.

Setelah pulang ke rumah, perokok sebaiknya tidak langsung menyentuh atau menggendong anak. Tubuh dan pakaian perlu dibersihkan terlebih dahulu sebelum kembali berinteraksi dengan keluarga.

"Pada saat Anda pulang ke rumah, oke, anak Anda minta gendong pun no touch. Oke, jangan menyentuh mereka," ujar Kristin.

Orang yang merokok juga sebaiknya mengganti atau mencuci pakaian yang digunakan setelah merokok. Pakaian tersebut sebaiknya dipisahkan dari pakaian lain.

Menurut Kristin, membersihkan tubuh dan pakaian dapat membantu mengurangi residu yang masih menempel sebelum seseorang kembali berinteraksi dengan anggota keluarga.

Perokok Pasif Tetap Perlu Mendapat Perhatian

Paparan rokok di lingkungan perlu menjadi perhatian karena dampaknya tidak hanya berkaitan dengan orang yang merokok.

Anggota keluarga yang tidak merokok, terutama anak-anak dan bayi, tetap dapat terpapar melalui asap maupun residu rokok yang terbawa ke lingkungan rumah.

Bagi Kristin, menghentikan kebiasaan merokok bukan perkara mudah bagi sebagian orang, terutama jika sudah berlangsung lama. Namun, upaya mengurangi paparan terhadap anggota keluarga tetap dapat dilakukan melalui perubahan kebiasaan.

Dengan memahami perbedaan secondhand dan thirdhand smoke, keluarga dapat lebih menyadari bahwa paparan rokok tidak selalu terlihat atau terjadi ketika seseorang sedang mengisap rokok.

Residu yang tertinggal dan terbawa ke rumah juga perlu diperhatikan, terutama ketika terdapat anak kecil atau bayi di dalam keluarga.

Dokter Tegaskan Pentingnya Berhenti Merokok

Berangkat dari situasi tersebut, Kristin turut mengingatkan bahwa berhenti merokok tetap penting meskipun seseorang telah merokok dalam waktu lama.

Menurutnya, semakin cepat seseorang berhenti, semakin besar kesempatan untuk mencegah kerusakan terus bertambah.

“Lebih baik udah, kalau memang sudah pernah di fase (menyakitkan) itu, ayo sudahi. Karena semakin lama fase dan bertobatnya nih ya, pemulihannya akan semakin lama sebetulnya,” ujarnya.

Dia, mencontohkan, seseorang yang baru merokok selama satu tahun masih memiliki kesempatan untuk menghentikan kebiasaan tersebut lebih awal.

Sementara pada orang yang telah merokok selama 20 tahun, kerusakan yang sudah terjadi belum tentu dapat kembali sepenuhnya seperti kondisi normal.

"Setidaknya, kerusakannya tidak semakin bertambah. Walaupun kita tidak berharap, akan pemulihan normal lagi 100%. Rada impossible," ujarnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya