Kerap Bangun Malam untuk Kencing, Ini yang Perlu Diperhatikan

Kerap bangun malam untuk kencing? Kenali penyebab dan cara menjaga kualitas tidur agar tetap optimal.

oleh Aditya Eka PrawiraDiterbitkan 27 September 2026, 18:00 WIB
Kerap bangun malam untuk kencing dapat mengganggu kualitas tidur. Ahli urologi Dr. Peter Liodakis menjelaskan faktor yang perlu diperhatikan, mulai dari kafein hingga lingkungan tidur. (Foto: Ben Blennerhassett/Unsplash)

Liputan6.com, Jakarta - Kerap bangun malam untuk kencing atau buang air kecil sering dianggap sebagai hal yang wajar, terutama ketika usia bertambah. Padahal, jika terjadi berulang kali hingga mengganggu kualitas tidur, kondisi ini perlu diperhatikan.

Ahli urologi Dr. Peter Liodakis mengatakan bahwa keluhan harus bangun pada malam hari untuk buang air kecil cukup sering ditemuinya pada pasien. "Menariknya, Banyak pasien tidak mengalami masalah berarti pada siang hari, tetapi terganggu karena harus terbangun berulang kali pada malam hari," ujar Peter.

Kondisi buang air kecil pada malam hari dikenal sebagai nocturia. Frekuensinya dapat meningkat seiring bertambahnya usia karena kapasitas kandung kemih bisa menurun. Namun, menurut Peter, hal tersebut bukan berarti tidak dapat ditangani.

Melalui riwayat medis yang terperinci dan penyesuaian terhadap berbagai faktor yang berpengaruh, frekuensi seseorang terbangun pada malam hari dapat dikurangi.

"Ada pasien yang sebelumnya terbangun lima atau enam kali dalam semalam dan dapat berkurang menjadi satu atau dua kali. Perubahan tersebut dapat berdampak besar pada kualitas hidup," katanya.

Dia juga mengingatkan bahwa frekuensi buang air kecil pada malam hari perlu dilihat dalam konteks durasi seseorang berada di tempat tidur. Orang yang tidur selama 13 jam tentu memiliki peluang buang air kecil lebih sering dibandingkan mereka yang tidur selama lima sampai enam jam.

Oleh sebab itu, orang berumur 50 tahun ke atas yang terbangun dua kali setiap malam untuk kencing perlu memperhatikan apakah kondisi tersebut sudah memengaruhi kehidupan sehari-hari.

Perhatikan Konsumsi Kopi dan Cairan

Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah konsumsi kopi. Seiring bertambahnya usia, sensitivitas tubuh terhadap kafein dapat meningkat.

"Seseorang yang dahulu dapat mengonsumsi empat atau lima cangkir kopi tanpa masalah mungkin mulai mengalami gangguan setelah mengonsumsi dua atau tiga cangkir," ujar Peter.

Menghindari kafein menjelang malam dan membatasi konsumsi cairan berlebih pada malam hari dapat dipertimbangkan. Bagi orang yang mengonsumsi obat diuretik, waktu konsumsinya juga perlu diatur sesuai arahan dokter.

Selain kebiasaan tersebut, kualitas tidur dan lingkungan tidur juga perlu diperhatikan.

Kasur Juga Menjadi Bagian dari Lingkungan Tidur

Menurut Peter, perhatian terhadap lingkungan tidur sebaiknya tidak baru dilakukan ketika seseorang mengalami gangguan atau nyeri punggung. Lingkungan tidur yang baik dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kualitas istirahat.

"Menurut saya, kasur bukan hanya untuk orang yang sudah mengalami nyeri punggung. Kasur juga dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan dan mencegah munculnya masalah di masa depan," katanya.

Dia, menambahkan, seseorang yang ingin menjaga tubuh tetap sehat selama mungkin dapat mulai mengoptimalkan lingkungan tidur sejak dini.

Dengan demikian, kerap bangun malam untuk kencing tidak selalu harus dianggap sebagai bagian yang tidak terhindarkan dari proses penuaan.

Jika frekuensinya mulai mengganggu tidur atau aktivitas sehari-hari, kondisi tersebut perlu diperhatikan dan faktor-faktor yang memengaruhinya dapat didiskusikan dengan dokter.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya