Bed Rotting, Saat Rebahan Seharian Justru Bisa Ganggu Kesehatan

Bed rotting atau rebahan seharian terasa nyaman, tetapi bisa mengganggu tidur dan kesehatan.

oleh Kanaya Nanda PutriDiterbitkan 28 September 2026, 12:05 WIB
Bed rotting menjadi kebiasaan menghabiskan waktu berjam-jam di tempat tidur untuk beristirahat. Jika terlalu sering, kebiasaan ini justru dapat mengganggu pola tidur dan aktivitas sehari-hari. (Photo by Adrian Swancar on Unsplash)

Liputan6.com, Jakarta - Ada kalanya tubuh dan pikiran terasa begitu lelah hingga rasanya ingin menghabiskan seharian di tempat tidur. Bermain ponsel, menonton televisi, atau sekadar rebahan tanpa melakukan apa-apa terasa seperti cara paling mudah untuk memulihkan diri.

Kebiasaan ini dikenal sebagai bed rotting. Meski sekilas terlihat seperti bentuk istirahat yang menyenangkan, terlalu lama terjaga di tempat tidur justru dapat berdampak sebaliknya jika dilakukan terlalu sering.

Bed rotting merupakan istilah untuk menghabiskan waktu berjam-jam di tempat tidur sepanjang hari, bukan karena sedang sakit, melainkan karena membutuhkan waktu untuk beristirahat.

Menurut survei American Academy of Sleep Medicine pada 2024, lebih dari satu dari 10 orang di Amerika Serikat pernah mencoba bed rotting.

Kebiasaan ini lebih banyak dilakukan oleh Gen Z. Sekitar seperempat responden dari kelompok tersebut mengaku pernah melakukannya, dikutip dari WebMD, Senin (28/9/2026).

Bed Rotting Bisa Jadi Cara Beristirahat

Bagi sebagian orang, bed rotting dilakukan setelah melewati periode yang penuh tekanan. Berada di tempat tidur dapat menjadi kesempatan untuk berhenti sejenak dari pekerjaan, berbagai aktivitas harian, hingga tuntutan untuk terus menyelesaikan masalah.

Kebiasaan tersebut juga dapat memberikan rasa nyaman dan aman ketika seseorang sedang mengalami kelelahan secara emosional maupun fisik.

Sebagian orang bahkan merasa waktu tenang tersebut membantu mereka beristirahat sejenak dari banyak pikiran yang muncul dalam keseharian.

Namun, belum ada penelitian yang secara khusus mengkaji bed rotting. Meski begitu, kebiasaan ini memiliki kemiripan dengan mindfulness atau aktivitas “tidak melakukan apa-apa” yang dalam sejumlah penelitian dikaitkan dengan kesejahteraan.

Licensed clinical social worker di Maplewood, New Jersey, Amerika Serikat, Najamah Davis, mengatakan istirahat yang dilakukan secara sengaja, terutama di tempat tidur, dapat membantu tubuh melakukan pemulihan.

“Beristirahat dengan sengaja, terutama di tempat yang aman dan nyaman seperti tempat tidur Anda, dapat membantu sistem saraf Anda untuk pulih,” ujar Davis.

Sementara itu, konselor kesehatan mental berlisensi Veronica Lichtenstein menyebut bed rotting dalam jangka pendek dapat menjadi semacam jeda ketika seseorang merasa kewalahan. Namun, ia mengingatkan bahwa kebiasaan tersebut sebaiknya dilakukan sesekali, bukan menjadi rutinitas.

Terlalu Lama Rebahan Bisa Ganggu Pola Tidur

Masalah dapat muncul ketika waktu istirahat berubah menjadi kebiasaan menghabiskan berjam-jam dalam keadaan terjaga di tempat tidur.

Psikolog klinis sekaligus direktur program Behavioral Sleep Medicine di University of Utah, Amerika Serikat, Kelly Baron, PhD, MPH, mengatakan bed rotting bertentangan dengan sejumlah kebiasaan yang dianjurkan untuk menjaga kualitas tidur dan membantu mengatasi suasana hati yang rendah.

“Terlalu banyak menghabiskan waktu terjaga di tempat tidur dapat menyebabkan Anda membentuk ikatan negatif dengan tempat tidur,” kata Baron.

Orang yang melakukan bed rotting juga kerap menghabiskan waktu berjam-jam untuk menggulir media sosial.

Kebiasaan ini dapat membuat seseorang lebih banyak terpapar cahaya buatan pada malam hari dan kurang mendapatkan paparan cahaya alami pada siang hari. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat mengganggu ritme sirkadian atau siklus alami tidur dan bangun tubuh.

Bukan hanya pola tidur yang dapat terganggu. Terlalu lama berada di tempat tidur juga dapat membuat tubuh terasa kaku dan menurunkan tingkat energi.

Dari sisi kesehatan mental, kebiasaan ini berpotensi meningkatkan rasa terisolasi, menurunkan motivasi, dan memicu pola pikir negatif.

Davis mengatakan masalah dapat muncul ketika bed rotting berubah dari pilihan untuk beristirahat menjadi kebiasaan yang digunakan sebagai pelarian.

Bed rotting juga mulai menjadi masalah ketika dilakukan terlalu sering, sulit dihentikan, atau mengganggu kehidupan sehari-hari.

Kesulitan untuk bangun dari tempat tidur, berinteraksi dengan orang lain, memenuhi kebutuhan dasar, hingga mengabaikan pekerjaan atau tanggung jawab sehari-hari dapat menjadi tanda bahwa kebiasaan tersebut sudah perlu mendapat perhatian.

Tak Perlu Langsung Aktivitas Berat

Bagi orang yang ingin mengurangi kebiasaan bed rotting, Davis menyarankan untuk memulainya secara bertahap. Tidak perlu langsung melakukan aktivitas berat.

Membuka tirai, melakukan peregangan, menyalakan musik, berpindah ke sofa, atau berjalan kaki sebentar dapat menjadi langkah awal.

Lichtenstein juga menyarankan penggunaan timer atau pengatur waktu. Seseorang dapat memberikan waktu sekitar 20 menit untuk bersantai tanpa merasa bersalah, kemudian bangun dan melakukan satu aktivitas sederhana, seperti berjalan kaki atau mengobrol dengan orang terdekat.

Jika tetap membutuhkan waktu untuk beristirahat, Baron menyarankan mencari tempat lain selain tempat tidur. Dengan begitu, tempat tidur tetap lebih kuat dikaitkan dengan aktivitas tidur.

Pada akhirnya, beristirahat tetap penting. Namun, bentuk istirahat yang lebih beragam seperti berjalan-jalan, melakukan hobi dengan santai, menikmati alam, atau menjalin hubungan sosial ringan dapat menjadi alternatif.

Tujuannya bukan menghilangkan kenyamanan, melainkan menemukan cara beristirahat yang benar-benar membantu tubuh dan pikiran kembali pulih.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya