Liputan6.com, Jakarta - Ngorok atau mendengkur saat tidur kerap dianggap sebagai hal biasa, terutama ketika tubuh sedang kelelahan. Padahal, anggapan bahwa ngorok hanya disebabkan rasa capek tidak sepenuhnya benar.
Dokter Spesialis Kesehatan Tidur, dr. Andreas Prasadja, RPSGT, mengatakan bahwa ngorok sesekali memang dapat terjadi ketika seseorang sedang kelelahan. Namun, jika mendengkur terjadi hampir setiap kali tidur, kondisi tersebut perlu diwaspadai.
Advertisement
"Kalau sesekali ngorok memang benar lagi capek. Kalau setiap tidur ngorok, nah, ini yang mesti kita waspadai, enggak boleh diabaikan. Berarti ada risiko kesehatan," ujar Andreas.
Menurut Andreas, mendengkur yang terjadi terus-menerus juga dapat berkaitan dengan sleep apnea. Kondisi tersebut justru bisa membuat seseorang mengalami rasa kantuk berlebihan pada siang hari atau hypersomnia.
"Jangan-jangan kalau terus-terusan ngoroknya yang bikin capek. Karena mendengkur atau sleep apnea kan bikin hypersomnia, bikin ngantukan," tambahnya.
Kualitas Tidur Bukan Sekadar Lama Tidur
Masalah tidur tidak hanya berkaitan dengan kebiasaan mendengkur. Banyak orang juga menganggap tidur berkualitas berarti bisa terlelap sepanjang malam tanpa sekali pun terbangun.
Padahal, kualitas tidur ditentukan oleh sejumlah aspek. Dokter Spesialis Pernapasan dan Tidur, Dr. Nick Antoniades, menjelaskan, tidur yang baik mencakup durasi, waktu tidur, jenis tidur yang diperoleh, hingga bagaimana kondisi tubuh ketika seseorang bangun.
"Tidur yang baik bukan hanya tentang tidak terbangun. Tidur juga berkaitan dengan durasi, waktu, dan jenis tidur yang tepat, serta bagaimana perasaan kita saat bangun," ujarnya.
Pada orang dewasa, kebutuhan tidur umumnya berada pada kisaran tujuh sampai sembilan jam setiap malam. Namun, kata Antoniades, kebutuhan tersebut dapat berbeda berdasarkan usia.
Tidur juga terdiri atas beberapa tahapan, mulai dari tidur ringan, tidur dalam atau slow-wave sleep, hingga tidur REM atau fase tidur bermimpi. Masing-masing tahapan memiliki fungsi berbeda bagi tubuh.
Tidur dalam, misalnya, berperan dalam proses pemulihan tubuh, termasuk pelepasan hormon pertumbuhan dan perbaikan sistem kekebalan. Sementara itu, tidur REM berkaitan dengan aktivitas mental dan memori.
Oleh sebab itu, kualitas tidur tidak cukup dinilai hanya dari berapa lama seseorang berada di tempat tidur.
Jangan Langsung Panik Melihat Data Smartwatch
Penggunaan smartwatch untuk memantau tidur kini semakin umum. Perangkat tersebut dapat memberikan informasi mengenai durasi tidur hingga perkiraan waktu yang dihabiskan dalam fase tidur tertentu.
Namun, Antoniades mengingatkan pengguna agar tidak langsung panik ketika smartwatch menunjukkan jumlah tidur dalam yang rendah.
"Pengukuran tidur dalam melalui smartwatch cenderung menjadi bagian yang paling tidak akurat, dengan tingkat akurasi sekitar 50 persen. Jika smartwatch menunjukkan bahwa Anda kurang tidur dalam, tidak perlu langsung panik," ujarnya.
Menurutnya, tidur dalam lebih banyak terjadi pada awal malam. Oleh sebab itu, waktu tidur yang tepat dan kondisi tidur yang tidak terganggu menjadi hal penting untuk membantu tubuh mendapatkan fase tidur tersebut.
Lingkungan Tidur Juga Berpengaruh
Kondisi lingkungan kamar tidur turut memengaruhi kualitas tidur. Suhu kamar yang terlalu hangat, misalnya, dapat mengganggu proses tidur.
Suhu tubuh inti secara alami biasanya turun sekitar 0,5-1 derajat Celsius pada malam hari. Oleh sebab itu, kondisi tempat tidur, termasuk kasur yang tidak membuat tubuh terlalu panas, dapat membantu menciptakan tidur yang lebih nyaman.
Selain faktor lingkungan, gangguan tidur tertentu juga dapat memengaruhi kemampuan seseorang mendapatkan tidur yang berkualitas. Sleep apnea dan restless leg syndrome, misalnya, dapat mengganggu tahapan tidur sehingga perlu mendapat penanganan.
Dengan demikian, tidur berkualitas tidak semata-mata berarti tidur lama atau tidak terbangun sepanjang malam. Durasi, waktu tidur, tahapan tidur, kondisi lingkungan, serta ada atau tidaknya gangguan tidur perlu diperhatikan secara menyeluruh.
Begitu pula dengan ngorok. Jika hanya sesekali dan berkaitan dengan kelelahan, kondisi tersebut bisa saja terjadi. Namun, jika mendengkur muncul terus-menerus setiap kali tidur, kebiasaan tersebut sebaiknya tidak diabaikan.
Indonesia menjadi negara pertama di luar Australia yang secara resmi menghadirkan DrRest®, kasur yang dikembangkan oleh empat dokter spesialis Australia dengan keahlian di bidang bedah tulang belakang, pernapasan dan tidur, osteopati, serta urologi.
Merek asal Australia ini diperkenalkan Massindo Group melalui showroom pertamanya di Indonesia Design District (IDD), PIK 2, Jakarta.
Empat dokter di balik pengembangannya adalah Ahli Bedah Ortopedi Tulang Belakang, Dr. Gerald Quan; Spesialis Pernapasan dan Tidur, Dr. Nick Antoniades; Osteopath, Dr. George Michael; serta Urolog, Dr. Peter Liodakis.
Menurut Jeffri, salah satu keunggulan kasur ini adalah desain bagian bahu yang dibuat terpisah sehingga dapat menyesuaikan posisi tubuh saat tidur menyamping.
Menurut Presiden Direktur Massindo Group, Jeffri Massie, kasur yang baik adalah yang sesuai dengan body profile itu. "Kasur DrRest memiliki fitur bahwa di bagian bahu ini terpisah. Bagian bahu terpisah dari bagian badan yang lain. Ini adalah bagian yang khusus, terpisah," kata Jeffri.
Lebih lanjut, dia, mengatakan,"Ini bisa mengikuti ketika tidur kita menyamping, sehingga bahunya bisa masuk sedikit supaya spine-nya lurus."